Guru JIS diperiksa Bareskrim terkait kasus kesaksian palsu

Senin, 21 September 2015 11:26 Reporter : Supriatin
Guru JIS diperiksa Bareskrim terkait kasus kesaksian palsu JIS. ©AFP PHOTO

Merdeka.com - Bareskrim Mabes Polri hari ini memeriksa guru Jakarta Intercultural School (JIS), Neil Bantleman, sebagai saksi atas laporan dari Sisca Tjiong, istri Ferdinant Tjiong yang juga guru JIS.

Siska melaporkan Neil ke Bareskrim pada Rabu (15/4) lalu, terkait dugaan penyampaian keterangan atau kesaksian palsu di bawah sumpah mengenai hasil visum dalam kasus pelecehan seksual di sekolah bertaraf internasional itu.

"Saya menemani klien saya, Neil Bantleman untuk diperiksa sebagai saksi. Kami hadir memenuhi panggilan penyidik sesuai laporan dari Sisca Tjiong, LP/495/IV/2015/Bareskrim," kata Hotman Paris Hutapea di Bareskrim Mabes Polri, Jaksel, Senin (21/9).

Penyampaian keterangan, dibuat terlapor tiga orangtua mantan guru JIS saat persidangan guru JIS, Ferdinant Tjiong. Termasuk soal ditemukannya bukti baru seorang dokter yang membuat pernyataan tertulis bahwa dokter yang menandatangani visum ternyata tidak pernah melakukan pemeriksaan medis untuk visum pada korban sodomi.

Hotman menjelaskan, belakangan diketahui tiga terlapor telah melarikan diri keluar negeri yakni Theresia Pipit ke Belgia, Dewi Reich ke Spanyol, dan Oguzkan Akar ke Jerman.

"Sepertinya semua ketakutan apabila terbongkar dugaan rekayasa pengaduan ada dugaan sodomi demi ambisi mendapatkan uang damai US$ 125 juta. Kami ada saksi lain juga (Ibu Doreen Biehle) yang akan membeberkan peranan OC Kaligis yang menyuruh orangtua pelapor guru JIS menciptakan tersangka baru dari guru JIS padahal tidak ada bukti," ujar Hotman.

Diketahui, laporan yang dilayangkan ke Bareskrim Polri didasari adanya keterangan dokter bedah dan dokter anastesi di Rumah Sakit di Singapura yang telah melakukan bius total dan pemeriksaan anus secara menyeluruh dengan hasil temuan bahwa anus anak normal atau tidak ditemukan tanda-tanda di sodomi.

"Akan tetapi beberapa minggu kemudian dikeluarkan visum untuk anak yang sama oleh oknum dokter-dokter di Indonesia yang juga berprofesi sebagai dokter bedah, namun dengan hasil yang berbeda," ungkap Hotman.

Terkait pelaporan ini, Hotman mengajukan pasal 242 KUHP tentang Sumpah Palsu dan Keterangan Palsu. Ini karena terindikasi adanya dugaan memberikan keterangan palsu di depan persidangan. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini