Denny JA bicara toleransi di diskusi Frankfurt Book Fair

Senin, 19 Oktober 2015 11:23 Reporter : Rizky Andwika
Denny JA bicara toleransi di diskusi Frankfurt Book Fair Denny JA jadi pembicara di diskusi Frankfurt Book Fair. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia merupakan barometer menuntaskan diskriminasi. Jika Indonesia berhasil, kawasan Muslim lainnya akan berpotensi melakukan hal yang sama.

Hal tersebut disampaikan oleh Denny JA di Frankfurt, Jerman, dalam diskusi hari ketiga di momen Frankfurt Book Fair. Diskusi itu secara khusus membahas bukunya 'Sapu Tangan Fang Yin' yang terbit dalam edisi Bahasa Jerman, dan sempat menjadi best seller di toko online terbesar dunia, Amazon.com.

Turut hadir membahas buku Denny JA adalah Michael B mewakili pemerintahan lokal Frankfurt, Berthold Damshauser, Jamal D Rahman, dipandu moderator Andrea Scmith.

Denny JA mengutip hasil survei Pew Research Center. Di tahun 2013, lembaga ini mengeluarkan daftar negara yang dianggap paling mampu melindungi kebebasan agama. Uniknya, yang tertinggi justru adalah negara yang bukan dari kawasan kultur liberal Barat, seperti Brazil, Afrika Selatan dan Filipina.

"Pada dasarnya apapun kulturnya, semua negara potensial melindungi kebebasan agama. Namun memang tak termasuk dalam kriteria itu aneka negara yang tumbuh dalam tradisi agama Islam," kata Denny melalui siaran persnya, Senin (19/10).

Dalam ranking 10 besar negara pelindung kebebasan agama, tak satu pun berasal dari kawasan Muslim. Indonesia, ujar Denny, cukup berhasil mengatasi diskriminasi rasial etnik Tionghoa. Namun belum berhasil mengatasi diskriminasi agama yang kini justru semakin parah.

Puisi panjang 'Sapu Tangan Fang Yin' yang ditulis Denny JA adalah kisah sukses etnik Tionghoa. Di tahun 98 ada beberapa gadis Tionghoa yang diperkosa massal dalam kerusuhan etnik.

"Kini sudah ada warga Tionghoa yang menjadi menteri. Sudah ada program TV berbahasa Tionghoa," ujarnya.

Ketika diskriminasi kepada etnik Tionghoa relatif selesai, kini Indonesia justru tercatat sebagai satu dari tujuh negara terburuk dalam diskriminasi agama di tahun 2014. Indonesia termasuk terburuk bersama dgn negara Irak, Mesir, Afganistan dan Rusia.

"Indonesia memerlukan reformasi Islam sebagaimana yang dalam agama Kristen. Islam memerlukan tokoh sekelas Martin Luther yang mampu mengubah wajah Kristen," ujar Denny JA.

Peran Indonesia untuk mengubah wajah Islam yang lebih ramah menjadi signifikan bagi dunia. Apalagi diprediksi di tahun 2070, penganut Muslim diproyeksikan akan menjadi agama terbesar di dunia.

Saat itu, ujar dia, hanya wajah Islam yang ramah, yang sejalan dengan prinsip hak asasi manusia, yang bisa membangun peradaban baru yang anti diskriminasi.

"Jika Indonesia cukup berhasil mengatasi diskriminasi etnik Tionghoa, seharusnya tak ada alasan Indonesia gagal mengatasi diskriminasi agama," imbuhnya. [ren]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini