Epidemiolog: Puncak Gelombang 3 Pandemi Terjadi Awal Januari 2022

Jumat, 1 Oktober 2021 16:46 Reporter : Supriatin
Epidemiolog: Puncak Gelombang 3 Pandemi Terjadi Awal Januari 2022 Vaksinasi Massal Darurat di Surabaya. ©2021 AFP/Juni Kriswanto

Merdeka.com - Perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia saat ini menunjukkan perbaikan. Dalam sepekan terakhir, kasus positif Covid-19 menurun sebesar 26 persen, sedangkan kematian menurun hingga 37 persen.

Di tengah melambatnya penularan Covid-19, ahli virologi hingga epidemiolog memprediksi Indonesia akan menghadapi gelombang ketiga pandemi dalam beberapa bulan mendatang. Prediksi ini didasari sejumlah hal, di antaranya mobilitas yang meningkat hingga testing dan tracing masih rendah.

Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman secara spesifik mengungkap gelombang ketiga pandemi Covid-19 kemungkinan akan terjadi akhir Desember 2021 hingga awal Januari 2022. Puncak gelombang ketiga ini terjadi sekitar awal Januari 2022.

"Sebetulnya potensi gelombang ketiga ini terjadi atas kombinasi mobilitas, vaksinasi yang belum kuat, pelonggaran-pelonggaran, kemudian juga potensi selain varian Delta ada varian lain. Ini yang akan membuat gelombang ketiga hampir sulit dihindari," kata Dicky.

Menurut Dicky, gelombang ketiga kemungkinan tidak sebesar gelombang kedua pandemi Covid-19 yang terjadi pada pertengahan Juli 2021. Pada gelombang ketiga, skenario terburuk penambahan kasus Covid-19 harian sebanyak 50.000. Sementara pada gelombang kedua, skenario terburuk mencapai 400.000 kasus per hari.

Berikut wawancara khusus Dicky Budiman dengan merdeka.com melalui sambungan telepon, hari ini Jumat, 1 Oktober 2021:

Penularan Covid-19 di Indonesia terlihat melandai berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan. Menurut Anda, apakah data ini sesuai kondisi di lapangan?

Untuk beberapa daerah seperti Jakarta, Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), kemudian Semarang Raya, Surabaya Raya, Bandung Raya, artinya banyak wilayah aglomerasi ini memang kondisinya relatif mendekati situasi yang sebenarnya. Walaupun itu masih ada dengan catatan aspek 3T-nya (testing, tracing, treatment), di luar DKI Jakarta terutama. Tapi di luar aglomerasi itu, aspek 3T catatannya serius menurut saya karena angka indikator absolutnya seperti tes positivity rate yang rendah, kemudian juga angka reproduksi efektif yang rendah, itu tidaklah atau belumlah ditunjang dengan fondasi yang kuat. Jadi masih rapuh fondasinya.

Fondasinya apa? Ya itu, testing, tracing, isolasi, karantina itu. Ini yang masih rendah. Bahwa pemerintah mengklaim kita sudah sesuai dengan yang disarankan WHO, ya itu baru sesuai skala penduduk. Memang betul kalau bicara level provinsi, semua provinsi saat ini sudah mencapai kriteria testing sesuai dengan skala penduduk, yaitu 1 orang dites per 1.000 populasi per minggu. Itu sesuai WHO, memang sudah. Tapi ada kriteria kedua yang mayoritas daerah belum memenuhi apalagi kalau mau diturunkan ke kabupaten kota.

Apa itu? Testing itu harus sesuai dengan eskalasi pandemi. Eskalasi pandemi itu bagaimana? Ya, misalnya ada banyak contohnya. Eskalasi pandemi itu ketemu misalnya 1.000, ya itu harus dilakukan testing tapi minimal bicaranya, minimal 1 orang kali 15 berarti 15.000. Nah itu baru dari 1 lapis karena kalau mau bicara namanya sesuai eskalasi pandemi ya enggak cuma 15. WHO saja 30 kok rekomendasinya, kita sudah didiskon setengahnya.

Itu baru lapis pertama. Enggak mungkin orang Indonesia apalagi di Jawa sehari cuma ketemu 15 orang dari rumah ke kantor. Enggak mungkin kan. Kita naik kereta, kita ke mal, kita ke pasar ketemu 50 orang saja enggak mungkin. Nah ini yang jadi PR kita. Kenapa kita tidak bisa sesuai yang ada di lapangan karena bicara tracing, tracking itu kita enggak kuat. Apalagi bicara testingnya karena testing pertama testing yang tadi skala penduduk. Nah sesuai eskalasi pandemi testingnya itu 1 kasus harusnya bisa menghasilkan minimal kalau Vietnam 200 testing. Atau kasus terkonfirmasi dengan tracking, tracing. Tracking itu ke depan, tracing ke belakang.

Ke depan itu maksudnya gini, setelah dia (kasus Covid-19) ada di situ, siapa lagi nih yang ada di situ. Cari lagi, jadi lapisannya itu bisa 2, 3 lapisan. Di Vietnam itu bisa sampai 200 dari 1 kasus. Kita kan 15, minim banget. Nah 15 pun itu dievaluasi September ini banyaknya kan di Jawa Timur yang mencapai, makanya Jawa Timur PPKM level 1, wajar mencapai. Kemudian Jakarta ada juga tapi belum semua. Nah ini saja menunjukkan bahwa bagaimana kita mau confidence bahwa ini ditemukan kasus-kasusnya. Jadi lemah, rapuh.

Dan ini sudah saya sampaikan beberapa kali ketika pemerintah bahkan mengklaim rendah kemudian terjadi klaster sekolah. Klaster sekolah, PTM itu memberi bukti, fakta bahwa apa yang saya sampaikan itu benar. Jadi kalau di sekolah terjadi klaster, di masyarakatnya berarti serius. Itu indikatornya, itu satu. Kemudian angka case fatality rate kita juga masih tinggi. Jadi kontradiktifnya itu begini, indikator telat kita lebih buruk daripada indikator awal yang diklaim pemerintah, tapi indikator akhirnya selain temuan klaster PTM sekolah yang menimbulkan bukti bahwa ini memang terjadi hal yang serius di masyarakat terkait intervensi hulu yang masih lemah, juga indikator akhirnya angka kematian, kemudian juga bahwa fakta kapasitas testing kita dibanding negara lainlah misalnya di ASEAN, kita kalah rendah.

Dengan Singapura yang jumlah penduduknya di bawah Jakarta itu tes PCR Singapura 2 kali kita. Bahkan ketika Singapura belum meledak, tes PCR dia relatif sama dengan kita. Padahal penduduk kita 270 juta. Jadi itu yang saya sampaikan, fondasinya rapuh ketika dikatakan wah ini indikatornya bagus nih, angka-angka ini seperti tes positivity rate dan angka reproduksi. Tapi di 3T-nya tidak kuat, ya bukan saya sebut tidak valid ya, tapi lemah, rapuh.

Melihat upaya testing dan tracing di Indonesia yang masih rendah, apakah ada potensi kasus Covid-19 meledak lagi atau gelombang ketiga pandemi?

Sangat, sangat. Itulah yang dalam analisa terakhir karena saya terlibat juga dalam penyusunan Litbang Kompas bikin indeks pengendalian Covid. Indeks pengendalian Covid ini dikeluarkan seminggu sekali, setiap hari Kamis. Nah dari indeks ini, maksud saya dengan Litbang ingin mengukur performa daerah per minggu untuk menjadi catatan mereka. Nah di evaluasi kami kemarin, 18 provinsi menurun performa di manajemen pengobatan atau di indikator akhirnya.

Ini adalah juga selaras dengan apa yang saya sampaikan di awal bahwa ada masalah di 3T. Nah kondisi ini dengan lemahnya 3T dikombinasikan dengan bahwa cakupan vaksinasi kita kan masih di bawah 50 persen, secara nasional kan di 20 persen bahkan banyak daerah masih di bawah 10 persen. Apalagi kalau bicara kelompok rawan, ditambah dengan adanya pelonggaran yang tidak terkendali, tidak diukur kuat. Tidak diukur kuat itu maksudnya begini, untuk bergerak dari PPKM level 3 ke 2 atau 2 ke 1 sebaiknya Indonesia itu 1 bulan saya sarankan, nunggu, sabar.

Karena apa? Karena supaya kuat dulu fondasinya itu. Masyarakat juga kan secara perilaku sudah mulai terbiasa oh PPKM itu harus dengan pola menjaga terus 5M-nya dan sebagainya. Jadi sebagai gambaran, Norwegia yang sudah di level 1 itu dia menahan kuat hampir 6 bulan dari level 2 ke level 1 karena ingin memastikan. Kita kalau nggk mau sampai 6 bulan, ya 1 bulanlah. Nah kombinasi lagi dengan adanya varian baru seperti Delta yang luar biasa dan ingat ketika ini menyebar dengan cepat potensi kita berlanjut. Kita itu punya varian Indonesia tapi masalahnya ya deteksi kita lemah apalagi surveilancenya.

Karena apa? Kita sudah lebih dari setahun dalam kondisi penularan di level komunitas yang dikeluarkan WHO. Itu kan artinya banyak kasus yang tidak terdeteksi, klaster-klaster tidak terdeteksi sehingga ini yang terjadi semuanya itu bergerak di Desember, di mana potensi orang berlibur, potensi orang Nataru, cuti bersama dan sebagainya, itu kombinasi yang amat sangat efektif untuk terciptanya gelombang ketiga. Ditambah dengan akan lebih buruk lagi kalau ada faktor varian baru dari luar atau dalam negeri yang setidaknya nggk usah samalah dengan Delta, mendekati saja, sama dengan Alfa saja, sudah repot.

Karena kan masalahnya kecenderungan varian yang akan muncul, setidaknya sampai pertengahan tahun depanlah, itu akan memiliki kemampuan menurunkan efikasi antibodi. Artinya, orang yang sudah divaksin bisa terinfeksi lagi, kemudian orang yang pernah terinfeksi juga bisa terinfeksi lagi. Ini yang membuat amat sangat rawan. Jadi sebetulnya potensi gelombang ketiga ini atas kombinasi tadi, mobilitas, vaksinasi yang belum kuat, kemudian juga pelonggaran-pelonggaran, kemudian juga potensi selain varian Delta ada varian lain. Ini yang akan membuat gelombang ketiga hampir sulit dihindari, hampir sulit dihindari.

Tapi masalahnya, yang bisa kita lakukan adalah mencegah itu enggak berdampak serius. Bahwa potensi dia terjadi itu sebenarnya besar. Tapi kalau seperti gelombang kedua enggaklah, sejauh ini ya. Agak di bawah itulah, secara kasus kesakitan mungkin enggak banyak, tapi potensi angka kematian bisa setidaknya mendekati gelombang kedua. Karena apa? Karena di gelombang ketiga ini terjadi lebih banyak luar Jawa potensinya, kemudian di Jawa Bali itu tidak perifer, daerah pedesaan, kampung atau kabupaten kota inilah. Yang jelas notabenenya mereka fasilitas kesehatan kurang, status sosial ekonomi demografinya juga kurang, dan serba banyak kurangnya. Dan ini yang membuat potensi angka kematiannya bisa banyak walaupun tidak sebanyak kemarin. Tapi kan tetap banyak.

Selain mobilitas, vaksinasi, relaksasi pembatasan dan varian baru, apakah ada faktor lain yang bisa ikut memicu gelombang ketiga pandemi Covid-19? Penurunan protokol kesehatan misalnya?

Jadi bicara naik turun kasus itu kombinasi, multifaktor. Jadi tidak ada yang dominan sampai muncul satu situasi yang peningkatannya itu panjang seperti ketika Delta ini. Tapi kalau berbicara gelombang secara umum, itu multifaktorial. Jadi ada tadi mobilisasi, ada protokol kesehatan tadi, termasuk vaksinasi yang belum kuat. Jadi semuanya berkontribusi, termasuk penerapan protokol kesehatan itu. Karena begini kenapa itu berkontribusi? Karena protokol kesehatan begitu lemah ketika ada event, misalnya event musik kan jadi kluster. Kluster itu kalau banyak, bersamaan, ya kan jadi berkontribusi pada peningkatan kasus.

Menurut Anda kapan gelombang ketiga pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia?

Kalau melihat data pergerakan terakhir ini masih di akhir Desember 2021 sampai awal Januari 2022. Dengan kombinasi tadi, kombinasi mobilisasi yang memang akan meningkat di akhir tahun dan awal tahun dan itu akan mulai potensinya meningkat di pertengahan, tanggal 20-an Desember. Terus sampai di puncaknya nanti di Januari awal atau minggu pertama. Nah ini berbeda dengan yang kemarin saya prediksi gelombang kedua yang didominasi Delta saya lebih menekankan Juli akan meningkat, Juli akan meningkat. Itu lebih confirm karena dominan faktor Deltanya.

Itu yang saya bilang tadi, pada kondisi tertentu gelombang terjadi ketika ada dominan dalam hal itu Delta lebih mudah diprediksi. Nah saat ini, ini nggk terlalu dominan, banyak multifaktor. Nah di multifaktor ini dipengaruhi, kalau misalnya pemerintah tiba-tiba bilang tidak ada libur, kemudian dibatasi kayak sekarang PPKM efektif, PPKM ini ketika di gelombang dua makanya saya sampaikan terus supaya pemerintah PPKM-nya kuat. Maksudnya untuk mencegah skenario terburuk dan itu efektif terbukti.

Nah sekarang dengan terus dijaga leveling ini, saya ingatkan PPKM ini harus terus ada sampai pandemi dicabut. Harus ada karena itu jadi senjata untuk menjaga situasi supaya tetap terkendali. Nah kalau itu terus terjadi apalagi terus diperkuat, nah ini bisa mundur. Tapi mundurnya ini kecil, puncaknya menurun, menurun. Makin kuat, makin masyarakat disiplin, makin banyak yang divaksin, ini menurun. Tapi tetap ada.

Ya itu akhir tahun dan awal tahun. Tapi tidak seperti kemarin. Paling burukpun 50.000, ini paling buruk. Kalau waktu gelombang kedua paling buruknya itu hampir 400.000. Ini skenario ya, walaupun saat itu yang ditemukannya di 50.000-an tapi karena testingnya rendah. Ini yang paling buruknya saja di 50.000-an, tidak terlalu banyak memang, tapi harus diingat bahwa mencegah itu lebih baik daripada terinfeksi Covid ini karena Covid ini berdampak jangka panjang.

Sepertiga dari penderita Covid itu akan mengalami long Covid. Nah 70 persen dari sepertiga yang mengalami long Covid itu mengalami kerusakan organ, setidaknya salah satu organ, antara jantung, paru, ginjal, dan hati. Dan itu kan serius. Makanya Amerika sudah mengkategorisasikan penyintas long Covid ini sebagai kelompok disabilitas juga.

Daerah mana saja yang akan mengotribusi paling banyak kasus selama gelombang ketiga pandemi Covid-19?

Nah ini banyaknya luar Jawa. Luar Jawa ini hampir samalah, Sumatera, Kalimantan, termasuk Papua, Nusa Tenggara, kecuali Bali. Jawa Bali kan sudah. Tapi harus diingat bahwa Jawa Bali sekalipun daerah perifernya, pedesaan, perkampungan itu akan berpotensi berkontribusi.

Setidaknya akan terlihat angka kematian meningkat karena kalau kesakitan karena jumlah testing, tracing yang rendah itu membuat tidak terlalu kentara. Tapi yang akan kelihatan nanti indikatornya di kematian. Dan sekarang sudah kelihatan angka kematiannya meningkat. Penurunan itu terjadi di indeks. Indeks itu yang masih menjadi masalah di luar Jawa dan perifernya Pulau Jawa Bali.

Apakah Pulau Jawa masih mengalami lonjakan kasus Covid-19 pada gelombang ketiga pandemi?

Enggak terlalu, ya dibanding luar Jawa dan perifer, aglomerasi terutama tidak signifikan. Berbeda dengan gelombang kedua. Namun, potensinya bisa begini, karena aglomerasi khususnya Jabodetabek karena kapasitas testing, tracing jauh lebih baik dibanding aglomerasi lain, maka bisa terkesan mereka banyak lagi. Tapi sebetulnya karena testingnya dan kecenderungan orang kota untuk datang ke faskes kalau sakit. Beda dengan luar Jawa ataupun perifer, kalau sakit ya di rumah sajalah, enggak dites, pemerintahnya juga kan enggak proaktif. Nah ini yang bisa terjadi. Tapi sebetulnya yang terjadi sebenarnya banyak kasusnya di daerah perifer dan luar Jawa.

Menurut Anda apakah Indonesia akan mampu menghadapi gelombang ketiga pandemi Covid-19?

Nah untuk aglomerasi jelas sudah siap secara kemampuan saat ini, ditambah lebih proteksi karena jumlah cakupan vaksinasinya aglomerasi ini jauh lebih banyak daripada luar Jawa dan perifer. Tapi kalau bicara luar Jawa dan perifer, cenderungnya repot makanya jumlah korbannya bisa banyak. Karena apa? Bicara luar Jawa dan daerah perifer, kesadaran kesehatannya rendah, kemampuan SDM dan infrastruktur kesehatannya juga lemah. Ditambah lagi kalau bicara misalnya di luar Jawa beda dengan di aglomerasi kota raya, itu kalau sakit, misalnya penuh rumah sakitnya itu bisa cari rujukan, banyak opsi rumah sakit. Kalau di luar Jawa apalagi daerah kecil, kalau rumah sakit penuh ya enggak ada lagi pilihan. Mau dirujuk mana? Rumah sakit cuma satu.

Jadi fasilitas kesehatan yang terbataslah yang membuat meskipun gelombang ketiga ini tidak sebesar gelombang kedua, tapi dampaknya bisa lebih mendekati yang kemarin dalam artian korban meninggal, kemudian panik, kurang obat, kurang oksigen, bisa. Karena apa? Karena daerah minim fasilitas kesehatan, menimpa juga daerah secara SDM, secara infrastruktur yang banyak kelemahan, kan di luar Jawa namanya. Ini yang harus diantisipasi.

Apakah gelombang ketiga pandemi Covid-19 bisa dicegah? Kalau bisa, apa saja yang harus dilakukan?

Bisa, bisa. Artinya gini, bisa itu bukan berarti benar-benar bisa enggak ada. Karena dalam prediksi tetap terjadi tapi yang bisa kita lakukan, gelombang itu kan ada yang tinggi banget seperti kemarin gelombang kedua, nah ini puncaknya kecil, bisa dikecilkan. Jadi dengan cara apa? Penguatan kombinasi 3T, 3M dan vaksinasi tadi. Nah kalau dicegah sama sekalinya tampaknya sejauh ini agak sulit karena gini masalahnya, lihat saja Singapura kurang apa sih? Dari semuanya sudah siap, bisa terjadi.

Kenapa saya bilang tidak bisa dicegah? Karena ini kita masih menghadapi krisis Delta variant. Kalau bicara krisis berarti kenapa gelombang masih terjadi karena mayoritas, kita bahkan beda dengan Singapura yang minoritas. Yang meledak-meledak ini kan karena belum divaksin kalau di Singapura. Kita ini yang belum divaksinasi lengkap saja lebih besar dari Singapura, sampai 70 persenan lebih. Jadi sangat logis kalau ini terjadi gelombang ketiga. Kalau tidak banyak ya karena memang kapasitas kita menemukan.

Jadi ketika kita jumlahnya sedikit dibandingkan Singapura, ya kita enggak bisa jumawa aman. Enggak bisa karena testing kita sedikit. Tidak sesuai dengan eskalasi pandeminya itu. Jaring kita itu ibaratnya pakai jaring kecil, di situ-situ doang. Padahal kolam ikan wabah kita gede banget dibanding Singapura. Nah ini yang membuat kemungkinan terjadi. Artinya dicegah bisa dalam bentuk meminimalisir dampak, meminimalisir kasus, meminimalisir juga kematian. Dengan cara apa? Ya penguatan infrastruktur, kecepatan vaksinasi, penguatan 3T dan pembudayaan kedisiplinan 5M. Itu yang harus dilakukan tapi harus secara merata.

Apakah PPKM berbasis level juga perlu diperketat untuk meminimalisir dampak gelombang ketiga pandemi Covid-19?

Untuk dilakukannya sesuai level PPKM-nya, itu sudah benar. Kalau situasinya level 2, ya sesuai indikator itu. Walaupun banyak saya akui itu belum sempurna, itu sudah cukup. Asal jangan ganti-ganti lagi. Sudah cukuplah Indonesia dengan mengadopsi saran WHO menerapkan PPKM level, semua juga begitu. Bahkan negara lain sudah sejak awal pandemi, harusnya seperti itu. Sekarang kita sudah PPKM berbasis level sudah benar, bahwa ada kekurangan di situ, indikatornya, enggak apa-apalah, tapi yang penting konsisten saja.

Jadi berkomitmen menerapkan PPKM berbasis level itu konsisten. Jangan misalnya harusnya 50 persen WFO, ini lebih. Nah yang begitu-begitunya yang merusak. Jadi pengetatan itu sudah enggak perlu, saya kira tidak perlu ditambah-tambah lagi yang penting yang sudah ada dalam Instruksi Mendagri dilakukan. Kita enggak perlu yang sempurna, yang ideal, tapi yang penting adalah strategi yang efektif dan bisa dilaksanakan. Konsisten sembari nanti kan diperkuat, terus diperbaiki, 3T diperbaiki.

Kalau masalah pelonggaran pengetatan sudah relatif cukup menurut saya. Untuk konteks Indonesia ya karena sulit soalnya kalau diperketat lagi masyarakat di bawah sudah wah repot banget. Nah sekarang untuk pemerintah yang penting adalah berkomitmen itu, konsisten itu ke kabupaten kota, termasuk sekarang penguatan 3T dan vaksinasi.

Jika langkah pencegahan yang dilakukan pemerintah tidak efektif dan gelombang ketiga pandemi terjadi, apa yang harus dilakukan untuk menekan kasus kematian?

Yang harus dilakukan ketika gelombang ketiga terjadi karena tidak efektif kita cegah adalah seperti kemarin di gelombang kedua, di daerah itu yang mengalami peningkatan harus PPKM level 4. Langsung PPKM level 4 diberlakukan kemudian lakukan penguatan 3T dan vaksinasi,dijadikan prioritas. Kalau kemarin memang saya menyarankan aglomerasi Jawa Bali dibanjiri dengan vaksinasi karena untuk memberikan perlindungan.

Nah ketika itu terjadi harusnya dari sekarang tentunya dilakukan. Tapi ternyata enggak bisa dicegah, itu penguatan seperti tadi termasuk kita harus siap dengan namanya alhamdulillah kita punya TNI, Polri yang bisa, harus ada inilah rumah sakit darurat, itu harus siap. Menurut saya harus siaplah dengan oksigen, semacamnya karena kemungkinan kan itu daerah-daerah sulit secara geografis dan lain sebagainya. Ini yang tentu kita harus melibatkan peran TNI.

Penerapan PPKM level 4 yang dimaksud harus secara nasional atau khusus wilayah yang mengalami lonjakan kasus Covid-19?

Di daerah itu saja, tidak nasional. Di daerah yang berdampak yang saya prediksi di luar Jawa. Ini yang daerah lainnya sesuai PPKM-nya misalkan 1, 2. Tapi di daerah yang meledak itu harus PPKM level 4 atau semi lockdown.

Apakah ada masukan untuk masyarakat maupun pemerintah untuk mengendalikan Covid-19?

Pertama, saya harus katakan ini bukan untuk membuat panik ya. Tapi secara perhitungan saat ini, nampaknya sulit untuk menghindari, semua negara di dunia. Sulit menghindari gelombang ketiga karena mayoritas penduduknya masih rawan karena belum divaksinasi penuh kedua kali. Kemudian masalahnya varian Delta ini memang luar biasa efeknya sehingga untuk merespons ini kita punya peran.

Masyarakat sudah jangan merasa aman. Memang sudah ada perbaikan, tapi kita harus sadari bahwa berdamai dengan Covid-19 itu artinya kita menerapkan satu perilaku baru yang bisa mencegah perburukan situasi dengan 5M itu. Sehingga kita tidakn terganggu kegiatan sosial ekonomi segala macam. Itu yang jadi PR-nya. Sehingga kalau bicara akhir tahun, direm-rem dululah. Liburnya di dalam kota, libur enggak usah keluar kota, situ-situ saja. Kalau enggak kuat-kuat banget, naik gunung saja yang outdoor.

Tapi yang outdoor itu tidak benar-benar aman. Outdoor di tepi pantai tapi padat ya enggak. Cari yang betul-betul memiliki risiko kecil. Kita semua punya peran dan siapapun kita peran kita sangat berkontribusi apakah itu menjadi baik atau buruk. Oleh karena itu, pilihlah peran terbaik dengan cara dimulai dari kita dan keluarga kita dengan tetap 5M.

Kemudian untuk pemerintah khususnya kabupaten kota kita harus menyadari pandemi belum selesai. Meskipun ada perbaikan tapi bicara pandemi kita lihat Singapura kurang apa sih strateginya tapi kalau untuk kita tidak memperkuat hanya karena merasa aman terus biasa-biasa saja 3T, vaksinasi dan strategi lainnya itu namanya menunggu waktu. Sehingga jangan abai meskipun sudah ada perbaikan, penguatan harus terus dilakukan. Terakhir bahwa prediksi, estimasi, proyeksi epidemiologi itu sebagai dasar strategi mitigasi. Jadi bukan untuk menakut-nakuti. Harus dipahami itu. Semua negara begitu, di ASEAN, Australia juga begitu. Jadi dasar penyusunan strategi mitigasi, cara mencegahnya gimana, ya proyeksi itu.

Nah nanti seperti hal misalnya kira-kira seberapa aman kita atau seberapa besar peluang kita kalau terjadi gelombang ketiga tapi enggak besar, enggak banyak kasusnya? Ya kalau vaksinasi 90 persen bisa kita agak lega, tapi kan belum. Oleh karena itu, bahkan yang 82 persen seperti Singapura saja masih. Kemungkinan besar kalau terjadi maka kita harus antisipasi untuk mitigasi supaya enggak kaget, enggak banyak korban.

Enggak perlu panik juga, saya sampaikan karena gelombang ini ya tiap tahun mungkin ada gelombang. Bahkan skenario terburuk dari pandemi ini kan 2025 selesainya. Skenario terbaiknya akhir 2022. Tapi harus dipahami meskipun, mudah-mudahan enggak ya, misalnya 2025 ya kalau kita bisa konsisten dengan 3T, 5M, vaksinasi, kita bisa terus beraktivitas kok, enggak masalah tanpa terganggu. Sembari menunggu itu enggak masalah. Jadi jangan juga merasa gimana dong. Tapi kuncinya tadi komitmen, konsistensi semua pihak untuk mengendalikan Covid-19. [ded]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini