Diperiksa perdana sebagai tersangka, Dahlan Iskan irit bicara

Selasa, 16 Juni 2015 11:26 Reporter : Juven Martua Sitompul
Diperiksa perdana sebagai tersangka, Dahlan Iskan irit bicara Dahlan Iskan. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman

Merdeka.com - Mantan Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN), Dahlan Iskan kembali masuk ke ruang penyidikan Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta. Kali ini, Dahlan akan menjalani pemeriksaan dalam kapasitasnya sebagai tersangka dugaan korupsi pengadaan proyek pembangunan 21 gardu induk Jawa-Bali-Nusa Tenggara Barat tahun 2011-2013.

Dahlan yang didampingi kuasa hukumnya, Yusril Ihza Mahendra tidak mau berkomentar banyak terkait pemeriksaan tersebut. Dahlan selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) saat proyek itu berlangsung mengaku sehat untuk menjalani pemeriksaan. "Alhamdulillah sehat," singkat Dahlan di Kejati DKI, Jakarta, Selasa (16/6).

Sementara, Yusril menuturkan kalau Dahlan akan kooperatif selama menjalani pemeriksaan. Tak hanya itu, dia berkeyakinan kalau Dahlan tidak melakukan penyalahgunaan wewenang yang dituduhkan ke kliennya.

Bahkan, Yusril sesumbar dalam mega proyek yang dipimpin Dahlan itu tidak pernah menelan anggaran hingga mencapai Rp 1,063 triliun.

"Pak Dahlan akan jelaskan segala sesuatunya, kita lakukan telaah mendalam. Kami berkeyakinan tidak ada hal yang dilanggar, tidak ada kerugian negara dan tidak ada norma hukum yang dilanggar," ujarnya.

Lebih jauh, Yusril mengklaim saat proyek pembangunan 21 gardu induk itu bergulir, Dahlan bukan pimpinan di PLN. Padahal, mantan Menteri BUMN ini di tetapkan sebagai tersangka lantaran adanya bukti-bukti kuat yang mengarah kalau Dahlan ikut terlibat mengingat saat proyek itu berjalan Dahlan menjabat sebagai KPA.

"Dan sebagian besar masalah terjadi pasa saat Dahlan tidak lagi jadi Dirut PLN. Perlu sangat diperhatikan penyidik masalah waktu periode yang sebenarnya, masalah yang disangkakan tidak saat Pak Dahlan jadi Dirut," tandasnya.

Seperti diketahui, Dahlan Iskan yang pernah menjabat sebagai Menteri BUMN ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan proyek pembangunan 21 gardu induk Jawa-Bali-Nusa Tenggara Barat senilai Rp 1,063 triliun oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta. Dia ditetapkan sebagai tersangka setelah menjalani dua kali pemeriks [efd] SELANJUTNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini