Demo tolak Jokowi di Semarang ricuh, 6 mahasiswa luka-luka

Selasa, 2 Desember 2014 16:48 Reporter : Parwito
Demo tolak Jokowi di Semarang ricuh, 6 mahasiswa luka-luka Bentrok demo kenaikan BBM. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Demo menolak kedatangan Presiden Joko Widodo di Kota Semarang berakhir bentrok. Bentrokan terjadi antara mahasiswa dengan polisi. Akibatnya sebanyak 6 mahasiswa yang tergabung dalam PMII Komisariat IAIN Walisongo itu mengalami luka, 2 mahasiswa lainnya diamankan petugas kepolisian Polrestabes Semarang.

Aksi unjuk rasa menolak kedatangan Presiden Jokowi bermula saat mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Semarang sekitar pukul 10.00 WIB melakukan aksi jalan kaki menuju ke ke Pasar Johar yang rencana semula akan didatangi Jokowi dengan budaya blusukannya.

Saat itu, belasan mahasiswa berencana melewati pintu belakang kampus 1 IAIN Semarang di Jalan Prof Hamka, Mangkang, Kota Semarang. Namun, mahasiswa dihadang oleh polisi. Terjadilah upaya represif terhadap mahasiswa dan polisi saling berdesak-desakan dan saling dorong. Lalu, polisi dan mahasiswa bentrok mengakibatkan 6 orang mahasiswa dilarikan ke Poliklinik Kampus IAIN Semarang.

"Sempat terjadi kejar-kejaran antara mahasiswa dan puluhan petugas kepolisian, hingga aksi saling pukul tak terhindarkan," papar Koordinator Aksi Arif Suyono kepada wartawan di sekitar tempat kejadian Selasa (2/12).

Kecewa aksi long marchnya gagal, mahasiswa kemudian melalui pintu kampus depan di Jalan Raya Mangkang-Kendal. Belasan mahasiswa ini berupaya untuk melakukan pemblokiran jalur pantura tersebut. Mereka mengumpulkan kayu, batu dan berupaya untuk membakar ban ditaruh di tengah-tengah jalan.

Selain mengakibatkan enam mahasiswa terluka, dua mahasiswa yang melakukan aksi menjurus ke anarkis juga telah diamankan oleh petugas Polrestabes Semarang.

Koordinator Aksi, Arif Suyono mengatakan, mahasiswa menolak kedatangan Jokowi karena dia dianggap telah menelurkan berbagai kebijakan yang syarat inkonsistensi dari janji-janji dalam kampanyenya saat Pilpres lalu.

"Mulai kebijakan kenaikan BBM yang ditunggangi mafia-mafia migas sampai impor 264 daging sapi dari Australia," tegasnya.

Arif juga mengungkapkan, kebijakan tiga kartu Jokowi yaitu Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) justru membuat polemik yang tak berkesudahan di negeri ini. Apalagi kesimpangsiuran pembiayaan kartu sakti, justru membuktikan kabinet belum terkonsolidasi secara massif dan solid.

"Ini membuktikan bahwa di 50 hari kerja Presiden, Jokowi hanya menjadi " satria piningit palsu" yang tidak pro rakyat, "tuturnya.

Aksi yang berlangsung hingga pukul 11.30 WIB terebut berakhir ricuh, setelah puluhan petugas kepolisian membubarkan mereka dengan water canon dan peralatan lain. Sempat terjadi kemacetan panjang di jalur pantura Semarang-Kendal selama tiga jam lebih, sehingga arus lalu lintas diberlakukan satu lajur untuk dua arah.

Mantan Wali kota Solo itu diketahui menggelar pertemuan tertutup dengan 31 Kepala Kepolisian Daerah dan 451 Kapolres se-Indonesia di Akademi Kepolisian Semarang. Jokowi juga mengunjungi sejumlah tempat yakni Tambak Lorok dan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.

Akibat aksi mahasiswa ini, Jokowi gagal untuk mendatangi Pasar Johar Kota Semarang yang merupakan pasar paling besar dan dekat dengan Kawasan Kota Lama yang ada di Kota Semarang yang dibangun dengan dana pemerintah pusat.

[hhw]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini