Detik-Detik Pelantikan Presiden Soeharto dan Janji Tak Ada Diktator

Jumat, 18 Oktober 2019 08:25 Reporter : Ramadhian Fadillah
Detik-Detik Pelantikan Presiden Soeharto dan Janji Tak Ada Diktator Soeharto. ©buku gramedia/hj siti hardiyanti rukmana

Merdeka.com - Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Semesta V itu berakhir nyaris tengah malam. Sejarah baru tercatat. MPRS melantik Soeharto sebagai Presiden kedua Republik Indonesia tanggal 27 Maret 1968. Dia menggantikan Presiden Soekarno yang pernah ditasbihkan sebagai presiden seumur hidup.

Soeharto datang ke sidang MPRS kelima itu sebagai pejabat presiden. Kali ini dia tak mengenakan seragam militer jenderal Angkatan Darat. Soeharto datang dengan pakaian sipil dan peci.

Perdebatan dan diskusi terjadi sepanjang sidang. Sejumlah utusan mahasiswa, militer dan pimpinan parpol mendesak Soeharto mau dilantik menjadi presiden kedua Republik Indonesia. Bukan lagi sebagai pejabat presiden. Lobi-lobi terjadi sampai malam hari. Sebelum akhirnya Soeharto mau menerima.

Pelantikan Soeharto dipimpin Jenderal Abdul Haris Nasution, satu-satunya jenderal senior yang selamat dari penculikan G30S. Soekarno yang sudah menjadi tahanan rumah, tak hadir kala pelantikan Soeharto. Dia hanya mengirim surat beberapa hari kemudian. Isinya ucapan selamat. Soekarno juga mengaku tak berminat lagi menjadi presiden dan minta diizinkan tinggal di Batu Tulis, Bogor.

Dalam pidato pertamanya sebagai presiden, Soeharto berjanji akan melaksanakan amanah yang diberikan MPRS dengan sebaik-baiknya.

"Untuk menegakkan hukum, menegakkan konstitusi dan menegakkan demokrasi," kata dia di Gedung MPRS, Jakarta.

Baca Selanjutnya: Janji Tak Boleh Ada Diktator...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini