Diskusi Karl Marx di Kampus ISBI Bandung dibubarkan FPI

Rabu, 11 Mei 2016 16:28 Reporter : Andrian Salam Wiyono
Diskusi Karl Marx di Kampus ISBI Bandung dibubarkan FPI FPI demo Ahok. ©2015 merdeka.com/fikri faqih

Merdeka.com - Organisasi masyarakat dari Front Pembela Islam (FPI) kabarnya membubarkan diskusi pemikiran Karl Marx, digagas Lembaga Pers Mahasiswa Daun Jati, di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Alasan pembubaran lantaran kegiatan itu dinilai berpotensi memecah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pembubaran diskusi diikuti sekitar 70 peserta dari kampus seni itu dilakukan pada Selasa (10/5), pukul 11.00 WIB. Sebelum pembubaran dilakukan, massa FPI sempat melakukan dialog. Hanya saja, mereka ngotot menyebut diskusi tidak bisa dilanjutkan karena dianggap mengusung ideologi komunisme.

Menurut Pemimpin Umum dari LPM Daunjati ISBI Bandung, Mohamad Chandra Irfan, menampik tuduhan itu. Dia menyatakan tidak ada penyebaran ideologi seperti dimaksud massa FPI.

"Dari mana PKI-nya? Kami hanya kelas pemikiran Karl Marx. Enggak ada gerakan politik di sini. Karena ini hanya pengetahuan saja," kata Irfan kepada merdeka.com, Rabu (11/5).

Irfan mengatakan, kegiatan Sekolah Marx dengan tema, 'Memahami Seni Lewat Pemikiran Karl Marx', merupakan kegiatan sudah berjalan sejak Februari, dan berakhir Mei 2016. Lingkupnya pun digelar di mimbar kampus.

Massa FPI kemarin sempat datang satu per satu mengenakan pakaian preman. Namun, teriakan-teriakan supaya gelaran itu dibubarkan semakin kencang terdengar. Ternyata massa itu ada sekitar 50 orang yang ingin merangsek masuk. Menurut dia, teriakan itu membikin mahasiswa tersulut emosinya. Adu mulut sempat terjadi karena LPM Daun Jati berkeras diskusi harus tetap digelar.

"Dari FPI ada yang datang dan menghampiri, 'Bubarkan saja. Kalian PKI.' Saya bilang, 'saya Islam. Dari mana PKI-nya.' Dia malah ngusir saya. Saya bilang, 'kamu yang keluar, ini kampus saya," ujar Irfan dengan nada meninggi menirukan saat kejadian.

Irfan menyayangkan sikap polisi lantaran tidak tegas dengan tindakan FPI. Polisi dianggap tidak menjamin hak demokratis, apalagi kegiatan dilakukan di lingkungan kampus pesertanya juga terbatas.

"Polisi kemarin kikuk. Malah ada yang minta kami keluar. Loh ini kampus saya kok malah saya yang keluar. Akhirnya kami di suruh di dalam saja," ucap Irfan.

Meski kondisi sempat memanas, tetapi menurut Irfan tidak ada kontak fisik secara langsung. Suasana mulai mereda satu jam kemudian, usai pihak kampus memberikan surat pernyataan pemberhentian kegiatan 'Sekolah Marx' kepada ormas FPI. Selepas itu, FPI membacakan surat pernyataan dari kampus yang diteken Wakil Rektor III, Suhendi Afriyanto.

Irfan menyatakan, kegiatan 'Sekolah Marx' digelar atas persetujuan pihak kampus ISBI Bandung, di bawah Wakil Rektor I, Benny Yohannes. Menurutnya, rangkaian kegiatan baru akan berakhir 18 Mei mendatang.

"Kami tetap akan menggelar pada 18 Mei nanti. Karena itu sekaligus juga penutupan," imbuh Irfan.

Irfan berharap, kepolisian bisa menjamin keamanan kegiatan pamungkas, yang rencananya bakal langsung dihadiri pembicara absen pada Selasa kemarin. [ary]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini