Dirambah warga ilegal, hutan Taman Nasional Tesso Nilo semakin rusak

Jumat, 19 Agustus 2016 16:32 Reporter : Abdullah Sani
Dirambah warga ilegal, hutan Taman Nasional Tesso Nilo semakin rusak Ilustrasi Kebakaran Hutan. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten Pelalawan, Riau, semakin rusak. Diduga banyaknya kerusakan ini akibat banyaknya penduduk menempati wilayah dilindungi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu.

Kepala Balai TNTN, Darmanto mengatakan, terdapat sekitar 4.000 kepala keluarga (KK) menduduki sekaligus merambah hutan milik negara itu secara ilegal. "Ada sekitar 4.000 KK di Pelalawan yang berada di kawasan TNTN," kata Darmanto, Jumat (19/8).

Menurut Darmanto, keberadaan perambah hutan itu sudah masif. Sebagian besar dari para perambah itu,bukanlah penduduk asli Riau, melainkan pendatang dari luar daerah, seperti Sumatera Utara dan Pulau Jawa.

"Keberadaan perambah sudah sangat mengkhawatirkan. Dari 81.700 hektare luas TNTN yang ditetapkan pada 2014 lalu, 60 persennya telah dirambah," ucapnya.

Perambahan sendiri, menurut dia, telah dilakukan selama belasan tahun lamanya. Ironisnya, 20 ribu hektar lahan di wilayah telah disulap menjadi perkebunan sawit.

"Saat ini hutan yang tersisa 23 ribu hektare. Yang sudah menjadi perkebunan sawit 20 ribu hektar, 38 ribu hektar lainnya jadi semak belukar dan pohon kecil (bekas dirambah)," jelasnya. Untuk selanjutnya, Darmanto telah melakukan reformasi perencanaan untuk dapat memperbaiki 38 ribu hektar lahan rusak dan bekas dirambah itu ditanami kembali.

Terkait keberadaan 20 ribu lahan sawit di TNTN, dia mengatakan masih perlu membahas dengan KLHK. Sementara, untuk menangani keberadaan ribuan perambah, pihaknya segera berkoordinasi dengan pemerintah Pelalawan, TNI dan Polri.

Banyaknya penduduk ilegal ini, diduga menyebabkan 20 hektar lahan di kawasan TNTN terbakar, Kamis (18/8) kemarin. Kapolda Riau Brigjen Supriyanto mengungkapkan, untuk memadamkan api, puluhan petugas dari jajaran Polres Pelalawan hanya mengandalkan mobil tangki berisi 5.000 liter air.

"Anggota berusaha melakukan pemadaman meski kesulitan mencari sumber air di sini, ditambah lagi alat pemadam hanya satu," ujar Supriyanto saat berbincang dengan merdeka.com.

Kawasan TNTN terletak jauh dari jalan lintas timur. Membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk mencapai lokasi. Lokasi yang terbakar saat ini berbatasan dengan lahan milik PT Riau Andalan Pulp and Paper.

Melihat api belum bisa dipadamkan, Supriyanto mengaku telah menghubungi Bupati Pelalawan Harris guna meminta bantuan. Bukan hanya itu, Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rahman juga telah dimintai bantuan guna memadamkan api.

"Pak Bupati, kawasan ini hutan dunia. Milik kita bersama, saya sudah di lokasi kebakaran di TNTN ini. Alat hanya 1, sumber air tidak ada," kata Supriyanto saat menghubungi Bupati Harris melalui selulernya. Hal senada juga disampaikan Supriyanto kepada Arsyadjuliandi Rahman.

Menurut Supriyanto, Gubernur Riau kaget mengetahui kawasan hutan digarap masyarakat ilegal. "Pak Gubernur, saya di lokasi TNTN sekarang, ini sudah 20 hektare yang terbakar dan belum padam," kata Supriyanto saat menghubungi Gubernur Riau.

Supriyanto juga berjanji menyelidiki pembakaran hutan ini. "Ini kami langsung selidiki, siapa pelaku pembakaran di lokasi TNTN dan mudah-mudahan dapat segera ditangkap. Api belum padam, sebab di sini tidak ada sumber air, harus keluar hutan lagi mencari air," terangnya. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini