Gara-gara Gunting Seharga Rp88.000, ART Disiram Air Mendidih oleh Majikan

Rabu, 15 Mei 2019 15:48 Reporter : Moh. Kadafi
Gara-gara Gunting Seharga Rp88.000, ART Disiram Air Mendidih oleh Majikan PRT di Gianyar Disiram Air Mendidih Hingga Kulit Melepuh. ©Istimewa

Merdeka.com - Seorang wanita yang merupakan Asisten Rumah Tangga (PRT) bernama Eka Febrianti (21) asal kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalami penganiayaan oleh majikannya dengan disiram air mendidih.

Penganiayaan tersebut, terjadi di sebuah rumah di Kabupaten Gianyar, Bali, yang dilakukan oleh majikannya bernama Desak Made Wiratningsi, pada Selasa (7/5) pada siang hari.

"Kalau korban untuk nama jalannya tidak tahu. Hanya dia bilang rumah majikannya itu di dekat Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, dan ada gang di sebelah indomaret dan rumah paling pojok," kata Supriyono selaku pengacara korban, saat ditemui di SPKT Polda Bali guna melaporkan penganiayaan tersebut, pada Rabu (15/5).

"Penganiayaan ini dilakukan oleh majikannya yang berinisial DMW. Pada tanggal 7 Mei yang lalu," tambah Supriyono.

Supriyono juga menjelaskan kronologisnya, dari keterangan korban saat itu pada Selasa (7/5) pagi, majikannya kehilangan gunting besi warna hitam yang seharga Rp 8.800.

Kemudian, majikan tersebut meminta korban untuk mencarinya. Tetapi, ketika korban sudah mencari keseluruhan tempat di rumah tersebut tidak menemukan dan akhirnya majikannya memberikan sanksi.

"Karena tidak ditemukan akhirnya majikan itu minta pertanggungjawaban dengan korban dan di (sanksi) dengan air panas. Karena korban orang (lugu) dan orang kecil akhirnya menyatakan iya," ujar Supriyono.

Menurut Supriyono, karena gunting tidak ditemukan, ia menyuruh Santi yang merupakan adik tiri korban untuk memasak air mendidih dua panci untuk disiramkan ke korban.

Setelah air mendidih, majikan tersebut mengambil gelas besar untuk disiramkan ke korban. Setelah, itu dia menyuruh adik tiri korban yakni Santi untuk juga menyiramkan pada korban dan setalah itu giliran security rumah yang bernama Eri untuk ikut menyiramkan ke tubuh korban sampai dua panci air mendidih habis hingga kulit korban melepuh.

"Penyiramnya itu dengan cara-cara yang keji. Dia (majikan) mengambil gelas besar dan kemudian disiramkan. Setelah itu bergantian adik tirinya (Santi) dan security yang namanya Eri sampai habis air di panci. (Korban) sampai gemetar-gemetar," jelas Supriyono.

Tak sampai disitu, setelah selesai disiram korban oleh majikan diminta untuk mencari lagi gunting tersebut. Jika tak ditemukan maka korban akan di sanksi lagi dengan dua panci air mendidih. Karena takut, korban pun mencari sampai jam 2 malam namun tetap tidak ketemu.

Sehingga, pada pagi Rabu (8/5) sekitar pukul 09.00 Wita, korban melihat majikannya tidur dan adik tirinya mandi. Ia nekat melarikan diri dengan meloncat pagar rumah.

Selanjutnya, korban sembunyi didekat warung rumah majikan. Namun, seorang ibu yang memiliki warung tersebut bertanya kepada korban kenapa badan korban melepuh dan korban menceritakan bahwa disiram air mendidih oleh majikannya.

Sehingga, ibu pemilik warung tersebut merasa kasihan dan memberikan uang sebesar Rp 5000 dan kue untuk pergi mencari angkot agar tidak ketahuan oleh majikannya. Namun, saat menunggu angkot tidak kunjung tiba. Sehingga, korban berjalan sejauh mungkin.

Saat berjalan, korban kembali bertemu dengan seorang ibu-ibu yang juga memiliki warung dan memfasilitasi korban untuk bertemu Polisi. Namun, saat itu korban bertemu Polisi korban hanya mengaku jatuh karena masih ketakutan.

Akhirnya Polisi tersebut, mencarikan mobil angkot, karena korban bilang akan menuju Nusa dua, Badung, Bali, kerumah sahabatnya. Sesampainya, di Terminal Batu Bulan, Gianyar Bali, korban ditolong oleh Satpam terminal mencarikan ojek untuk menuju Nusa Dua.

"Dipanggil ojek untuk diantar ke Nusa Dua. Akhirnya bertemu sahabatnya jam 9 malam tanggal 8 (Mei) dengan ongkos 120 ribu dibayarin oleh sahabatnya. Saat ketemu sahabatnya korban cerita disiram dan akhirnya bajunya digunting karena sudah melepuh karena sudah 36 jam tidak di apa-apakan," jelas Supriyono.

Kemudian, pada Kamis (9/5) sekitar pukul 09.00 Wita. Korban oleh sahabatnya dibawah ke Puskesmas di Kuta Selatan. Kemudian, di tolong oleh seorang perawat bernama Ibu Guntur dan akhirnya bercerita dan melaporkan info tersebut ke Supriyono.

"Jadi dua hari sejak kejadian korban baru mendapatkan perawatan. Jadi korban tidak pernah opname di rumah sakit karena keterbatasan finansial. Sahabatnya, juga tidak punya (Uang) karena hanya sebagai pekerja di Restoran," ujar Supriyono.

"Sehingga akhirnya ketemu dengan perawat ini di Kuta Selatan yang namanya Ibu Guntur. Dia yang bantu dan sebagainya dan akhirnya menginformasikan sama saya. Iya saya bersedia demi kemanusiaan," sambung Supriyono.

Supriyono juga menjelaskan, kedatangannya ke SPKT Polda Bali untuk melaporkan ketiga yang diduga pelaku tersebut. Yakni majikannya, adik tiri korban dan security. Ia juga menjelaskan, bahwa korban bekerja di rumah tersebut karena dibawa oleh adik tirinya yang bernama Santi yang disana bekerja sebagai baby sister.

"Korban sudah 7 bulan bekerja disana dan sampai sekarang tidak diberikan sepeser pun uang gaji. Di kerja disana melalui adik tirinya," ungkap Supriyono.

Menurut Supriyono, keterlibatan adik tirinya dan securitynya tersebut yang ikut menyiram air mendidih tersebut karena tekanan dari majikannya.

"Santi dan satpam itu kalau menurut saya karena tekanan. Karena berdasarkan pengakuan korban, bahwa korban pernah melihat Santi disakitin juga. Mungkin karena salah dan ditempeleng dan korban pernah melihat itu. Karena memang majikannya kata korban tempramen," ujar Supriyono.

Selain itu, gunting yang hilang tersebut bukanlah korban yang menghilangkan. Hanya saja, majikan meminta korban untuk mencari gunting tersebut. Karena, tidak ketemu korban diminta pertanggungjawaban oleh majikannya.

"Korban saat disiram masih memakai baju. Untuk luka di badannya hampir 50 persen, dan di paha dalam juga ada di dahinya juga tapi luka sudah mengering," ujar Supriyono.

Selain itu, saat ditanya bernakah bahwa majikan dari korban adalah istri dari seorang Calon Legislatif (Caleg) yang terpilih di Kabupaten Gianyar Bali.

Supriyono hanya menegaskan, bahwa dari pengakuan korban hal tersebut benar. Namun, untuk pastinya istri ke berapa, pihaknya tidak mengetahui.

"Kalau Caleg terpilih itu suaminya. Kalau berdasarkan keterangan korban dia tidak setiap hari pulang ke rumah itu. Berarti si (Majikan) diduga istri kedua atau apanya kami tidak paham. Iya Caleg terpilih. Tapi korban tidak paham caleg DPRD apa caleg DPRI," ujar Supriyono. [rhm]

Topik berita Terkait:
  1. Penganiayaan
  2. Penganiayaan PRT
  3. Denpasar
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini