Gus Dur, Rhoma, MUI, dan goyang 'ngebor' Inul

Kamis, 12 Desember 2013 05:00 Reporter : Mohamad Taufik
Gus Dur, Rhoma, MUI, dan goyang 'ngebor' Inul Gus Dur. ©Reuters

Merdeka.com - Anda tentu ingat dengan kasus perseteruan antara Inul Daratista Vs Rhoma Irama pada 2003 silam. Aksi goyang "ngebor" yang menjadi ciri khas Inul menuai pro dan kontra, ada yang tetap memuji, ada pula yang menghujat habis-habisan. Rhoma, termasuk yang menghujat, dan menyerukan kepada televisi untuk memboikot Inul.

Saat itu Rhoma, yang kini menjadi capres PKB (partai yang didirikan Gus Dur) menghimpun sejumlah artis yang tergabung dalam Paguyuban Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) menyerukan agar stasiun televisi memboikot Inul. Dia menilai goyang "ngebor" telah melanggar batas kewajaran serta dianggap merusak moral bangsa.

Bukan hanya Rhoma, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga turut mendesak stasiun televisi untuk mencekal Inul. KH Ma’ruf Amin, yang ketika itu ketua Komisi Fatwa MUI berkomentar, "kalau goyang biasa yang berpengaruh (syahwat) saja haram, apalagi goyang semacam itu. Bukan hanya haram, tapi juga berbahaya."

Nah, di tengah kisruh kasus goyang "ngebor" itulah Gus Dur tampil membela Inul. Dia membela penyanyi yang mengawali karir dari panggung ke panggung itu tanpa menghiraukan hujatan dan kritikan dari berbagai pihak.

Seperti yang dituturkan oleh Imanulhaq dalam bukunya: "Fatwa Dan Canda Gusdur", waktu itu Kang Maman, demikian dia akrab disapa, bertanya kepada Gus Dur tentang alasan membela Inul. Gus Dur menjawab, "masyarakat sebaiknya memberikan peluang dan penilaian secara jujur dan apa adanya sebelum menjatuhkan vonis," katanya.

Penilaian jujur yang dimaksud Gus Dur adalah melepaskan dari berbagai tendensi kepentingan, baik kepentingan politik, ekonomi, agama, dan sebagainya. Dengan kata lain, Gus Dur menyerahkan "vonis" pencekalan Inul kepada masyarakat.

Topik pilihan: PKB | PBNU

"Jika suka, silakan lanjutkan dan jika tak suka, silakan pindahkan channel televisi kita, dan Inul akan tamat dengan sendirinya tanpa dicekal," kata Gus Dur kepada Maman.

Namun demikian, Gus Dur bukannya tidak menceramahi Inul. Seperti dikutip dari laman situs www.gusdur.net, dalam suatu kesempatan, Gus Dur pernah menasihati Inul agar menabung uang hasil menyanyi dan menyisihkan hartanya bagi kemanfaatan orang lain.

Selain itu, Gus Dur juga meminta Inul yang bernama asli Ainur Rokhimah, itu sekali-kali menyanyikan lagu kasidah. "Jangan Dangdut saja."

Ketika Gus Dur meninggal, Inul menjadi salah satu artis paling sedih. Dia menyesal karena belum sempat menjenguk almarhum, hingga ajal menjemputnya. Inul menganggap Gus Dur bukan hanya ulama, melainkan sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri.

"Bagi saya beliau sosok ulama bukan presiden, beliau bagi saya kiai. Aku melihat beliau saya anggap bapak sendiri, dia melindungi saya di Jakarta saat saya jadi fenomena dulu, dia bilang 'jangan takut selagi kamu benar.' Itu sampai saat ini saya bisa berdiri tegar menghadapi apapun juga," ujarnya.

Baca juga:

'Jug ijag ijug', humor Gus Dur naik kereta

Isu dan kasus-kasus ini pernah goyang pemerintahan Gus Dur

5 Kiai 'Khos' di sekeliling Gus Dur

Gus Dur jadi presiden ketika NKRI nyaris pecah

Humor Gus Dur: Menteri tak berpengalaman [mtf]

Topik berita Terkait:
  1. Gus Dur
  2. Bulan Gus Dur
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini