Diduga cabuli remaja pria, Saipul Jamil punya masalah kejiwaan?

Minggu, 21 Februari 2016 07:38 Reporter : Supriatin
Diduga cabuli remaja pria, Saipul Jamil punya masalah kejiwaan? Saipul Jamil. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Pedangdut Saipul Jamil diringkus polisi pada Kamis (18/2) pagi, setelah dilaporkan korban DS (17) dalam kasus dugaan pencabulan yang dilakukan di rumahnya. Ipul sapaan akrab Saipul Jamil mulanya mengajak korban ke rumahnya di kawasan Kelapa Gading.

Dia lalu meminta korban memijit dan menginap. Perbuatan tidak senonoh dilakukan Ipul terhadap korban sekitar pukul 04.00 WIB saat korban tertidur pulas.

Hingga saat ini, Ipul masih ditahan Polsek Kelapa Gading untuk diproses lebih lanjut. Meski sudah diamankan polisi, perbuatan Ipul masih menjadi teka-teki bagi publik. Pasalnya, selama ini Ipul dikenal memiliki banyak wanita bahkan sudah dua kali menikah.

Dengan melakukan pelecehan terhadap sesama jenis, kejiwaan duda itu pun dipertanyakan. Namun bagaimana menurut psikolog?

Reza Indragiri Amriel, lulusan Psikologi UGM yang juga pegiat Gerakan Indonesia Beradab mengatakan, perbuatan yang dilakukan Ipul terhadap DS merupakan representasi dari pedofilia atau efebofilia dan homoseksual (gay). Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) merupakan 'orang dengan masalah kejiwaan', karenanya Ipul bisa disimpulkan memiliki masalah kejiwaan.

"Ipul mirip dengan para terpidana di dalam penjara, secara dalam tempo singkat berubah menjadi seorang homoseksual fakultatif. Dia menjadi lelaki homoseksual (gay), LGBT merupakan 'orang dengan masalah kejiwaan'," kata Reza kepada merdeka.com, Minggu (21/2).

Reza mejelaskan, dalam rekomendasi Komisi Perlindungan anak Indonesia (KPAI) tercantum kata 'pedofilia' dan 'homoseksual'. Dua kata ini, kemudian ditanggapi beragam, termasuk kecaman oleh kalangan pro-LGBT yang dianggap mengait-ngaitkan pedofilia sebagai kejahatan dengan homoseksual diposisikan sebagai orientasi seksual yang wajar.

Dalam kasus pencabulan ini, kata Reza, korban DS memang masih tergolong anak-anak. Karena itulah, Ipul diberi julukan sebagai tersangka atau pelaku kejahatan pedofilia.

"Sebutan pedofilia menghadirkan kompleksitas tersendiri, karena menumpang-tindihkan tiga klasifikasi yang berbeda ke dalam terma tunggal. Pedofilia sebenarnya dikenakan terhadap individu dengan ketertarikan seksual terhadap anak-anak prapubertas," lanjut Reza.

Apabila anak-anak yang menjadi sasaran ketertarikan seksual telah masuk ke usia puber, maka sebutan spesifik bagi pelakunya adalah hebephilia. Sedangkan ketika si pelaku tertarik pada orang berusia pascapuber dan belum mencapai usia dewasa, istilah yang dikenakan kepadanya adalah ephebophilia.

"Dalam kasus Ipul, sebagai konsekuensi UU Perlindungan Anak, korbannya belum memiliki kewenangan untuk menyatakan setuju atau tidak setuju atas perilaku seksualnya. Si korban, dengan kata lain, belum berada pada age of consent. Atas dasar itu, sekalipun Dia menyetujui kontak seksual, namun persetujuan itu mutlak harus diabaikan," jelas dia.

Tetapi secara normatif, tambah Reza, korban sebagai anak-anak juga tidak sederhana karena baik secara fisik maupun psikis, dia berbeda jauh dengan individu-individu yang benar-benar masih tergolong anak-anak (berumur enam atau tujuh tahun, misalnya).

"Persoalannya, apakah Saipul benar-benar seorang efebofil? Atau jika kembali ke istilah yang umum dipakai, apakah Saipul benar-benar seorang pedofil? Jawabannya adalah ya," tegasnya.

Seperti halnya pedofilia, efebofilia pun dapat dibedakan ke dalam dua tipe. Pertama, efebofilia situasional, yaitu orang-orang dewasa yang ketertarikan seksualnya sesungguhnya tertuju semata-mata pada orang dewasa pula. Namun terdapat situasi-situasi tertentu yang membuat dia menyalurkan hasrat seksualnya kepada target pradewasa.

Kedua, efebofilia preferensial. Berbeda dengan tipe pertama, orang dewasa yang termasuk dalam tipe kedua ini minat seksualnya terarah hanya kepada mereka yang berusia pradewasa. Dia tidak tertarik pada sesama orang dewasa. Dan, didorong oleh berahinya itu, dia kemudian menyalurkannya juga kepada mereka yang belum memasuki umur dewasa tersebut.

"Ipul, berdasarkan riwayat hidupnya dimana dia pernah menikah dan berpacaran dengan orang dewasa, kiranya termasuk dalam efebofilia tipe kedua. Pemunculan berahinya untuk melakukan kontak seksual dengan remaja berlangsung lebih dikarenakan faktor situasi," ujar Reza.

Dengan asumsi Ipul adalah seorang efebofilia situasional, pertanyaan bisa saja muncul mengapa dia mengincar orang dengan jenis kelamin yang sama. Padahal, bagi selebritas sekelas Ipul, ditambah lagi dengan karut-marutnya kehidupan banyak remaja ibu kota, hampir bisa dipastikan tidak sulit bagi dia untuk membuncahkan syahwat seksualnya ke lawan jenis.

"Setali tiga uang, yang kuat berpengaruh terhadap diri Saipul pada saat kejadian adalah faktor situasi. Dia menjadi lelaki homoseksual (gay) dikarenakan pada saat itu dan di situ tidak terdapat perempuan yang dapat dijadikan sebagai objek pemuas berahi Ipul yang sejatinya merupakan seorang lelaki heteroseksual," tutup Reza. [rnd]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Pelecehan Saipul Jamil
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini