Demokrat Tanggapi Berdamai Dengan Corona: Jika Saja Dulu Pemerintah Terapkan Lockdown

Kamis, 21 Mei 2020 12:07 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Demokrat Tanggapi Berdamai Dengan Corona: Jika Saja Dulu Pemerintah Terapkan Lockdown Sejumlah Artis yang Jadi Anggota DPR. ©2019 Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Penyebaran virus Covid-19 di Indonesia masih berlangsung. Meski kurvanya landai, jumlah kasus positif terus bertambah. Kini, pemerintah mengajak berdamai dengan corona dengan protokol kesehatan yang ada.

Anggota DPR Fraksi Partai Demokrat, Dede Yusuf Macan Effendi menilai, langkah pemerintah dari awal kurang tegas menangani corona. Sehingga, penularan masih tetap ada dan terpaksa berdamai.

"Jika saja dulu pemerintah tegas mengatakan lockdown, maka hanya perlu dua minggu saja, namun karena kurang tegas, hanya PSBB wilayah akhirnya jadi 2 bulan lebih," kata Dede lewat pesan singkat kepada merdeka.com, Kamis (21/5).

Selain itu, pilihan berdamai dengan corona karena masyarakat juga sudah bosan berbulan-bulan di rumah. Ditambah, ekonomi yang sudah hancur.

"Ekonomi kolaps. Bantuan pemerintah yang tidak tepat sasaran mengakibatkan mereka ingin bekerja kembali," ucapnya.

Dede menambahkan, berdamai dengan corona merupakan langkah tidak koordinatif pemerintah. Pasalnya, penyebaran masih ada, namun aktivitas kerumunan masyarakat terlihat dilonggarkan.

"Negara lain sudah bebas, kita masih harus berdamai dengan corona. Artinya penyebaran masih akan tetap ada, tapi bekerja tetap jalan, kembali kepada masyarakat untuk menjaga protokol kesehatan. Ini adalah catatan perjalanan yang menunjukkan kurang koordinatifnya kebijakan," ujarnya.

Sehingga, dengan itu semua, menurut Dede, akhirnya pemerintah saat ini terpaksa memilih berdamai dengan virus asal Wuhan, China tersebut.

"Langkah terakhir adalah "herd immunity" atau populasi yang kebal sendiri," kata aktor senior tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo saat ini belum berencana melonggarkan kebijakan PSBB yang berlaku di sejumlah daerah di Tanah Air. Tetapi pemerintah saat ini terus melakukan pemantauan berdasarkan data dan fakta di lapangan untuk menentukan periode terbaik bagi periode tahapan masyarakat kembali produktif namun tetap aman dari Covid-19.

"Kita harus sangat hati-hati. Jangan sampai kita keliru memutuskan. Tapi kita juga harus melihat kondisi masyarakat sekarang ini. Kondisi yang terkena PHK dan kondisi masyarakat yang menjadi tidak berpenghasilan lagi. Ini harus dilihat," kata Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/5).

Mantan Wali Kota Solo juga menjelaskan nantinya masyarakat bisa beraktivitas normal kembali. Tetapi harus menyesuaikan dan hidup berdampingan dengan Covid-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan bahwa terdapat potensi bahwa virus ini tidak akan segera menghilang dan tetap ada di tengah masyarakat.

"Informasi terakhir dari WHO yang saya terima bahwa meskipun kurvanya sudah agak melandai atau nanti menjadi kurang, tapi virus ini tidak akan hilang. Artinya kita harus berdampingan hidup dengan Covid. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, berdamai dengan Covid. Sekali lagi, yang penting masyarakat produktif, aman, dan nyaman," ucap Jokowi.

Jokowi menjelaskan hidup berdampingan dengan Covid-19 bukan berarti menyerah dan menjadi pesimis. Sebab itu kata Jokowi, jadi titik tolak menuju tatanan kehidupan baru masyarakat untuk dapat beraktivitas kembali sambil tetap melawan ancaman Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

"Pemerintah akan mengatur agar kehidupan kita berangsur-angsur dapat kembali berjalan normal sambil melihat dan memperhatikan fakta-fakta yang terjadi di lapangan," ucapnya. [ded]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini