Cerita Soeharto setelah lengser, sulit ditemui dan irit bicara

Selasa, 22 Mei 2018 04:13 Reporter : Syifa Hanifah
Cerita Soeharto setelah lengser, sulit ditemui dan irit bicara Pengunduran diri Soeharto 21 Mei 1998. ©2016 Merdeka.com

Mei 21 1998, Presiden Soeharto lengser dari kursi presiden Republik Indonesia setelah berkuasa 32 tahun. Pasca dirinya lengseng otomatis Soeharto menjadi warga biasa. Kehidupan sehari-harinya pun dihabiskan di rumah pribadinya di Jalan Cendana.

Sehari setelah Soeharto lengser, menarik untuk menyimak kembali cerita peristiwa yang 20 tahun lalu terjadi. Aktivitasnya apa saja? Berikut rangkumannya dari berbagai sumber:

2 dari 5 halaman

Tidak mau dikawal

dikawal rev1Soeharto. ©Koleksi Keluarga Tony Soenanto

Usai tidak lagi menjabat sebagai Presiden, Soeharto masih mendapat pengawalan dari pihak protokoler. Namun Soeharto menolak itu, menurutnya setelah tidak lagi menjadi Presiden dia menjadi warga biasa. Hal ini diceritakan Maliki Mift, pengawal khusus Soeharto saat itu yang tertuang dalam sebuah bab di buku berjudul Soeharto: The Untold Stories (2011).

Menurut Maliki, Soeharto adalah sosok yang sederhana. Saat itu dia bersama Soeharto sedang melakukan perjalanan. Sebagai mantan Presiden, Soeharto berhak mendapat pengawalan dari polisi. Namun, Soeharto yang mengetahui dirinya dikawal oleh polisi. Soeharto langsung meminta tidak ada pengawalan sama sekali. "Tetapi, begitu satgas polisi datang dan mengawal di depan mobil kami, Pak Harto mengatakan, 'Saya tidak usah dikawal. Saya sekarang masyarakat biasa. Jadi, kasih tahu polisinya'," tulis Maliki dalam buku Soeharto: The Untold Stories, menirukan ucapan Soeharto waktu itu.

3 dari 5 halaman

Keluar masuk rumah sakit

rumah sakit rev1Soeharto . ©2013 Merdeka.com

Usai tidak lagi menjadi Presiden, Soeharto jatuh sakit. Bahkan dia harus bolak balik masuk rumah sakit. Ini diceritakan dalam buku Hari-Hari Terakhir Jejak Soeharto Setelah Lengser. Pada 29 April 2004, Soeharto mengalami pendarahan saluran pencernaan dan diumumkan membaik pada 2 Mei. Pada 2003, kesehatan Soeharto memburuk dan masuk RSPP pada 29 April.

Pada tahun 2006, Soeharto masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) pada 4 Mei dan keluar 31 Mei. Kondisinya semakin menurun sejak Soeharto pulang dari RSPP pada 31 Mei 2006. Sejak tahun ini, kondisi kesehatan Soeharto benar-benar sudah menurun drastis. Sejumlah organ pentingnya tidak berfungsi normal. Otaknya mengalami kerusakan, baik sel otak kiri maupun kanan. Begitu juga jantung, Soeharto harus memakai alat pacu jantung agar organ vital ini tetap berfungsi. Begitu juga paru-paru dan ginjalnya, fungsinya sudah menurun.

Sampai akhirnya, pada 27 Januari 2008 Pukul 13.10 WIB, Soeharto meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta. Kemudian jenazah Soeharto dimakamkan di Astana Giri Bangun, Solo bersebelahan dengan makan sang istri Bu Tien Soeharto.

4 dari 5 halaman

Soeharto menjadi irit bicara

irit bicara rev1Pengunduran diri Soeharto 21 Mei 1998. ©2016 Merdeka.com

Perubahan yang paling terasa usai Soeharto lengser, yakni Soeharto menjadi irit bicara. Ini seperti yang ditulis dalam Majalah Tempo Edisi Khusus Soeharto Februari 2008. Usai dirinya membacakan pidato pengunduran dirinya. Dia langsung menyalami mantan wakilnya Habibie termasuk sejumlah Hakim Agung. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut Soeharto. Dia langsung balik badan menuju Ruang Jepara, tempat menunggu pimpinan MPR/DPR. Syarwan Hamid, salah satu Wakil Ketua DPR saat itu, menggambarkan Soeharto waktu itu hanya bicara satu menit. Berdiri setengah membungkuk dengan tangan menyilang di perut, untuk berpamitan.

"Saudara-saudara, saya tak menjadi presiden lagi. Tadi sudah saya umumkan kepada rakyat. Sesuai Pasal 8 UUD 1945, Habibie sudah mengucapkan sumpah di depan MA. Saya harap MPR dan DPR dapat menjaga bangsa ini. Terima kasih," ucap Soeharto.

5 dari 5 halaman

Soeharto enggan menerima banyak tamu

menerima banyak tamu rev1Kediaman Soeharto di Jalan Cendana. ©2016 merdeka.com/adriana megawati

Seperti ditulis Majalah Tempo Edisi Khusus Soeharto, Soeharto dan keluarga cendana menjadi menutup diri. Setelah lengser sebagai Presiden Kedua RI, Soeharto lebih sering mengurung diri di Cendana, meski petinggi militer dan kerabat berusaha bertamu. Kemudian Soeharto mengumpulkan keluarga Cendana di Puri Retno, Anyer, Banten, pada Juli 1998 atau dua bulan pasca presiden kedua ini mundur. Usai makan di pinggir pantai, Soeharto meminta anak-anak, menantu, dan cucunya menerima kondisi pahit tersebut dan berusaha tabah melaluinya.

Menurut Soeharto, ini adalah konsekuensi usai dirinya mundur dari jabatan presiden. Mundur bukan hujatan mereda, justru sebaliknya. Dia meminta anak-anaknya tak bereaksi atas kondisi itu. "Biarlah sejarah yang mencatat, dengan hati bersih saya sudah memimpin dan memajukan negeri ini. Kalau masih ada hujatan, mari diterima dengan ikhlas. Mudah-mudahan ini mengurangi beban saya di akhirat," kata Soeharto. [has]

Baca juga:
Komnas HAM sebut pihak terlibat pelanggaran HAM 98 punya jabatan strategis
Mengenang aksi mahasiswa duduki Gedung DPR untuk lengserkan Soeharto
Aksi peringatan 20 tahun reformasi
Dikejar dan dihajar Tim Mawar
Diserbu gerombolan pria berambut cepak
Mengenang 20 tahun tragedi Mei 1998 dalam bingkai foto

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini