Eksepsi ditolak, Kompol Fahrizal tetap diadili dalam kasus pembunuhan adik ipar

Senin, 22 Oktober 2018 15:23 Reporter : Yan Muhardiansyah
Eksepsi ditolak, Kompol Fahrizal tetap diadili dalam kasus pembunuhan adik ipar Sidang Kompol Fahriza terkait pembunuhan adik ipar. ©2018 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Eksepsi Kompol Fahrizal (41) ditolak majelis hakim. Mantan Kasat Reskrim Polresta Medan dan Wakapolres Lombok Tengah ini tetap akan diadili dalam perkara pembunuhan terhadap adik iparnya, Jumingan (33).

"Mengadili, menolak seluruh nota keberatan atau eksepsi penasihat hukum terdakwa. Menyatakan surat dakwaan jaksa penuntut umum atas terdakwa Fahrizal sah menurut hukum dan dapat dijadikan dasar pemeriksaan," ucap Desan Togatotop, ketua majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (22/10).

Majelis hakim menilai eksepsi penasihat hukum terdakwa sudah masuk dalam pokok perkara. Penerapan Pasal 44 KUHP bahwa terdakwa mengalami gangguan jiwa, yang diinginkan penasihat hukum, seperti yang disebut dalam eksepsi juga, harus melalui pemeriksaan persidangan. Karenanya, keberatan terdakwa dinilai tidak beralasan dan harus ditolak.

Setelah membacakan putusannya, majelis hakim menunda persidangan. Sidang berikutnya akan dilanjutkan pada pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi.

JPU Randi Tambunan diminta menghadirkan saksi-saksinya pekan depan. "Hadirkan saksi-saksinya ya, karena pihak penasihat hukum tentu juga punya banyak saksi untuk pembuktiannya," kata Desan kepada Randi.

Seusai persidangan, salah seorang penasihat hukum terdakwa, Julhisman mengaku sudah menduga eksepsi mereka akan ditolak hakim. "Niat kami pada eksepsi ini hanya ingin mengungkap fakta-fakta bahwa klien kami mengalami gangguan jiwa yang tidak diungkap di dakwaan, padahal di BAP fakta itu ada. Kami tahu Pasal 44 KUHP itu wewenang hakim dan masuk pokok perkara, makanya kami sudah duga akan ditolak," jelasnya.

Seperti diberitakan, Kompol Fahrizal didakwa melakukan pembunuhan karena menembak mati adik iparnya, Jumingan, Rabu (4/4) malam. Setelah melepaskan 6 tembakan yang tidak beruntun, dia menyerahkan diri ke Polrestabes Medan.

Sebelumnya, penasihat hukum menolak dakwaan dan menyatakan perwira menengah itu mengalami gangguan jiwa sejak 2014. Dia bahkan beberapa kali dibawa berobat ke Klinik Utama Bina Atma di Jalan HOS Cokroaminoto, Medan.

Penasihat hukum menilai Fahrizal tidak dapat dikenakan dakwaan karena sudah mengalami gangguan kejiwaan akut atau skizofrenia paranoid tiga tahun sebelum peristiwa penembakan terjadi.

Menurut penasihat hukum, penembakan yang dilakukan Fahrizal terhadap Jumingan, yang merupakan suami adiknya Heny Wulandari, pada 4 April 2018 lalu, dilakukan tanpa sadar atau di luar logika kesadarannya. Bahkan, terdakwa datang ke lokasi kejadian awalnya hanya untuk melihat ibunya Sukartini yang baru sembuh dari sakit.

Setelah penembakan terjadi, pihak penyidik Polda Sumut juga melakukan pemeriksaan terhadap Fahrizal di RS Jiwa Prof Dr Muhammad Ildrem. Dokter yang memeriksanya pada 23 April 2018 menyebutkan bahwa Fahrizal mengalami skizofrenia paranoid. [did]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini