Delapan Penyu Ditemukan Mati di Area Pembuangan Limbah PLTU Bengkulu

Jumat, 6 Desember 2019 07:33 Reporter : Fikri Faqih
Delapan Penyu Ditemukan Mati di Area Pembuangan Limbah PLTU Bengkulu Penemuan Bangkai Penyu di PLTU Bengkulu. ©2019 Merdeka.com/Antara

Merdeka.com - Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu menemukan empat ekor penyu mati di sekitar pantai area pembuangan limbah bahang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bengkulu. Kasus kematian penyu ini bukan yang pertama sejak PLTU batu bara Teluk Sepang beroperasi.

Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung, Donald Hutasoit mengatakan, dari laporan masyarakat sebelumnya, empat ekor penyu juga ditemukan mati di lokasi tersebut. Sehingga saat ini total delapan penyu yang mati.

"Langkah yang kita ambil adalah akan dilakukan otopsi dan untuk mengetahui kandungan unsur kimia perlu uji laboratorium," katanya seperti dilansir dari Antara, Jumat (6/12).

Saat ini keempat penyu tersebut sudah diamankan di kantor BKSDA resor Pantai Panjang dan dokter hewan BKSDA segera melakukan pembedahan dan mengambil sampel mikroskopis.

1 dari 2 halaman

Pemda Diminta Usut Penyebab Kematian Penyu

Sementara itu, aktivis lingkungan Bengkulu dari Yayasan Kanopi Hijau Indonesia mendesak pemerintah daerah mengusut penyebab kematian delapan ekor penyu yang mati dalam jangka waktu dua bulan.

"Ini fenomena yang menggelisahkan masyarakat sehingga pemerintah harus respon cepat," kata Ketua Yayasan Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar.

Atas penemuan empat ekor penyu oleh petugas BKSDA Bengkulu-Lampung tersebut kata Ali, dalam dua bulan terakhir sudah delapan bangkai penyu ditemukan di pantai dekat dengan area pembangkit listrik berbahan bakar batu bara itu.

Dari catatan Kanopi, kematian penyu dan biota laut lainnya dimulai pada 10 November 2019 lalu pada 18 November 2019 kembali ditemukan penyu dan ikan mati di Pantai Teluk Sepang dan terakhir pada 4 Desember 2019 di mana sekaligus empat bangkai penyu ditemukan terdampar di pantai tersebut.

2 dari 2 halaman

Sementara dari keterangan nelayan serta warga Kelurahan Teluk Sepang, kejadian penyu mati dalam jumlah banyak dan waktu yang berdekatan belum pernah terjadi di Pantai Teluk Sepang.

"Hingga kini belum diketahui penyebab pasti kematian penyu dan ikan ini meski rombongan tim DLHK Provinsi Bengkulu sudah turun ke lapangan dan mengukur suhu dan pH air limbah bahang namun tidak ada jawaban pasti apa penyebab kematian biota laut ini," ucapnya.

Padahal, seluruh jenis penyu merupakan fauna yang dilindungi berdasarkan lampiran Peraturan Menteri lingkungan hidup dan kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 perubahan kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Sementara dalam analisis Kanopi Bengkulu atas dokumen Adendum Andal dan RKL-RPL PLTU batu bara Teluk Sepang 2 x 100 Megawatt, tidak ditemukan penjelasan tentang biota laut yaitu penyu pada rona lingkungan hidup. Hal yang dibahas dalam dokumen tersebut ditelaah hanya plankton, nekton (ikan dan udang) dan terumbu karang. Ini artinya, kata Ali, Andal proyek ini telah gagal mengidentifikasi entitas ekologis penting seperti penyu yang merupakan salah satu fauna yang dilindungi.

Atas kondisi ini lanjut dia, masyarakat sipil mendesak pemerintah daerah untuk memerintahkan penghentian seluruh aktivitas PLTU batu bara Teluk Sepang yang dilaksanakan oleh PT Tenaga Listrik Bengkulu hingga penyebab kematian biota laut di perairan Pantai Teluk Sepang diketahui secara pasti.

Pemerintah juga didesak untuk membentuk tim independen terdiri dari pemerintah, akademisi, dan warga dan kelompok masyarakat sipil untuk mengungkap penyebab kematian biota laut di sekitar PLTU batu bara Teluk Sepang. [fik]

Baca juga:
Gajah Rusak Rumah Warga di Pidie, Karung Padi Diambil
Orangutan Ditemukan dengan 24 Luka Tembak Hingga Kedua Mata Buta
Singapura Kembangbiakan Elang Filipina yang Terancam Punah
Spesies Orangutan Terlangka Lahirkan Bayi di Kebun Binatang Inggris
Dari Paus sampai Rusa, Hewan-Hewan Ini Mati karena Telan Sampah Plastik Manusia
Tragis, Rusa di Thailand Mati dengan Perut Berisi Plastik dan Pakaian Dalam

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini