Curhat Tan Malaka Dicalonkan Jadi Anggota DPR tapi Tak Yakin Terpilih

Senin, 19 November 2018 05:05 Reporter : Hari Ariyanti
Curhat Tan Malaka Dicalonkan Jadi Anggota DPR tapi Tak Yakin Terpilih Tan Malaka. ©2018 Merdeka.com/Hari Aryanti

Merdeka.com - Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka atau lebih dikenal dengan Tan Malaka bercerita kepada teman sekelasnya saat menempuh pendidikan di Harleem, Belanda, Dick Van Wijngaarden terkait pencalonannya sebagai Dewan Rakyat setelah dia kembali ke Indonesia. Namun, Tan merasa sangat kecil harapannya terpilih menjadi anggota Dewan Rakyat. Pasalnya, pemilihan itu bukan langsung dilakukan rakyat, tapi keputusan akan diambil oleh para pembesar dari seluruh Hindia Belanda.

Surat itu ditulis "Bapak Pendiri Republik" ini pada 5 Januari 1921 dari Tanjung Morawa, Deli Serdang. Saat itu dia dicalonkan menjadi anggota Dewan Rakyat karena hubungannya dengan berbagai pihak masih sangat baik.

"Sekarang hubunganku dengan orang lain masih cukup baik. Sehingga aku dicalonkan, misalnya untuk duduk di Dewan Rakyat, sekalipun kecil sekali harapan aku akan diterima. Pemilihan diatur sedemikian rupa sehingga nasibku akan tergantung pada suatu pengangkatan oleh Gubernur Jenderal," tulisnya.

Penulis Madilog ini menilai sangat ironis anggota Dewan Rakyat tak dipilih rakyat atau keputusan bukan berada di tangan rakyat, melainkan gameente dari seluruh Hindia. Gameente adalah sebuah istilah dalam bahasa Belanda dan merupakan sebuah nama pembagian administratif.

Tan Malaka ©2018 Merdeka.com/Hari Aryanti

"Dan gameente-gameente itu penuh dengan alap-alap uang dan budak-budak," ungkapnya.

Jika rakyat murni yang menjadi pemilih, Tan yakin bakal terpilih. Dia juga mengaku mendapat sokongan dari SOK (Sumatera's Oost Kust- Pantai Timur Sumatera) dan Aceh.

"Tetapi suara beberapa juta penduduk di sana itu tidak berlaku. Sehingga harapan terletak pada pengangkatan," tulisnya.

Kepada Dick, Tan juga bercerita bahwa dia akan meninggalkan Deli Serdang dan dia akan bekerja. Namun dia mengatakan di mana dia akan bekerja masih belum menentu. Pada masa itu, tenaga pengajar sangat kurang. Karena itulah dia yakin di manapun dia bisa bekerja sebagai guru. Tan merasa baik di Medan maupun Jawa, peluangnya mendapat pekerjaan cukup besar.

"Banyak harapan bagiku di Medan, tetapi tentu di Jawa begitu juga," tulisnya.

Tan juga bercerita keinginannya untuk tinggal di Barat lebih lama. Tapi karena kondisi keuangan, itu tak dapat dia lakukan sehingga dia kembali ke Hindia atau Indonesia.

"Andaikata uangku masih banyak, maka pasti aku belum kembali ke Hindia," tulisnya dalam surat tersebut.

Surat itu dipamerkan di Museum Nasional dalam pameran "Surat Pendiri Bangsa." Pameran ini diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu rangkaian peringatan Hari Pahlawan. Pameran akan ditutup pada 22 November mendatang. [bal]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini