Dari balik dapur Masjid Istiqlal

Rabu, 7 Juni 2017 04:41 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Dari balik dapur Masjid Istiqlal Di balik dapur masjid istiqlal. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Bunyi perkakas dapur bersahutan bersamaan dengan kesibukan Sony di salah satu sudut kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Sejak pukul 08.00 WIB, Sony sudah berada di dapur. Dia mulai memilah bahan-bahan makanan yang sudah dipesan sebelumnya. Menu hari itu, Minggu (4/6) ayam bakar dan tahu goreng, lengkap dengan lalap dan sambal.

Lima kuali besar berjajar tak jauh dari tujuh tabung gas berukuran 15,1 kg. Sebagai kepala juru masak, Sony cukup cekatan meracik dan mengaduk bumbu dalam dua kuali besar. Satu kepal garam dan bumbu penyedap rasa dimasukkan dalam kuali. Satu wajan berisi 15 kg cabai, 3 kg tomat dan 2 kg bawang. Sedangkan dua wajan lain sudah berisi minyak untuk menggoreng tahu.

Di saat Sony sibuk meracik bumbu, tiga asistennya yang rata-rata perempuan paruh baya, mencuci 2.500 ekor ayam. Satu ekor ayam dipotong jadi 4 bagian. Di sudut lain, delapan asisten juru masak memilah sayuran yang akan jadi lalapan. Seorang perempuan bernama Meli hari itu bertugas membersihkan 1.000 tahu kuning.

Sony yang akrab disapa Uda, mulai memasukkan ayam yang sudah dicuci ke dalam dua kuali besar berisi bumbu yang diraciknya. Setelah 10 menit, aroma sedap mulai menusuk hidung. Setelah memastikan ayam itu empuk, Uda mengangkatnya dan memasukkan ke dalam bak plastik besar.

"Menu ini buat ribuan pengunjung Masjid Istiqlal untuk berbuka puasa," kata Sony ketika ditemui merdeka.com di dapur Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Minggu (4/6).

Selama satu bulan penuh, menu berbuka puasa yang disajikan harus ayam. Ini sesuai permintaan dari donatur. Tahun ini, Uni Emirat Arab yang jadi donatur untuk penyediaan makan buka puasa di Masjid Istiqlal. Pihak Uni Emirat Arab menghendaki lauk untuk berbuka puasa harus ayam. Sedangkan untuk sahur, lauknya ikan. "Kalau sahur juga saya masak. Tapi enggak banyak," kata dia sambil tersenyum.

Tahun ini Uni Emirat Arab menyumbang kurang lebih Rp 350 juta. Ini adalah tahun ke-5 bagi Uni Emirat Arab membantu Masjid Istiqlal untuk menyediakan makanan. Setiap hari Masjid Istiqlal menyediakan 3.500 sampai 4.000 box makanan untuk berbuka puasa. Ada lima katering yang ditunjuk untuk pengadaan takjil. Salah satunya dari koperasi karyawan dan jemaah masjid Istiqlal. Selama 14 hari koperasi Istiqlal menyediakan 1.000 nasi box bantuan dari Red Cresent (bulan sabit merah) Emirat Arab.

Sesekali Sony menghirup aroma masakannya. Ini dilakukan untuk memastikan bumbu masakan sudah tepat dan rasanya enak, tanpa harus mencicipi makanannya. Dia mengandalkan indera penciuman untuk merasakan masakan. Ada juga Adi Wijaya yang akrab disapa Abas. Dia terlihat sibuk mengisi beras yang sudah dicuci, dimasukkan ke dalam dandang berukuran jumbo. Sekitar 100 kg beras dimasak hari itu. Sambil memasak nasi, Abas menyiapkan kompor besar dan tiga panggangan untuk ayam bakar. Di sela-sela memilah sayur, sesekali para ibu-ibu bertukar cerita tentang keluarganya hingga artis di bulan Ramdan. Kaum ibu ini sudah membantu di dapur Istiqlal sejak 6 tahun lalu.

Sekitar pukul 10.00 WIB, tahu yang digoreng sudah matang. Ayam dipisah dalam beberapa tempat berukuran besar. Satu loyang bisa menampung kurang lebih 20-25 potong ayam. Tangan Abas juga cekatan mengangkat nasi yang sudah matang lantas dimasukan ke dalam lima wadah besar.

Sony membuat bumbu olesan ayam bakar. Dimasukkan 5 liter kecap manis dan saus tiram ke dalam bumbu ayam. Dia mulai mengaduk bumbu tersebut. Tak lupa diberikan garam, cabai dan bumbu penyedap satu genggam tangan dia.

Sony cuma butuh waktu 20 menit untuk menyiapkan bumbu ayam. Bumbu dimasukan ke dalam panci besar, disusul Ayam yang sudah dimasak sebelumnya. Empat loyang jumbo yang sudah terisi ayam langsung diangkut Abas ke tempat panggangan yang sudah panas.

Kaum ibu yang selesai memilah sayuran, langsung beralih ke ruangan dekat dapur. Mereka beralih tugas menata 1.000 kotak nasi. Satu per satu ibu-ibu paruh baya itu melipat kertas kotak nasi. Kemudian, diletakan di atas meja, disusun rapi. Kelompok anak muda-mudi mulai mengerjakan pengisian kotak nasi tersebut. Satu mangkuk nasi dicetak kemudian di bungkus dalam kertas nasi, ditaruh di dalam kotak. Sajian lainnya pun menyusul. Satu per satu tahu dimasukan. Tak lupa sambal dan lalapannya. Begitu seterusnya sampai seluruh kotak nasi terisi oleh lauk pauk dengan menu utama hari itu, ayam bakar.

Menjelang waktu berbuka, kira-kira saat salat Ashar, motor box dipersiapkan di depan dapur. Pegawai koperasi masjid Istiqlal mulai menata kotak nasi ke box motor yang akan mengantar makanan itu ke masjid. Satu motor box bisa menampung kira-kira 400 kotak.

"Ini jumlahnya ada seribu. Sumbangan dari Uni Emirat Arab. Selain masak di sini, ada juga sumbangan dari beberapa restoran lainnya, masing-masing sumbang seribu kotak nasi," kata Sony.

Menu yang disajikan restoran lain berbeda-beda. Sony bercerita, karena ini merupakan pesanan dan sumbangan dari Uni Emirat Arab, maka potongan ayamnya pun besar - besar, satu ekor dibagi empat potong.

Pukul 17.00 WIB , seluruh pengunjung dan jemaah Masjid diarahkan petugas dan panitia Masjid Istiqlal duduk saling berhadap-hadapan di teras masjid. Sembari menunggu waktu berbuka (ngabuburit), panita menggelar beberapa acara. Di antaranya penampilan qasidahan serta ceramah kuliah tujuh menit dari ustaz yang merupakan pengurus masjid Istiqlal. Shalawat dan doa dilantunkan para pengunjung dan jemaah sambil menunggu waktu berbuka. Sementara kotak-kotak nasi sudah disiapkan di belakang panggung.

Tak lama kemudian, kotak - kotak nasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya dibagikan satu per satu kepada jemaah dan pengunjung. Salah satu jemaah yang hari itu mendapat makanan adalah Nurjanah (60), pengunjung Masjid Istiqlal yang berasal dari Pejaten, Jakarta Selatan.

Pujian untuk pejuang di balik dapur Istiqlal terlontar dari mulutnya. "Rasanya beda sekali, enak, gurih, dan ayam besar. Kayaknya ini ayamnya dipotong 4 jadi besar-besar. Tahunya juga enak, sambalnya juga nikmat," kata Nurjanah dengan lahapnya. [noe]

Baca juga:
Kekhusyukan salat tarawih di Istiqlal
Demi santapan 1.000 orang
Kebersamaan ratusan muslim buka puasa di Masjid Istiqlal
Mi caluk, menu buka puasa wajib bagi warga Aceh
Menengok masjid pertama di Seoul & penyebaran Islam tentara Turki

Topik berita Terkait:
  1. Ramadan 2017
  2. Masjid Istiqlal
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini