Fadli Zon Sebut Saran Jokowi ke Baiq Nuril soal Grasi Bisa Permalukan Bangsa

Rabu, 21 November 2018 14:13 Reporter : Sania Mashabi
Fadli Zon Sebut Saran Jokowi ke Baiq Nuril soal Grasi Bisa Permalukan Bangsa Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. ©2018 Merdeka.com/Hari Aryanti

Merdeka.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengkritisi ucapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyarankan mantan pegawai honorer di Sekolah Menengah Atas (SMA) 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Baiq Nuril mengajukan grasi jika PK di Mahkamah Agung tak memuaskan. Dia menilai ucapan Jokowi itu bisa membuat bangsa Indonesia malu.

"Jadi menurut saya pernyataan presiden ini menimbulkan kita ya sebagai bangsa malu lah sebenarnya. Bagaimana bisa hal-hal yang sifatnya mendasar aja bisa salah," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/11).

Wakil Ketua DPR ini mengungkap alasan mengapa ucapan Jokowi bisa membuat bangsa malu. Sebab, kata dia, grasi itu hanya bisa diberikan pada narapidana yang memiliki masa hukuman di atas dua tahun.

"Kalau grasi kan hukumannya kalau sesuai undang-undang di atas dua tahun," ungkapnya.

Fadli mengatakan, ini bukan kali pertama Jokowi salah berbicara. Dia pun menyarankan Jokowi untuk memiliki tim yang bisa membantu pemahaman pada hukum dan konstitusi.

"Dan ini saya kira bukan kejadian pertama ya. 'Garbage in garbage out'. Jadi kalau masuknya A ya keluarnya A seperti itu," ujarnya.

"Seharusnya memang di tim kepresidenan itu mempunyai tim yang kuat di bidang hukum dan konstitusi. Sehingga presiden itu tidak boleh salah dalam urusan-urusan yang 'basic' seperti ini," ucapnya.

Diketahui, Presiden Jokowi mengaku tak bisa mengintervensi perkara yang menjerat Baiq Nuril. Namun, mantan Gubernur DKI Jakarta ini membuka ruang bagi Baiq untuk memberikan pengampunan, bila hasil putusan Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung (MA) tak memuaskan.

"Seandainya PK belum dapat keadilan, bisa ajukan grasi ke presiden. Kalau sudah grasi itu bagian saya," kata Jokowi di Pasar Induk Sidoharjo, Lamongan, Jawa Timur, Senin (19/11).

Diketahui, pada kasasi di Mahkamah Agung, Baiq Nuril divonis enam bulan penjara ditambah denda senilai Rp 500 juta. Dia diputus bersalah oleh Mahkamah Agung karena menyebarkan rekaman bermuatan kesusilaan. [dan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini