Enggan Tanggapi Perkembangan Papua, Wiranto Bilang 'Rawat Persatuan, Itu Saja'

Selasa, 20 Agustus 2019 12:27 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Enggan Tanggapi Perkembangan Papua, Wiranto Bilang 'Rawat Persatuan, Itu Saja' Jumpa Pers Wiranto Terkait Kerusuhan di Manokwari. ©2019 Merdeka.com/Ronald

Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM (Menko Polhukam) Wiranto belum mau menanggapi perkembangan terkait kerusuhan yang terjadi di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/8). Dia meminta agar semua pihak untuk memaafkan dan saling menjaga ketenangan.

"Sabar, saling memaafkan, Jaga ketenangan, jaga kedamaian, rawat persatuan itu saja," kata Wiranto usai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jalan Merdeka Utara, Selasa (20/8).

Terkait tudingan rasis ke penghuni asrama mahasiswa Papua di Surabaya dia pun belum mau menanggapi. Dia menilai hal tersebut sudah selesai dan meminta agar memaafkan satu sama lain.

"Apa sih rasis rasis, sudah selesai kita maafkan semuanya," ungkap Wiranto.

Senada dengan Wiranto, sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengomentari kerusuhan yang terjadi di Manokwari, Papua Barat. Jokowi telah memonitor kasus yang terjadi.

Jokowi akui ada ketersinggungan antar masyarakat Papua dan Papua Barat. Namun dia menyarankan semua harus saling memaafkan.

"Sebagai saudara sebangsa dan setanah air, yang paling baik adalah saling memaafkan. Emosi itu boleh tetapi memaafkan itu lebih baik, sabar itu juga lebih baik," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin (19/8).

Diketahui, suasana Kabupaten Manokwari, Papua Barat Senin (19/8) pagi mencekam. Massa melakukan demonstrasi sepanjang Jalan Yos Sudarso Manokwari. Mereka memblokir jalan tersebut. Aksi ini buntut dari peristiwa mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya.

Pada Kamis (15/8) lalu mahasiswa Papua dengan sejumlah warga Malang bentrok. Bentrokan terjadi ketika Aliansi Mahasiswa Papua dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua, melakukan aksi damai mengecam penandatanganan New York Agreement antara Pemerintah Indonesia dan Belanda pada 15 Agustus 1962.

Akan tetapi aksi tersebut berakhir ricuh. Bentrokan terjadi antara mahasiswa Papua dengan sekelompok warga Malang. Akibat peristiwa itu sekitar 23 mahasiswa Papua terluka.

Kemudian pada Sabtu (17/8), TNI-Polri dan organisasi masyarakat (ormas) melakukan pengepungan di asrama mahasiswa Papua. Hal ini dipicu adanya kabar perusakan tiang berbendera merah putih di lingkungan asrama. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini