Fakta-fakta 2 WNI disandera kelompok bersenjata Papua

Senin, 14 September 2015 06:15 Reporter : Siti Nur Azzura
Fakta-fakta 2 WNI disandera kelompok bersenjata Papua opm. ©REUTERS/Muhammad Yamin

Merdeka.com - Kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyandera dua warga negara Indonesia (WNI) di Skowtiau. Kabar tersebut telah dikonfirmasi oleh angkatan bersenjata di Papua Nugini, Sabtu (12/9), yang disampaikan langsung oleh Konsulat Republik Indonesia di Vanimo, Papua Nugini.

Kedua WNI tersebut adalah Sudirman (28) dan Badar (20) yang bekerja sebagai penebang di perusahaan penebangan kayu di Skofro, distrik Kerom, Papua Nugini.

Seorang WNI lainnya, Kuba, tertembak dalam insiden tersebut. Kuba saat ini mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Bayangkhara, Jayapura.

Pihak Konsulat di Vanimo mengaku telah berkoordinasi dengan angkatan bersenjata Papua Nugini (PNG) terkait upaya penyelamatan kedua WNI.

"Menurut angkatan bersenjata PNG kedua WNI dalam kondisi baik. Karena itu, dalam upaya penanganan, kami telah meminta keselamatan kedua WNI menjadi prioritas utama," ujar Elmar Lubis, Konsul RI Vanimo.

Sementara itu, Kapuspen TNI, Mayjen Endang Sodik menyebutkan kasus tersebut berawal saat 4 WNI tengah menebang kayu di kampung Skopro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom. Kampung tersebut merupakan salah satu daerah yang berada di perbatasan RI-PNG.

"Jadi kan tanggal 9 September aksi gerakan separatis OPM atau gerakan separatis Papua bersenjata telah menembak mati satu penebang kayu di kampung Skopro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom. Dari kasus itu dikembangkan ternyata yang kena ada 4 orang yang bekerja itu, satu mati, satu melapor Polres. 2 orang tidak diketahui. Pada tanggal 11 September ternyata 2 orang itu dibawa ke daerah Skowtiau itu wilayah PNG," kata Endang saat dihubungi merdeka.com, Minggu (13/9) malam.

Endang mengatakan, TNI sudah meminta tentara PNG membebaskan kedua sandera tersebut dengan mengutamakan keselamatan mereka. Namun hingga kini belum ada pernyataan dari kelompok yang menyandera kedua WNI tersebut.

"Karena itu sudah masuk PNG maka TNI dan Kodam berkoordinasi dengan konsulat TNI di Panina di PNG. Kemudian kita kontak atas pertahanan di PNG untuk bersama-sama konsulat RI untuk meminta kepada Bupati Paninai dan Tentara PNG untuk melakukan negosiasi," ujar dia.

Dia berharap, negosiasi tersebut bisa dilakukan tanpa kekerasan agar tidak ada lagi korban yang jatuh dalam insiden ini. Menurut Endang, TNI terus memonitor perkembangan penyanderaan dua WNI tersebut.

Peristiwa ini tentunya mengingatkan pada kejadian penculikan yang juga dilakukan oleh OPM terhadap 12 peneliti Tim Lorentz yang sedang mengumpulkan data di Mapenduma, Papua, Senin 8 Januari 1996. Penculikan yang berlangsung selama 130 hari itu bertujuan untuk mendapatkan kemerdekaan Papua.

Selama dalam penyanderaan, para sandera digiring blusukan ke belantara Papua. Mereka tak mendapat cukup makanan, sehingga beberapa orang sakit.

Akhirnya, Mabes TNI menggelar satgas untuk membebaskan sandera di Mapenduma dibawah komando Komandan Jenderal Kopassus Brigjen Prabowo Subianto. Tapi sesuai permintaan dunia internasional, Prabowo mempersilakan Tim International Committee of the Red Cross (palang merah internasional), melakukan perundingan.

Awalnya Kelly Kwalik menunjukkan itikad baik. Mereka berniat membebaskan beberapa sandera yang sakit, termasuk Martha Klein yang sedang hamil. Namun saat detik-detik pelepasan sandera, tiba-tiba Kelly Kwalik berubah. Dia berpidato dengan keras.

"Saya minta ubi harus dapat ubi, bukan minta ubi dikasih ketela." Artinya jelas, kemerdekaan harga mutlak untuk Kelly. Para sandera dan tim ICRC lemas, mereka sadar perundingan yang berliku ini menempuh jalan buntu.

Hingga akhirnya pengejaran terhadap OPM yang melarikan diri bersama para sandera pun dilakukan. Sayangnya, hal ini justru mengakibatkan terbunuhnya dua anggota Tim Lorentz, Navy dan Matheis, yang berasal dari Indonesia.

Namun, setelah 130 hari disandera, para peneliti bisa menghirup napas lega. Mereka bisa pulang ke rumah dengan selamat. Prabowo dan pasukannya panen pujian dari internasional. Bukan perkara mudah membebaskan sandera di tengah hutan Papua yang begitu lebat.

Baca juga:
Ini kronologi kelompok bersenjata Papua Merdeka sandera 2 WNI
Ini langkah TNI untuk selamatkan WNI disandera kelompok bersenjata
Organisasi Papua Merdeka sandera dua WNI
Massa beratribut Bintang Kejora demo tuntut kemerdekaan Papua
Strategi RI gabung asosiasi negara Pasifik demi hambat Papua merdeka
Lenis Kogoya minta pemerintah hapus stigma OPM di Bumi Cendrawasih
DPR minta presiden hati-hati berikan amnesti & abolisi Tapol Papua

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini