Guru MTS di Banyumas cabuli siswinya di ruang sanggar sekolah

Senin, 7 Maret 2016 15:32 Reporter : Darmadi Sasongko
Guru MTS di Banyumas cabuli siswinya di ruang sanggar sekolah Ilustrasi Pelecehan Seksual Anak. ©2015 Merdeka.com/Angeline Agustine

Merdeka.com - Seorang guru di salah satu madrasah tsanawiyah (MTS) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dilaporkan ke polisi karena melakukan tindak pidana pencabulan. Laporan tersebut dilakukan seorang korban, SK (14) yang merupakan siswi kelas VII MTS di Kecamatan Purwojati Banyumas, Senin (7/3).

Korban yang datang dengan didampingi tokoh pemuda setempat dan orangtuanya langsung menuju Markas Kepolisian Resor (Polres) Banyumas sekitar pukul 10.00 WIB. Dalam kesempatan tersebut, SK kemudian kejadian yang dialaminya kepada petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Banyumas. Seorang tokoh pemuda setempat, Wahyu Santoso mengemukakan kejadian tindak pencabulan tersebut terjadi dua kali terhadap korban.

"Pelakunya merupakan guru Bahasa Indonesia berinisial TP yang juga menjadi pembimbing ekstra kurikuler pramuka. Kejadian tindak pencabulan tersebut dilakukan pada tahun 2015 dan terkahir pada awal Februari 2016," kata Wahyu saat ditemui di Markas Polres Banyumas.

Wahyu mengemukakan, kejadian tersebut terjadi saat kegiatan ekstrakurikuler di sanggar pramuka sekolah tersebut. Menurut Wahyu, modus yang dilakukan guru tersebut adalah menyembuhkan orang yang kesurupan.

"Kejadiannya, saat itu SK pingsan dan kemudian dibawa ke ruang sanggar. Dalam ruang sanggar tersebut, korban hanya berdua dengan pelaku. Saat itulah, korban kemudian dicabuli pelaku," jelasnya.

Akibat pencabulan tersebut, korban mengalami trauma dan tidak masuk sekolah selama seminggu. Kepada Wahyu, korban mengaku berani melaporkannya karena sudah tidak kuat lagi dengan trauma yang dialami.

"Kami berusaha menolong karena memang banyak yang cerita tentang kejadian tersebut. Bahkan, dari pengakuan korban ada beberapa korban lain yang mengalami tindakan serupa oleh guru dan belum berani melapor," tukasnya.

Dikatakan Wahyu, kali pertama kasus tersebut mencuat, ada pihak-pihak yang ingin agar kasus ini tidak terekspos ke media. Wahyu kemudian menunjukkan surat yang isinya kesepakatan agar korban menandatangani kesepakatan damai agar tidak menuntut pelaku.

"Dalam perjanjian tersebut, korban diminta agar tidak menuntut perkara atau menyelesaikannya dengan damai. Dan pelaku bersedia untuk dimutasi dari sekolah tersebut serta memberikan bantuan pembiayaan penyembuhan kepada korban senilai Rp 1,5 juta," jelasnya.

Kepada petugas jaga, sebelum memberikan keterangan di unit PPA, SK mengaku setelah kejadian tersebut menceritakannya kepada seorang temannya. "Setelah kejadian saya sempat menceritakannya kepada teman saya. Nggak tahunya, teman yang saya ajak cerita itu juga pernah mengalami yang sama. Yang saya tahu korbannya ada lima sama saya," katanya.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Banyumas, Ajun Komisaris Andi Kadesma mengatakan hingga saat ini pihaknya akan melakukan pendalaman terkait kasus tersebut. "Karena ini baru laporan pertama, kami masih akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu," katanya.

Selain itu, ia juga mengemukakan masih mendalami kemungkinan adanya korban lain yang disampaikan korban. "Laporan ini akan kami lakukan pengembangan nantinya untuk memastikan adanya unsur pidana dalam kasus ini," tandasnya. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini