Duka dan Ironi Pragmatisme Desa Wisata di Banyumas Akibat Wabah Corona

Sabtu, 18 April 2020 09:34 Reporter : Abdul Aziz
Duka dan Ironi Pragmatisme Desa Wisata di Banyumas Akibat Wabah Corona Desa wisata di Banyumas. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Kisi-kisi potongan batang bambu nampak masih basah baru dilapisi cat plitur. Slamet Setiawan, membagi foto sudut-sudut saung miliknya melalui aplikasi berbagi pesan. Ia menulis pesan singkat berisi begini: 'tinggal finishing'.

Saung itu telah jadi bagian penting penyambung hidup bagi keluarga Slamet sejak 6 tahun silam. Keberadaannya, jadi pelopor kedai kuliner pedesaan di Desa Wisata Karangsalam, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas.

Sejak awal Februari 2020, Slamet memutuskan memulai peremajaan saung. Bayangannya, saat Ramadan tiba, pengunjung yang datang untuk berbuka bersama akan mendapati suasana baru. Awalnya peremajaan berjalan mulus. Semula, Slamet mempekerjakan dua buruh harian untuk membantunya.

"Saya sekarang, sudah tidak ada pendapatan lagi. Rencana meleset semua. Terpaksa, dua orang yang bantu peremajaan saung saya hentikan awal April kemarin. Sudah 17 hari, saya mengerjakan sendiri," kata Slamet yang sekaligus Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tirta Kamulyan Desa Karangsalam, Jumat (17/4).

Desa Karangsalam memang tengah hits jadi tujuan wisata favorit di Kabupaten Banyumas. Puluhan curug, sebutan untuk air terjun dalam bahasa Banyumas, tersebar di sejumlah lokasi jadi bagian kekayaan alam. Sawah menghampar berundak-undak. Di utara menjulang Gunung Slamet yang kebiru-biruan, gunung tertinggi di Jawa Tengah berpuncak 3.428 mdpl.

Selama dua tahun terakhir, fasilitas camping ground, kedai kuliner pedesaan, serta guesthouse marak didirikan di kawasan wisata desa ini. Para pelancong beramai-ramai datang. Tapi, pandemi Covid-19 atau Corona Virus mengubah segalanya. Kini keadaan berbalik, para pelancong tak lagi datang.

"Perekonomian mulai lumpuh tanggal 15 Maret kemarin," katanya.

Slamet bercerita, enam destinasi wisata seperti Curug Telu, Grojokan Ratu sampai Taman Wisata Bambu Baturraden berhenti beroperasi sejak sebulan silam. Dampak ikutannya, dua puluhan akomodasi wisata seperti guesthouse dan kedai kuliner tutup sebab makin minim pengunjung.

Memilih tetap berjualan di tengah situasi tak menentu, kata Slamet, hanya akan menggerus modal untuk biaya operasional. Selain itu 50 pelaku keanggotaan pokdarwis terpaksa menganggur. Ini belum terhitung pelaku wisata lain di luar pokdarwis.

"Untuk bertahan hidup masih bingung banget. Kita memaksakan buka malah minus. Semoga semua ini cepat berlalu," kata Slamet.

Lahan pertanian, sawah diakui oleh Slamet memang terhampar luas di Desa Karangsalam. Tapi, ia juga mengakui, banyak orang termasuk dirinya sudah terlalu lama bertumpu ke wisata. Pengetahuan mengelola pertanian tak lagi mereka kuasai.

Baca Selanjutnya: Pertanian Sabuk Pengaman...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini