Edy Rahmayadi Temukan Beras Impor Berbau Apak Beredar di Medan

Rabu, 4 Desember 2019 13:59 Reporter : Yan Muhardiansyah
Edy Rahmayadi Temukan Beras Impor Berbau Apak Beredar di Medan Peninjauan harga pangan jelang Natal dan Tahun. ©2019 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Beras impor berbau apak ditemukan beredar di pasar tradisional dan gudang Bulog Sumut. Temuan ini belum termasuk dalam 20.000 ton beras impor yang akan di-disposal.

Peredaran beras impor yang mengalami penurunan mutu itu ditemukan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi dan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono, saat meninjau Pusat Pasar Medan dan Gudang Bulog Wilayah Sumut, Jalan Mustafa, Medan, Rabu (4/12).

Edy bersama jajaran melakukan peninjauan dalam rangka identifikasi ketersediaan dan harga pangan pokok jelang Natal dan Tahun Baru.

Saat bertemu dengan pedagang beras, rombongan menemukan adanya beras yang sudah berbau apak. Edy pun berbincang dengan salah seorang pedagang, Acun yang mengaku baru sepekan membeli beras itu dari distributor.

Dia mengatakan, komoditas itu tidak laku karena berbau apak. "Kalau bisa, beras ini diambil saja, Pak. Tak laku. Bau," kata Acun.

Edy bahkan turut mencium beras dari dalam karung itu. Benar saja, beras itu berbau. "Iya bau apak. Mana Bulog? Tarik saja yang berbau," ujarnya.

2 dari 3 halaman

Edy mengatakan temuan itu akan dievaluasi. Dia berharap hal ini tidak menjadi polemik yang dapat meresahkan masyarakat.

"Kita akan mencari yang terbaik. Bulog ini kan milik kita. Untuk itu terima kasih semuanya sama-sama kita awasi ini," jelasnya.

Sementara, Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono mengatakan, temuan beras berbau itu akan mereka tindak lanjuti. Dia mengungkapkan, pihaknya akan koordinasikan dengan Bulog.

"Ya nanti kita lihat, kita uji di lab ya. Apakah itu masih bisa dikonsumsi," ucapnya.

3 dari 3 halaman

Beras Impor Alami Penurunan Kualitas

Sementara, Pemimpin Wilayah Kantor Wilayah Bulog Sumut, Arwakudin Widiarso mengakui, beras impor yang apak atau mengalami penurunan mutu itu diimpor dari Thailand dan India akhir 2018. Yang diimpor ketika itu sekitar 20-an ribu.

"Tapi kondisinya sebagian dalam kondisi bagus. Tapi dilihat Pak Gubernur tidak semuanya juga," jelasnya.

Menurut Arwakudin, penurunan mutu beras itu lebih disebabkan persoalan umur simpan. Beras impor yang bau apek di Sumut itu belum termasuk dalam 20.000 ton beras yang akan di-disposal Bulog Pusat.

"Di Sumut belum termasuk yang disampaikan itu. Nanti kan ada evaluasi salah satunya dari Kementerian Perdagangan. Tapi tadi dari visual kondisinya cukup bagus karena pada saat dibeli juga kondisi bagus," tutupnya. [fik]

Baca juga:
Lelang 20.000 Ton Beras Disposal, Bulog Tunggu Putusan Kompensasi Pemerintah
Bulog Soal Beras Disposal: Tak Dimusnahkan,Bisa Dijual Atau Untuk Bantuan Kemanusiaan
Musim Kemarau, Harga Gabah Kering Naik
Kemenkeu Tak Bayar Penyaluran Beras untuk Bencana, Bulog Terancam Rugi Rp39 Miliar

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini