Cerita Poso dijadikan qoidah aminah teroris di Indonesia

Kamis, 21 Juli 2016 08:45 Reporter : Hery H Winarno
Cerita Poso dijadikan qoidah aminah teroris di Indonesia Wilayah persembunyian Santoso di Poso. ©Reuters/Kanupriya Kapoor

Merdeka.com - Gembong teroris paling dicari di Indonesia, Santoso alias Abu Wardah dinyatakan tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh Tim Satgas Tinombala di hutan belantara di Poso, Sulawesi Tengah. Santoso dan anak buahnya, Mochtar dinyatakan tewas pada 18 Juli lalu.

Santoso mulai dicari secara besar-besaran pada Januari 2015. Saat itu, operasi penangkapan Santoso dan anak buahnya diberi kata sandi Camar Maleo I. Ribuan personel gabungan dari Polri dan TNI dikerahkan untuk memburu bos kelompok Mujahidin Indonesia Timur itu.

Selama Operasi Camar Maleo I, II, III dan IV digelar dari Januari 2015 sampai Januari 2016, kepolisian telah menangkap 24 orang teroris, tujuh orang dalam keadaan tewas dan 17 lainnya sedang dalam proses hukum.

Operasi Camar Maleo ini juga mengakibatkan dua orang polisi dan seorang anggota TNI gugur dan empat polisi luka-luka. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti kegiatan terorisme seperti senjata api, amunisi, bom rakitan, bahan pembuat bom, pakaian, senter, pakaian dan bendera ISIS serta banyak benda lainnya.

Operasi besar-besaran untuk menangkap Santoso di Poso memakan waktu satu tahun enam bulan. Sesulit apakah mencari kelompok teroris ini di hutan Poso?

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut Poso sudah dijadikan qoidah aminah atau basis aman bagi kelompok Mujahidin Indonesia Timur di bawah komando Santoso. Hal ini membuat perburuan terhadap kelompok memakan waktu l [hhw] SELANJUTNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini