Cerita Tembakau dari Lereng Timur Gunung Slamet

Jumat, 2 Agustus 2019 05:12 Reporter : Abdul Aziz
Cerita Tembakau dari Lereng Timur Gunung Slamet Lahan tembakau di kaki Gunung Slamet. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Mulyono (56), petani di lereng timur Gunung Slamet, memenuhi janji kepada ayahnya. Setelah ayahnya wafat, dia tetap menyisihkan lahan di kebunnya untuk menanam tembakau. Di kebun milik Mulyono di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, 200 tanaman tembakau tumbuh berbagi lahan dengan kentang, kubis, dan daun bawang. Persis di depan lahan tanam tembakau seukuran 8 x 4 meter, berdiri gubuk tempat Mulyono mengaso usai berkebun sembari mengamati pertumbuhan daun tembakau.

Bagi keluarga Mulyono, menanam tembakau jadi semacam tradisi yang dilakukan oleh setiap generasi keluarganya sejak kakek buyut. Benih tembakau didapat serta dirawat turun temurun, yang dianggap sebagai tembakau Jawa bernama Genjah Kenanga. Hasil panen pemetikan daun tembakau itu, juga diolah sendiri oleh Mulyono mulai dari perajangan, menggarang atau memanaskan di atas bara api, sampai penjemuran. Di keluarganya, menanam dan mengolah tembakau tak pernah dimaksudkan untuk dijual sebagaimana hasil kebun lainnya.

"Mbako (tembakau) buat ngudud (merokok), teman ngaso di kebun," kata Mulyono.

Olahan tembakau, disimpan secara khusus oleh Mulyono di kolong dudukan kursi yang difungsikan jadi semacam peti. Kursi itu terletak di ruang tengah kediamannya, tempat ia menjamu makan saudara atau tamu. Bila sang tamu merokok, ia akan mengeluarkan tembakau untuk dinikmati bersama. Saat tamu pulang, Mulyono memberikan tembakau itu sebagai buah tangan tanda penghormatan.

Menanam tembakau sebagai cara berbagi hasil pertanian untuk keakraban, punya riwayat panjang di Dusun Bambangan yang berada di ketinggian 1.502 mdpl. Mulyono bercerita, dua puluh tahun lalu, semua petani di Desa Bambangan menyisihkan sedikit lahan untuk ditanam tembakau. Seingatnya ada lima jenis tembakau yang ditanam, yakni Genjah Kenanga, Genjah Cengis, Genjah Wiladah, Genjah Songgom dan Gober.

"Kalau kumpul-kumpul ya tukeran mbako. Saling nyoba. Itu biasa. Jadi gak perlu beli rokok," lanjut Mulyono.

Ketua Kelompok Tani Ngudi Sayur 2, Fahrudin Siswandi menjelaskan di Dusun Bambangan terhampar kurang lebih areal perkebunan seluas 70 hektare. Lahan perkebunan itu dikelola 115 petani. Saat masa kanak, ia masih mengingat semua petani punya kebiasaan menanam tembakau dalam jumlah tertentu. Tembakau tidak untuk dijual, tapi beredar untuk kalangan sendiri.

Saat ini, dari hasil pendataannya tinggal 40 orang petani yang menanam tembakau. Jika dihitung total lahan yang dimanfaatkan untuk menanam tembakau, kurang lebih seluas 3-4 hektare. Sedang petani lain memanfaatkan seluruh lahan untuk budidaya tanaman kebun yang mudah diperdagangkan.

"Terutama kentang karena Dusun Bambangan salah satu sentranya. Selain itu ada 11 macam komoditas lain," ujar Fahrudin.

Kenangan Fahrudin, di tahun 90-an, sepekan usai panen petik tembakau ia kerap melihat asap membumbung dari dapur-dapur rumah. Bau wangi tembakau terhirup saat keluar rumah. Asap itu jadi tanda, daun tembakau tengah dalam proses penggarangan. Tak terlupakan pula, saat panen tembakau di bulan Sura, diundang calung dan ronggeng. Warga pun meriung, bersama-sama ngudud mbako menikmati ronggeng sebagai bagian dari ritus kesuburan.

"Apalagi saat panen petik kelima. Ini masa panen dengan kualitas daun terbaik. Dulu ramai sekali," ujar Fahrudin.

Maryanto (42), petani kentang di Dusun Bambangan juga punya kenangan masa kanak berkaitan tembakau yang tak terlupakan. Ia terbiasa membantu ayahnya, mencari kayu bakar di hutan Gunung Slamet untuk menggarang tembakau. Kayu bakar yang dipilih hanya jenis tertentu, yakni Akasia dan Senggani. Cerita ayahnya, kayu tersebut akan menambah wangi tembakau.

Maryanto juga diajarkan oleh ayahnya cara memelihara tembakau. Salah satunya ambyang yakni menutup areal lahan tembakau dengan menyebar daun pinus. Tujuannya agar gulma tidak tumbuh.

"Bisa sampai dua pikul saya cari daun pinus. Dulu anak-anak petani di sini bersama-sama cari daun pinus sembari bermain," kata Maryanto.

Kebiasaan sang ayah menanam tembakau tak lagi dilanjutkan oleh Maryanto. Ia mengaku tak kesulitan menanam tembakau, tapi ia merasa tak memiliki keahlian mengolah tembakau. Maryanto pernah mencoba merajang atau mengiris tembakau. Tapi hasil irisan tembakaunya ia pandang buruk.

"Adik saya yang masih menanam tembakau. Saya enggak bakat," ujarnya pendek.

Dari golongan petani muda, Saryono (39) adalah salah satu petani yang masih menjalankan kebiasaan lama menyisihkan lahan untuk tembakau. Ia menanam 500 tembakau jenis Genjah Wiladah. Sedang di belakang kebun kediamannya, ia menanam 200 tembakau.

Menurutnya, banyak petani di Dusun Bambangan meninggalkan tembakau karena memang tak memiliki daya jual. Dahulu, petani menanam tembakau untuk kebutuhan pribadi ngudud daripada membeli. Sedang saat ini, kebiasaan ngudud mudah didapatkan dengan membeli rokok pabrikan yang tak harus repot melinting dengan campuran cengkeh dan taburan menyan.

"Kalau ada daya jual mungkin bisa tanam lagi. Saya sendiri berusaha cari jaringan pasar tembakau kesulitan," kata Saryono.

Kisah indah penanaman tembakau di Dusun Bambangan, nampak lebih banyak jadi bagian dari kenangan. Tapi tak bisa dipungkiri, tradisi menanam tembakau merupakan bagian dari cermin kehidupan, perilaku dan kepribadian warga Dusun Bambangangan. Melalui tembakau mereka mengekspresikan diri terbiasa memupuk solidaritas sosial, tembakau menjadi cara berbagi hasil pertanian cuma-cuma untuk mengikat hubungan penuh keakraban. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Tembakau Indonesia
  2. Pertanian
  3. Banyumas
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini