Daripada digarap Petani asing, Gus Ipul ajak Kaum Muda jadi Petani Milenial

Kamis, 22 Februari 2018 07:15 Reporter : Fahmi Azis
Daripada digarap Petani asing, Gus Ipul ajak Kaum Muda jadi Petani Milenial Gus Ipul di Kampung Organik. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Anak muda sekarang ini banyak yang tidak lagi berminat menjadi petani. Bertani dinilai pekerjaan yang kurang prestisius, sehingga regenerasi petani banyak yang gagal. Menurut Calon Gubernur Jawa Timur berpendapat menjadi

"Pemuda kita seringkali beranggapan pekerjaan petani itu sengsara dan kumuh bergelut dengan lumpur dan kotor, padahal tidak melulu seperti itu," ungkapnya, saat berkunjung ke Desa Wisata Petik Bumiaji, Batu, Rabu (21/2).

Cara pandang inilah yang membuat mereka meninggalkan profesi ini petani. Padahal, pertanian menjadi masa depan Jawa Timur. Terlebih, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang berlimpah.

"Jangan sampai petani generasi penerus kita nanti digantikan petani muda dari negara lain," paparnya.

Pemerintah, lanjut dia, memiliki tanggung jawab untuk menarik kaum muda menjadi petani milenial. Caranya, dengan mengubah cara pandang terhadap profesi petani selama ini.

"Seperti petani di Bumiaji, Batu ini, mereka telah mengolah lahan kebunnya menghasilkan jambu kristal organik. Ini bukti petani milenial adalah petani yang kreatif," katanya.

Petani milenial, menurut Gus Ipul, proses produksinya menerapkan digitalisasi dari hulu ke hilir. Dimulai dari pemulihan lahan, pemilihan bibit bisa menerapkan aplikasi khusus. Bahkan untuk quality control, sudah bisa menggunakan aplikasi.

"Sehingga cukup difoto sudah bisa diketahui kualitas dari sayur ini. Apakah ada tambahan-tambahan pupuk dan lain lain di luar prosedur bisa diawasi dengan baik," katanya.

Gus Ipul juga berharap, petani milenial dari kaum muda nantinya bisa turut mengembangkan pertanian organik. Hasil pertanian organik harganya terbilang mahal. Selain itu, sayuran dan buah-buahan organik tidak begitu banyak yang menikmatinya.

"Resiko menanam produk organik tinggi, karena waktu panen yang lama dan rawan hama, sehingga harganya pun mahal. Namun ini menjadi suatu tantangan bagi kaum muda untuk turut berinovasi mengatasi problem ini. Ini menantang," kata dia.

Dengan inovasi yang lahir, nantinya diharapkan dapat membantu meningkatkan produksi petani lalu meningkatkan pendapatan hingga kesejahteraan petani milenial terwujud. [mtf]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini