Cerita tentang Pesantren Waria di Yogyakarta

Selasa, 29 April 2014 07:01 Reporter : Eda Ervina
Cerita tentang Pesantren Waria di Yogyakarta Pesantren waria. ?2014 Merdeka.com/kresna
2. Di tinggal pergi pendirinya, pesantren ini sempat vakum

Merdeka.com - Pada 21 Maret 2014, pendiri dari Pondok Pesantren Waria Waria Al-Fatah 'Senin-Kamis', Maryani meninggal dunia. Hal ini membuat aktivitas di pesantren sempat vakum. Namun, Shinta, salah satu pengurus pesantren tersebut berinisiatif mengaktifkan kembali pesantren ini berkat dukungan waria asuhannya.

"Saat itu kami mulai kembali ingin lanjutkan pesantren, karena itu setelah Bu Maryani meninggal kita sempat vakum," kata Shinta saat ditemui di Celenan, Kotagede Yogyakarta, Sabtu (26/04).

Shinta mengatakan dirinya memindahkan pesantren yang semula di Notoyudan, Ngampilan menjadi di Celenan berdasarkan kesepakatan bersama. Rumah dengan model rumah tradisional Jawa itu adalah rumah Shinta, sekilas tidak terlihat seperti pesantren. Meski lokasinya cukup sulit ditemukan karena harus menyusuri gang-gang sempit, namun tidak membuat anggota pesantren patah semangat untuk datang setiap pekan ke sana.

"Teman-teman rumahnya menyebar, tidak di sini, tapi kita fokuskan kegiatan di sini. Sebelumnya di sini juga sanggar seni waria, jadi sudah banyak juga yang tahu," urai Shinta.

Di lokasi baru ini, pada 18 April lalu, Shinta dan teman-temannya meresmikan kembali pesantren waria. Sebagai langkah awal, Shinta merekrut 20 anggota baru pesantren waria.

"Kita mengawali ini dengan merekrut anggota baru. Ada 20 waria yang mau bergabung, kalau anggota sebelumnya ada 22 waria," jelas Shinta yang sehari-hari berprofesi sebagai pengrajin.

Dia berharap pembukaan kembali pesantren waria ini bisa menjadi wadah bagi waria untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat kegiatan keagamaan.

Topik berita Terkait:
  1. Waria
  2. Top List
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini