Geliat kupu-kupu malam di tengah kawasan industri Sukabumi

Minggu, 15 September 2013 16:36 Reporter : Dharmawan Sutanto
Ilustrasi. shutterstock

Merdeka.com - Setiap hari sekitar pukul 17.00 WIB, Jalan Raya Sukabumi menjadi macet parah. Bagi yang tidak terbiasa lewat jalur ini mungkin akan kaget.

Di jam tersebut, ribuan buruh pabrik yang didominasi perempuan bubar dan tumpah ruah di sepanjang jalan. Dan tentunya bukan satu dua pabrik saja, tetapi puluhan. Ribuan pekerja pabrik tersebut langsung disambut puluhan angkot, yang sejak 30 menit sebelumnya antre ngetem.

Selain menjadi buruh, beberapa pekerja pabrik tersebut ternyata ada juga yang memiliki profesi sampingan. Di antara mereka ternyata tidak sedikit yang bisa dibooking, alias si kupu-kupu malam. Mereka melayani setiap permintaan sang lelaki hidung belang, hanya untu mencari tambahan uang sakunya.

Namun sang kupu-kupu malam tidak begitu saja menawarkan jasanya, seperti daerah lainnya yang menjajakan diri di pinggir jalan, tempat prostitusi, atau tempat spa apalagi kafe. Bisnis esek-esek tersebut sangat tertutup, dan hanya dari mulut ke mulut saja.

Berawal dari seorang tukang ojek yang menepikan kendaraannya di depan pabrik tempat kerja sang kupu-kupu malam, dari sana lah awal transaksi dilakukan. Tukang ojek yang juga calo tersebut mulai memberikan penawaran, seperti apa kupu-kupu malam yang diinginkan baik dari segi usia, fisik maupun karakter. Semakin tinggi selera yang dicari, maka akan semakin melambung harga yang ditawarkan.

Salah satunya adalah Icha (24) pegawai salah satu pabrik garmen di kawasan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai wanita penghibur. Icha mengaku awalnya terjun ke dunia hitam tersebut lantaran kepincut teman-temannya yang bisa tampil modis, memiliki telepon pintar dan gadget bagus meski sama-sama kerja di pabrik.

"Awalnya sih Icha iri saja lihat teman-teman kerja di pabrik kok bisa pakai BB, Android, Tab dan penampilan mereka bisa beda gitu. Iya akhirnya Icha jadi ikutan, dan udah lima bulan jalaninnya, dengan gaji Rp 1,4 juta sebulan, Icha ngerasa enggak cukup yang akhirnya cari tambahan deh. Kayak gini hitung-hitung buat uang jajan, dan gaji Icha utuh jadinya," ujar wanita pemilik tato bunga dan kupu-kupu di sekujur tubuhnya tersebut, Sukabumi, Sabtu (14/9).

Soal Tarif, wanita yang mengaku berasal dari keluarga broken home ini tidak memasang harga muluk-muluk. Icha biasanya hanya minta bayaran Rp 300 ribu sekali kencan long time, alias sampai pagi. Namun selain itu, calon kumbangnya harus membelikan sebotol anggur hitam dioplos minuman suplemen dan minuman ringan.

"Kalau soal ongkos sih Icha gak permasalahin, yang penting bikin Icha nyaman, ada minuman AO, sebungkus rokok dan jangan kasar yang penting happy saja lah. Nantinya juga orang itu menghargai bahkan peduli terhadap Icha, dan dapat uang lebih deh. Paling sedikit sih biasanya Rp 300 ribu," tutur Icha dengan wajah tersipu malu.

Namun Icha menolak jika dirinya disebut PSK. Icha menyebut dirinya hanya sebatas teman penghibur, meskipun terkadang harus berakhir di ranjang.

"Icha ini bukan PSK lho iya, Icha wanita panggilan saja kayak begini, jujur enggak setiap hari Icha cari duit kayak gini. Paling cepet itu seminggu sekali kalau ada masalah saja, itu pun Icha milih-milih enggak sembarangan orang," tutur Icha sambil menghisap rokok rasa mentol dan menyebulkan asapnya ke atas.

"Bukan PSK bukan jablay, anda butuh teman saya temani. Saya juga lihat orangnya dulu buat yang minta ditemani seperti apa, tidak sembarang orang dan cuma akhir pekan. Soalnya Icha kan kerja," tegas Icha. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Prostitusi
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.