Daerah resapan jadi lahan bisnis penyebab banjir Manado

Sabtu, 18 Januari 2014 16:02 Reporter : Tommy A Lasut
Daerah resapan jadi lahan bisnis penyebab banjir Manado Banjir Manado. ©2014 Merdeka.com/Tomy

Merdeka.com - Banjir bandang yang terjadi di Kota Manado Rabu lalu menurut pemerhati lingkungan Universitas Sam Ratulangi, DR Denny Karwur, disebabkan berbagai hal. Pertama, tersumbatnya energi air sungai yang datang dari hulu oleh derasnya energi air laut yang saat itu sedang pasang.

"Jadi energi itu sepertinya tersumbat di muaramuara sungai sehingga energi air yang datang dari hulu ke muara kemudian mencari daratandaratan atau daerahdaerah penyebaran lain di dalam kota," terangnya, Sabtu (18/1) saat dihubungi merdeka.com via seluler.

Kondisi tersebut kemudian diperparah dengan hilangnya sejumlah situ atau daerah resapan air berbentuk lubanglubang (hole) besar di sejumlah kawasan kota, seperti di kawasan Ringroad dan Pondol.

"Yang berada di belakang Holland Bakery. Dulunya saya pikir, wah ini situ karena berlubang tapi sudah ditimbun," ujar Karwur.

Ia pun kembali menyayangkan penimbunanpenimbunan yang dilakukan pihak pengembang dengan tidak memperhitungkan dampak yang bakal terjadi kemudian seperti perubahan kontur lahan.

"Kawasankawasan resapan air sebagai penyanggah lingkungan sudah mulai dibabat. Seperti di Ringroad sana kan? Hole yang bisa jadi semacam tampungan air, sekarang malah ditutup dan ditimbun untuk dijadikan kawasan bisnis. Padahal areal tersebut dapat menyerap banyak air," ucap dia.

Ke depan, dirinya meminta pemerintah daerah agar menyiapkan lokasilokasi situ untuk meminimalisir dampak banjir besar, terutama di kawasan Ringroad yang banyak mengalami perubahan bentang alam akibat tingginya pembangunan.

"Jadi airair bisa ditampung di sana. Di daerah mana yang air dari hulu tidak bisa dibuang ke laut karena tertutup energi dari laut, maka dia akan mencari lokasilokasi penampungan air," jelas dia.

Disentil berkurangnya populasi hutan sebagai salah satu penyebab banjir, Karwur tak menampik. Hutan sebagai catchment area atau areal tangkapan air diakui telah banyak mengalami penggundulan sehingga fungsinya menjadi berkurang.

Hanya saja ia tak mau mencari kesalahan sebab yang terjadi merupakan fenomena alam. Namun sebagai manusia, akan lebih bijaksana ketika kita melakukan langkahlangkah antisipasi.

"Hutan bisa di reboisasi ulang," ujar salah satu Dosen Hukum Lingkungan ini.

Menurutnya, banjir yang merupakan siklus sepuluh tahunan ini tidak perlu memakan korban harta benda dan nyawa manusia jika pembangunan dilakukan sesuai aturan dengan memperhatikan kajiankajian lingkungan seperti yang dipersyaratkan. [tyo]

Topik berita Terkait:
  1. Banjir Manado
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini