Komisi III DPR pertanyakan kinerja BNPT untuk bina napi terorisme

Rabu, 30 Mei 2018 13:39 Reporter : Sania Mashabi
Komisi III DPR pertanyakan kinerja BNPT untuk bina napi terorisme desmond j mahesa. ©2017 Merdeka.com/dpr.go.id

Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond Junaidi Mahesa mempertanyakan peran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam melakukan pembinaan terhadap narapidana terorisme di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas). Sebab dikhawatirkan pemikiran narapidana terorisme membaur dengan narapidana lain.

"Dalam konteks pembinaan di lapas di Nusakambangan ini juga kami komisi III ingin lihat ada nggak peran BNPT dalam proses kerjasama keterlibatan dengan Menteri Hukum dan HAM khususnya Dirjen Lapas," ujar Desmond saat rapat dengar pendapat dengan BNPT dengan Komisi III DPR, Rabu (30/5).

Desmond juga mengaku sempat mendapat keluhan dari Kepala Lapas Nusakambangan terkait keberadaan napi terorisme pascanapi teroris dari kerusuhan tahanan di Mako Brimob masuk.

Kepala Lapas, kata Desmond, sempat meminta jalan tikus menuju Nusakambangan dijaga. Hal itu dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Mereka (Kepala Lapas) minta ke saya tolong sampaikan ke pimpinan Polri tolong jalur-jalur tikus ke Lapas Nusakambangan, tolong diawasi, tolong diperketat," ungkapnya.

Politikus Partai Gerindra itu menambahkan, pihak Lapas melarang napi terorisme ikut salat tarawih berjamaah demi mencegah pembauran yang tidak diinginkan. Karena itu, ia berharap ada penanganan lanjutan bagi para mantan tahanan.

"Jadi perlu penanganan lanjutan, karena kasus Mako Brimob aja jebol apa lagi nusambangan. jalur-jalur tikus ke arah Nusakambangan juga perlu diantisipasi. Kita butuhkan adalah bentuk konkret agar kemungkinan peristiwa di mako brimob tidak terjadi lagi," kata Desmond.

Ketua BNPT Suhardi Alius mengakui keluhan tersebut juga diterima dari Kementerian Hukum dan HAM, khususnya dari Dirjen Lapas. Suhardi dan Dirjen Lapas sepakat juga akan melibat Pori dan TNI untuk menjaga jalan tikus tersebut

"Nusakambangan memang banyak sekali. Dulu kami pernah ke Nusakambangan, itu banyak kontrakan di sekitar itu dan kontrakannya juga ternyata orang-orang yang punya hubungan keluarga yang ada di dalam. Ini yang perlu diantisipasi," kata Suhardi. [ded]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini