Covid-19 di Jateng Masih Tinggi, Wapres Soroti Penanganan di Hulu Belum Tepat

Jumat, 23 Juli 2021 22:43 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Covid-19 di Jateng Masih Tinggi, Wapres Soroti Penanganan di Hulu Belum Tepat maruf amin bicara dengan menteri senior singapura. ©2021 Merdeka.com/setwapres

Merdeka.com - Wakil Presiden Ma'ruf Amin memberikan pengarahan kepada Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Tengah secara virtual, Jumat (23/7). Jawa Tengah hingga saat ini masih menjadi salah satu provinsi penyumbang kasus harian positif Covid-19 terbesar di Indonesia.

Per Jumat (23/7) hari ini tercatat penambahan jumlah kasus baru sebanyak 5.371 orang dan kasus meninggal dunia sebanyak 309 orang. Bahkan sehari sebelumnya Jateng mencatat angka kematian akibat Covid-19 tertinggi di Indonesia yakni 402 orang.

Melihat kondisi itu, Ma'ruf meminta jajaran Penanganan Covid-19 Jawa Tengah bekerja ekstra keras menangani pandemi. Khususnya di hulu dengan optimalisasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), penerapan protokol kesehatan, pelaksanaan testing, tracing dan treatment (3T) dan program vaksinasi.

"Yang hilir itu adalah akibat dari penanganan hulu yang belum tepat, akibatnya maka rumah sakit kekurangan tempat, kekurangan oksigen, kekurangan tenaga kesehatan, kekurangan ruang isolasi (dan) ICU, ini semua karena penanganan di hulu ini kurang pas, karena memang hilir itu akan sangat ditentukan oleh hulu," tegas Ma'ruf saat memberikan pengarahan kepada Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Tengah, Jumat (23/7).

Ma'ruf menegaskan, berapapun jumlah solusi di hilir seperti ketersediaan Bed Occupancy Rate (BOR), obat-obatan, ruang isolasi, dan ICU untuk pasien Covid-19 tidak akan pernah cukup. Apabila masalah di hulu seperti kurangnya kepatuhan protokol kesehatan, kurang optimalnya pelaksanaan 3T dan vaksinasi tetap terjadi.

"Berapa pun di hilir itu kita sediakan tidak akan bisa (mencukupi), kalau hulu-nya tak tertangani dengan baik," tegasnya.

Untuk itu, ia meminta jajaran Satgas Penanganan Covid-19 Jawa Tengah untuk terus mengoptimalkan penanganan di hulu guna mencegah penularan corona. Khususnya di wilayah-wilayah padat penduduk.

"Saya juga mohon perhatian untuk pemukiman yang padat seperti sekolah, pesantren, atau sekolah yang berasrama agar diberikan perhatian khusus terkait protokol kesehatan, 3T, dan juga vaksinasi," pintanya.

Sementara, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengakui bahwa terkait penanganan Covid-19 di hulu memang masih menghadapi kendala seperti rasio tracing di Jawa Tengah yang masih cukup kecil yakni satu banding tiga (1:3). Menurutnya, hal ini akibat keterbatasan petugas dan perlengkapan, serta sulitnya mendapatkan orang-orang yang mau dilacak.

"Kita sedang mendorong untuk tidak 1:3 kalau perlu 1:15, maka dukungan yang dibutuhkan hari ini adalah memang sumber daya manusia (SDM) dan peralatan," tuturnya.

Kemudian terkait progres vaksinasi Covid-19, Ganjar mengungkapkan, bahwa cakupan vaksinasi di Jawa Tengah juga masih rendah yakni suntikan dosis pertama baru 16,16 persen dan dosis kedua 8,28 persen. Hal ini karena keterbatasan jumlah alokasi vaksin yang diterima dari Kementerian Kesehatan.

"Saya laporkan Pak Wapres, masyarakat ini di Jawa Tengah berebut untuk divaksin. Kawan-kawan Bupati/Walikota itu semua rindu vaksin," ujarnya.

Saat ditanya oleh Wapres mengenai kesiapan jumlah vaksinator, Ganjar menyebut bahwa jumlah vaksinator di Jawa Tengah sangat mencukupi. Sebab, didukung tenaga kesehatan, TNI dan Polri, bahkan mahasiswa.

"Kalau vaksinator banyak. Karena sebenarnya kita sudah cek untuk menyuntikkan itu gampang. Dari kami, nakes kita cukup, pakai mahasiswa ada, TNI/Polri ada, jadi kalau vaksinatornya siap semua. Bahkan kemarin tertinggi yang pernah saya tanya, satu orang bisa (memvaksin) dua ratus orang,” jawabnya.

Di kesempatan sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui bahwa pada Juli ini terdapat keterbatasan jumlah vaksin secara nasional. Tetapi mulai Agustus kebutuhan vaksin akan kembali tercukupi. Dia berjanji akan menambah porsi vaksin untuk Provinsi Jawa Tengah bahkan dimulai pada akhir Juli ini.

"Tanggal 19 Juli (telah) dikirim 570 ribu dosis Vaksin Sinovac, tanggal 22 Juli Vaksin Astrazeneca sebanyak 30 ribu dosis, kemudian tanggal 26 Juli kita akan kirim lagi 275 ribu dosis Vaksin Astrazeneca, hingga akhir minggu (depan) mungkin akan ada 500 ribuan lagi yang bisa dikirim," paparnya.

Selain itu, terkait pelaksanaan PPKM, Kepala BNPB Letjen TNI Ganip Warsito melaporkan, bahwa saat ini dirinya sedang mengkoordinasikan dan mengoptimalkan kerja Posko PPKM di Jawa Tengah. Posko PPKM ini menurutnya berfungsi untuk pencegahan, penanganan, pembinaan, dan pemberian bantuan dalam konteks kedisiplinan protokol kesehatan dan penyaluran bantuan.

"Kita tidak hanya memonitor prokes, tetapi juga akan terus membagikan masker kepada masyarakat. Kita sudah membuat satu skema untuk penyaluran masker (yaitu) setiap posko PPKM kita akan kirim 1 paket terdiri dari 10 ribu pieces masker, kemudian 40 liter handsanitizer, kemudian ditambah dengan vitamin yang sering dibutuhkan," paparnya. [ray]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini