Dakwah kultural ala Cak Nun yang kadang bikin kontroversi

Sabtu, 26 Desember 2015 10:21 Reporter : Anwar Khumaini
Dakwah kultural ala Cak Nun yang kadang bikin kontroversi Cak Nun. ©youtube.com

Merdeka.com - Sosok Emha Ainun Nadjib, atau yang lebih dikenal sebagai Cak Nun kemarin kembali menjadi sorotan. Video Cak Nun beredar sedang melantunkan salawat nabi, namun menggunakan nada lagu 'Malam Kudus', yang biasa dinyanyikan oleh umat Kristiani saat perayaan Natal.

Video yang diunggah oleh akun Koepoe ungu di Youtube tersebut cuma berdurasi 1 menit 23 detik. Sejak tayang, belum banyak yang menontonnya. Pada Jumat (25/12) pukul 10.35 WIB, video tersebut baru dilihat sebanyak 659 kali. Namun hari ini, Sabtu (26/12), video tersebut sudah dilihat 31 ribu kali.

Emha Ainun Nadjib atau yang lebih akrab dengan panggilan Cak Nun merupakan budayawan dan intelektual muslim asal Jombang, Jawa Timur. anak keempat dari 15 bersaudara ini pernah menjalani pendidikan di Pondok Modern Gontor-Ponorogo dan menamatkan pendidikannya di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. Namun pendidikan formalnya di UGM, tepatnya di Fakultas Ekonomi, hanya mampu Cak Nun selesaikan 1 semester saja.

Sebelum menikah dengan artis Novia Kolopaking, Cak Nun pernah menikah dan dikaruniai seorang anak yang merupakan vokalis dari grup band Letto, Noe. Sedangkan dari pernikahannya dengan Novia, Cak Nun dikaruniai empat anak.

Pada bulan Maret 2011, Cak Nun memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu, Jero Wacik, Penghargaan Satyalancana Kebudayaan diberikan kepada seseorang yang memiliki jasa besar di bidang kebudayaan dan mampu melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Cak Nun belajar sastra pada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius, dengan merantau di Malioboro, Yogyakarta antara tahun 1970-1975. Ia pun gemar menekuni beberapa pementasan teater yang berhasil digelarnya. Cak Nun juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Selain teater, Cak Nun juga adalah seorang penulis buku dan aktif di kelompok musik arahannya, Musik Kiai Kanjeng, yang selalu membawakan lagu-lagu salawat nabi dan syair-syair religius yang bertema dakwah. Selain itu, Cak Nun rutin menjadi narasumber pengajian bulanan dengan komunitas Masyarakat Padang Bulan di berbagai daerah.

Dakwah kultural di lapisan masyarakat dinilai budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dipanggil Cak Nun adalah hal yang sangat penting. Pasalnya, masyarakat membutuhkan dakwah kultural tersebut sebagai upaya menggali nilai kebudayaan bangsa yang berguna untuk penyaring derasnya arus industrialisasi.

"Dakwah kultural dibutuhkan terutama di desa-desa, kebudayaan harus diapresiasi," katanya saat memimpin grup musiknya, Kiai Kanjeng, menyampaikan pengajian akbar di Kampus II Universitas Muhammadiyah Magelang, di Magelang beberapa waktu silam.

Ia mengatakan, kekayaan dan keragaman kebudayaan Indonesia harus terus menerus dilestarikan dan dikembangkan oleh berbagai kalangan masyarakat.

"Masyarakat harus bangga dengan budaya bangsa, jangan lupakan kebudayaan. Kalau masyarakat tidak mengurusi kebudayaan, akan diisi oleh gencarnya industri," katanya.

Cak Nun juga menambahkan bahwa masyarakat harus secara sungguh-sungguh mengerahkan kemampuan untuk berbagai upaya pelestarian budaya bangsa. "Indonesia dengan keragaman budaya bisa menjadi pemimpin dunia pada masa mendatang," katanya. [war]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini