Dengarkan vonis, Artha Meris komat-kamit

Kamis, 20 November 2014 12:56 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Dengarkan vonis, Artha Meris komat-kamit Sidang Artha Meris. ©2014 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Majelis hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, menjatuhkan putusan kepada Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri, Artha Meris Simbolon, dengan pidana penjara selama tiga tahun. anak pengusaha Marihad Simbolon itu terbukti menyuap mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Rudi Rubiandini, dengan uang sebanyak USD 522,500.

Dari pantauan merdeka.com, Kamis (20/11), selama mendengarkan pembacaan putusan akhir, wajah Meris nampak tegang. Bibir Meris pun komat-kamit seperti melafazkan sesuatu. Setelah putusan dibacakan, beberapa kerabat Meris nampak menangis.

Menurut Ketua Majelis Hakim Syaiful Anwar, Meris dengan sengaja memberikan uang itu kepada Rudi melalui Deviardi supaya mau menerbitkan rekomendasi penurunan formulasi harga gas buat diteruskan kepada Menteri Energi Sumber Daya Alam saat itu, Jero Wacik. Dia juga menyatakan kerabat politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu aktif melobi Rudi supaya mau menuruti kehendaknya.

Di samping hukuman badan, hakim juga menuntut Meris dengan pidana denda sebesar Rp 100 juta. Bila tidak dibayar, maka Meris mesti menggantinya dengan pidana kurungan selama tiga bulan.

Pertimbangan memberatkan Meris adalah tidak mendukung pemberantasan korupsi dan tidak mengakui perbuatan. Sedangkan kondisi meringankannya adalah belum pernah dihukum dan sopan selama persidangan.

Hakim Syaiful menyatakan perbuatan Meris terbukti dalam dakwaan alternatif pertama. Yakni Pasal 5 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat 1 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Hakim Anggota Anwar menyatakan, Meris terbukti empat kali memberikan duit kepada Rudi melalui Deviardi, pelatih golf dan orang dekat Rudi. Penyerahan duit itu dilakukan di Hotel Sari Pan Pasific Jakarta Pusat sebesar USD 250 ribu. Kedua di Cafe NANINI Plaza Senayan sejumlah USD 22,500. Kemudian di lahan parkir Restoran McDonald Kemang, Jakarta Selatan senilai USD 50 ribu. Terakhir dilaksanakan di area parkiran dekat rumah makan Sate Senayan Menteng, Jakarta Pusat, sebesar USD 200 ribu.

Hakim Anwar mengatakan, walaupun terdakwa membantah telah memberikan sejumlah uang kepada Rudi dan tidak mengenal Deviardi, tapi majelis hakim menepis hal itu. Menurut dia, bila dihubungkan dengan alat bukti, bukti petunjuk, dan keterangan saksi-saksi maka Meris memang terbukti mengalirkan sejumlah dana kepada Rudi.

"Pemberian uang oleh terdakwa kepada Rudi Rubiandini ada dalam perbuatan terdakwa," kata Hakim Anwar.

Selepas mendengarkan vonis, Hakim Syaiful mempersilakan Meris berkonsultasi dengan tim kuasa hukumnya. Lantas, pengacara Meris, Otto Hasibuan, menyatakan sikap.

"Setelah kami mempertimbangkan putusan yang mulia, kami menyatakan pikir-pikir atas putusan tersebut," kata Otto.

Sementara Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi Rini Triningsih juga menyatakan pikir-pikir. "Kami juga pikir-pikir atas putusan tadi," kata Jaksa Rini. [war]

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Suap SKK Migas
  2. SKK Migas
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini