Cerita prihatin Polsek di Kalbar yang malah dihuni penjaga masjid

Senin, 6 April 2015 06:45 Reporter : Mustiana Lestari
Cerita prihatin Polsek di Kalbar yang malah dihuni penjaga masjid Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Tidak pernah habis cerita sedih sekaligus memprihatinkan dari pelosok Indonesia. Kapolda Kalimantan Barat (Kalbar) Brigjen Pol Arief Sulistyanto pernah merasakan getirnya memimpin anggota dengan fasilitas yang serba terbatas.

Sejak awal menjabat di Kalbar, Arief memang gemar blusukan dan memantau anak buahnya tak terkecuali di pelosok Kalbar. Suatu kali dia hendak memantau Polsek Kuala Mandor di pedalaman Pontianak.

"Kalau mau ke sana harus pakai sampan lalu naik motor lagi sampai 3 jam. Polsek itu jauh dari pemukiman belum ada listrik dam air," kata Arief saat ditemui di kediamannya di Bekasi, Jumat (4/4).

Bahkan saat ke sana karena terlalu membingungkan, Arief malah nyasar ke pospol yang terletak di pinggir sungai dan dekat dengan pemukiman warga. "Saya harus naik ojek lagi melewati parit dan sawah," ucap dia

Sudah bersusah payah sampai ke Polsek Kuala Mandor, ternyata di polsek kosong melompong. Tidak ada satu pun polisi yang berjaga meski di hari libur.

"Saya malah ketemu dengan penjaga masjid katanya saya dititipi Pak polisi. Bahkan di papan nama kapolseknya masih tiga generasi sebelumnya belum diganti," kenang dia.

Penasaran, Arief memutuskan menyambangi rumah dinas kapolsek. Lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan. "Saya ke rumah dinas, kosong. Saya tunggu ternyata di sana ditempati tukang sadap karet," kata Arief kesal.

Langsung saja Arief menemui kapolres dan mencopot kapolsek Kuala Mandor. Namun hanya salah satu solusi yang ditempuh Arief. Dia tahu kalau hanya mencopot pejabat, masalah belum selesai karena kondisi polsek yang seperti itu pasti membuat polisi manapun berat menjalankan tugasnya.

"Saya rame-rame ke sana sama bupati dia baru tahu jalan enggak ada akses, jalan belum diaspal, listrik belum ada, banyak keluhan dari masyarakat. Saya suruh kumpulkan semua masyarakat saya bilang saya bawa Pak bupati langsung rame-rame mengeluh ke bupati. Akhirnya diperbaiki lampu, dibangun rumah bhayangkari ada taman bacaan, kebun. Sekarang jadi rame," tukas Arief.

Arief memang enggan memberikan beban yang berat kepada anggotanya. Dia pun mendorong anggotanya untuk konsisten di jalan lurus. "Kalau saya minta setoran ke mereka pasti mereka dapat itu dari kegiatan ilegal," tegas dia. [rep]

Topik berita Terkait:
  1. Polisi Teladan
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini