Dua Napiter Bebas, Total 8 Orang Keluar dari Penjara di Jatim Tahun Ini

Minggu, 15 Mei 2022 23:00 Reporter : Erwin Yohanes
Dua Napiter Bebas, Total 8 Orang Keluar dari Penjara di Jatim Tahun Ini Pembebasan napi kasus terorisme di Jatim. ©2022 Merdeka.com/Erwin Yohanes

Merdeka.com - Dua narapidana kasus terorisme (napiter) dibebaskan dari dua lapas di Jatim. Keduanya sebelumnya dihukum karena pernah berafiliasi dengan jaringan Jamaah Jihadiah dan ISIS.

Kakanwil Kemenkumham Jatim Zaeroji menyatakan, dengan bebasnya dua napiter itu, maka total napiter yang bebas selama 2022 menjadi delapan orang. Tahun lalu, napiter yang bebas dari lapas/rutan di Jatim berjumlah 11 orang.

"Dari delapan, enam dinyatakan bebas murni, dua lainnya mendapatkan hak pembebasan bersyarat," ujarnya, Minggu (15/5).

2 dari 4 halaman

Telah Penuhi Syarat

Menurut Zaeroji, dua napiter mendapatkan hak pembebasan bersyarat karena telah memenuhi beberapa syarat. Salah satunya, mereka sudah berikrar setia kepada NKRI.

Sementara itu enam napiter yang bebas murni telah menjalani pidana badan sesuai putusan pengadilan. Keenamnya tercatat belum menyatakan ikrar setia ke NKRI.

Seorang napiter bebas dari Lapas IIA Sidoarjo. Napiter berinisial AF dinyatakan bebas murni pada 12 Mei 2022 lalu. "AF bebas setelah menjalani masa hukuman 9 tahun pembinaan di lapas," tegasnya.

3 dari 4 halaman

Berencana Bunuh Wakil Wali Kota Makassar

Keterlibatan AF dalam jaringan teroris terjadi saat bekerja di toko Nangka, Cipulir, Jakarta Selatan. Toko tersebut milik Agus Widarto alias Agus Nangka yang merupakan anggota Jamaah Jihadiah pimpinan Abu Roban.

Pada pertengahan 2012, Abu Roban kemudian menunjuk AF dan seorang temannya untuk berangkat ke Makassar. Pada Agustus 2012 keduanya berangkat. Di bulan yang sama, mereka berencana untuk membunuh Wakil Wali Kota Makassar pada saat itu.

"AF selama di lapas memang menyendiri dan belum menyatakan ikrar ke NKRI. Namun dia juga tidak pernah berbuat onar," ungkapnya.

4 dari 4 halaman

Wajib Lapor

Sementara itu, seorang lagi napiter yang dinyatakan bebas adalah GJP. Bedanya, GJP bebas melalui program integrasi pembebasan bersyarat. Meskipun bebas, GJP masih di bawah pengawasan Balai Pemasyarakatan.

"GJP wajib melapor setiap minggu ke Pembimbing Kemasyarakatan yang menanganinya," terangnya.

GJP ditangkap di DI Yogyakarta pada medio 23 September-11 Oktober 2019. Dia ditangkap bersama istrinya NOS. Keduanya pernah aktif dalam kelompok yang berafiliasi dengan ISIS.

Secara umum, Zaeroji menjelaskan bahwa kepribadian GJP selama menjalani masa hukuman di Lapas Kelas I Malang cukup baik. Dia dapat mengikuti program-program pembinaan yang diselenggarakan pihak lapas. Pihaknya berharap GJP tidak mengulangi kembali perbuatannya setelah bebas dari masa hukumannya.

"Kami berharap setelah bebas, keduanya dapat kembali dan diterima oleh masyarakat, sehingga tidak kembali ke kelompok lamanya," ujarnya.

[yan]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini