Fakta-fakta tewasnya teroris Santoso

Rabu, 20 Juli 2016 05:31 Reporter : Ya'cob Billiocta
Fakta-fakta tewasnya teroris Santoso Jenazah diduga Santoso. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Kontak senjata antara Satgas Tinombala dengan kelompok bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di wilayah pegunungan Desa Tambarana, Pesisir Utara Poso, Sulawesi Tengah, Senin (18/7) petang waktu setempat, berujung tewasnya Abu Wardah alias Santoso dan Muchtar alias Kahar.

Perburuan teroris ini berawal saat anggota satgas Tinombala melakukan patroli dan menemukan gubuk. Anggota satgas lantas melakukan tiga titik penyergapan di tiga titik. Kemudian mengikuti jejak hingga akhirnya sampai di gubuk kedua. Di sana terlihat orang tidak dikenal mengambil sayur dan ubi untuk menutupi jejak.

Kemudian tim patroli melihat jejak ke sungai menuju arah utara, terlihat tiga orang di seberang sungai dan langsung menghilang. Kemudian tim patroli melaksanakan patroli kembali dan melaporkan bahwa melihat orang tidak dikenal yang diduga kuat salah satunya Santoso, sekitar jarak 20-30 meter kemudian anggota melakukan pendekatan dengan senyap.

Setelah tim mendekat, terlihat mereka sedang duduk dan kemudian terjadi kontak senjata sekitar 30 menit. Tim kontak senjata dengan lima orang. Santoso dan Mochtar tewas, sementara Basri, Nurmi Usman alias Oma istri Basri dan Jumiatun Muslim alias Atun alias Bunga alias Umi Delima yang merupakan istri Santoso berhasil kabur.

"Tiga orang yang melarikan diri diduga Basri dan istrinya beserta istri Santoso," kata Kepala Satgas Tinombala, Kombes Pol Leo Bona Lubis, kepada wartawan, Selasa (19/7).

selanjutnya tim membagi menjadi dua kelompok. Satu tim terdiri dari empat personel melaksanakan pengamanan TKP, jenazah dan barang bukti. Satu tim lainnya terdiri dari lima personel melakukan perburuan.

Berikut fakta-fakta tewasnya Santoso:

1 dari 4 halaman

Santoso disergap saat mandi

Jenazah diduga Santoso. ©2016 Merdeka.com

Satgas Tinombala yang melakukan patroli akhirnya menemukan jejak terakhir keberadaan teroris Santoso di sebuah sungai di tengah hutan Gunung Biru. Sebelum tewas tertembak, Santoso diketahui sedang mandi di tempat tersebut.

"Dari jarak antara 20 sampai 30 meter terlihat DPO sedang mandi kemudian didekati dan di situlah terjadi baku tembak," kata Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Rudy Sufahriadi kepada merdeka.com, Senin (18/7) malam.

Selanjutnya, satgas terlibat baku tembak dengan kelompok teroris, hingga akhirnya Santoso bersama Mochtar tewas.

"Salah satu tewas ciri-cirinya berjenggot dan tahi lalat yang diperkirakan Santoso," kata Rudy.

Rudy menambahkan, untuk tiga orang yang melarikan diri itu dua diketahui berjenis kelamin perempuan dan satu laki laki. Saat kabur, kedua perempuan membawa satu pucuk senjata M-16 dan kabur ke arah barat serta satu lelaki laki kabur ke arah selatan.

2 dari 4 halaman

Mochtar tewas dengan kepala pecah

Jasad diduga Santoso. ©2016 merdeka.com/istimewa

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan satu korban tewas akibat baku tembak antara kelompok mujahidin MIT dengan satuan tugas operasi Tinombala di wilayah pegunungan desa Tambarana, selain Santoso dipastikan Mochtar alias Kahar.

"Yang satu lagi itu bukan Basri, diduga namanya Mochtar dari Palu anak buahnya Santoso," ungkap Jenderal Tito di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (19/7).

Sementara Basri berhasil lolos dengan dua perempuan istri Santoso dan Basri. Istri Santoso diketahui bernama Jumiatun Muslimayatun, berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Sedangkan istri Basri diketahui bernama Nurmi Usman yang juga berasal dari Nusa Tenggara Barat.

"Diperkirakan dia yang lari dengan dua orang perempuan lain," tutur dia.

3 dari 4 halaman

Ali Kalora diduga kuat sebagai penerus Santoso

Ali Kalora. ©2016 google

Meski pentolan MIT tersebut tewas tertembak, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menilai operasi perburuan teroris akan terus berlanjut. Sebab selain Santoso, ada kelompok teroris di bawah kepemimpinan Ali Kalora alias Ali Ahmad yang juga harus diwaspadai.

"Ada Ali Kalora satu lagi, saya mengenal betul jaringan itu dari tahun 2005, saya operasi di sana," jelasnya.

Namun, diakui Tito kelompok Ali Kalora tak sekuat kelompok MIT di bawah Santoso dan Basri. Sehingga untuk saat ini situasi Poso dan sekitarnya aman sejenak.

"Tidak memiliki kemampuan, kompetensi dan leadership seperti Basri dan Santoso," jelasnya.

"Bisa saja kalau seandainya kita diamkan. Tapi selesai ini operasi akan kita jalankan terus sambil operasi-operasi untuk menetralisir pro kekerasan di sana tetap kita jalankan," pungkasnya.

Diketahui, usai memisahkan diri dengan Santoso, Ali Kalora bersama istrinya memimpin 14 anak buah.

4 dari 4 halaman

Sepak terjang tangan kanan Santoso yang lolos saat baku tembak

Perburuan teroris Santoso. ©handout/Humas Polda Sulteng

Tangan kanan Santoso, Basri berhasil kabur saat baku tembak antara Satgas Tinombala dengan kelompok MIT. Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Rudy Sufahriadi pernah punya pengalaman menangkap Basri. Menurut dia, Basri ditangkap dan dimasukkan ke penjara pada tahun 2007 lalu.

"Basri ini pernah saya tangkap ketika saya menjadi Kapolres di Poso dan sedang menjalani hukuman. Sisa hukuman satu tahun lagi, dia melarikan diri dari Lapas di Ampana atas kasus terorisme," ungkap Rudy usai mengikuti acara pengarahan Presiden kepada seluruh Kapolda dan Kajati Tahun 2016 di Istana Negara, Selasa (19/7).

Rudy menjelaskan, DPO terakhir berjumlah 21 orang sebelum aksi baku tembak di wilayah pegunungan desa Tambarana, Pesisir Utara Poso, Senin (18/7) petang kemarin. 21 Orang ini terpecah dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang dipimpin Ali Kalora dengan jumlah anggota 14 orang dan kelompok yang dipimpin Santoso dan Basri beranggotakan lima orang.

[cob]
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini