Erdogan Diminta Putus Hubungan Diplomatik dengan Israel, Jangan Cuma Menggertak

Kamis, 20 Mei 2021 20:01 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Erdogan Diminta Putus Hubungan Diplomatik dengan Israel, Jangan Cuma Menggertak Demonstran mengecam Israel di Turki. ©2021 REUTERS/Kemal Aslan

Merdeka.com - Cendekiawan Muslim Indonesia Azyumardi Azra menilai, kecaman Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terhadap tindakan Israel kepada Palestina hanya gertakan saja. Turki dinilai belum mengambil langkah tegas untuk memutuskan hubungan diplomatik ataupun dagang dengan Israel.

Azyumardi pun mendorong negara-negara di Timur Tengah untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Menurutnya, langkah itu bisa membuat kekerasan di Palestina berhenti.

"Termasuk juga Turki juga punya hubungan diplomatik, orang di Indonesia memuji muji Presiden Erdogan padahal Erdogan itu hanya bluffing (gertak) saja, coba saja lihat bluffing betul karena untuk mengatasi masalah di dalam negerinya sendiri," katanya dalam diskusi 'Konflik Timur Tengah Israel dan Holokos Palestina', Kamis (20/5).

Menurutnya, kecaman Erdogan terhadap Israel hanya sekadar kepentingan politik semata. Yakni Erdogan ingin tetap mengamankan posisi politiknya.

"Krisis ekonomi, kesulitan politik yang dihadapi jadi dengan bersuara keras terhadap Israel dia bisa menyelamatkan posisi politiknya," ucapnya.

Mestinya, jika Erdogan benar membela Palestina, kata Azyumardi, Turki harus memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Termasuk menutup penerbangan Turkish Airlines ke Bandara Ben-Gurion di Tel Aviv Israel.

"Jadi ini juga harus dipahami persaingan itu, tapi ini tidak ada Turki melangkah lebih jauh kalau serius putuskan hubungan diplomatik, hentikan penerbangan Turkish Air dari Istanbul ke Tel Aviv, hentikan," tegasnya.

"Termasuk juga Emirates Qatar itu terbang ke Israel ke Ben Gurion walaupun sekarang Ben Gurion ditutup, Bandara Ben Gurion," ujar pemerhati Timur Tengah ini.

Bukan Perang Islam dan Yahudi

Sementara itu dalam diskusi yang sama, pendiri Setara Institute Hendardi menilai, konflik Israel dan Palestina bukanlah perang antara agama Yahudi dan Islam. Tetapi, permasalahan sesungguhnya ialah nafsu Israel menguasai wilayah Palestina.

"Yang terjadi sesungguhnya bukanlah perang teologi antara Islam dan Yahudi, yang terjadi adalah ekspresi nafsu berkuasa Israel untuk menguasai wilayah yang bernama Palestina," katanya Hendardi.

Menurutnya, hukum hak asasi manusia bisa digunakan terhadap tindakan Israel tersebut. Asal mendapatkan dukungan politik internasional.

"Maka hukum hak asasi manusia atau hukum humaniter bisa mengurainya sepanjang hukum hukum tersebut bisa di-enforce dan mendapatkan dukungan politik internasional," ucap aktivis HAM ini.

Dia menyatakan, yang dilakukan Israel terhadap Palestina bukan hanya perebutan soal tanah sebagai basis pertahanan dalam doktrin politik security Israel. Tetapi, adalah penghancuran kemanusiaan.

"Jadi ini adalah perang melawan kemanusiaan. Israel sudah mengabaikan jaminan perlindungan hak asasi manusia dalam berperang sesuatu yang sebenarnya di wajibkan di dalam hukum perang sekalipun anda berperang maka seharusnya tetap patuh pada hukum humaniter," jelasnya.

Hendardi berpendapat, serangan militer Israel terhadap sarana prasarana kesehatan yang mengakibatkan tenaga medis menjadi korban, secara eksplisit melanggar ketentuan ketentuan di dalam konvensi Jenewa 1949.

"Padahal Israel ikut menandatangani sebagaimana di atur dalam pasal 11, pasal 24 dan 27, pasal 36 dan 37 konvensi Jenewa. Tetapi pertanyaannya apakah Israel bisa dimintai pertanggungjawaban hukum di sinilah tantangannya sekalipun ICC (International Criminal Court) memiliki yuridiksi internasional," pungkasnya. [bal]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini