Cerita Polwan dan Letkol Yuni bikin penjahat bertekuk lutut

Rabu, 15 April 2015 09:43 Reporter : Muhammad Hasits
Cerita Polwan dan Letkol Yuni bikin penjahat bertekuk lutut brigadir marlina. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Kuat dan tangguh ternyata tidak hanya dimiliki oleh seorang laki-laki saja. Buktinya, meski sebagai perempuan, sosok satu ini jangan dipandang sebelah mata.

Adalah Brigadir Marlina (31) buktinya. Dia dijambret saat hendak berangkat kerja ke Polres Metro Jakarta Utara. Kejadian ini dialaminya tidak jauh dari rumahnya di Jalan Bambu Kuning, Bekasi Timur beberapa waktu lalu.

"Saya spontan ketika melihat penjambret, akhirnya saya menendang ban depan motor penjambret itu," kata Marlina saat ditemui di ruang kerjanya di Sabhara Polres Jakarta Utara, Jalan Yos Sudarso, Jumat (13/3) bulan lalu.

Marlina mengatakan, saat berangkat kerja situasi di sekitar rumahnya masih sangat sepi. Marlina biasa berangkat menggunakan sepeda motor, namun karena cuaca tidak baik akhirnya dia memutuskan untuk naik bus. Saat sedang berjalan kaki tiba-tiba saja ada jambret bernama Praditya merebut tas cokelat yang dibawanya.

"Saya sempat menarik tas, tapi karena dia nariknya pakai motor akhirnya lepas. Saya kalah cepat," ungkapnya

Marlina menjelaskan bahwa Begal itu langsung kabur, namun Marlina terus mengejarnya dengan berlari sambil berteriak jambret. Teriakan Marlina ini menarik perhatian warga di kawasan itu. Melihat banyak warga, jambret memutar balik ke arah Marina.

"Mungkin karena refleks pakai kaki kanan nendang, dia kekeh enggak mau kasih tas saya. Akhirnya saya pukul saja mukanya," tandasnya.

Tak hanya Polwan, cerita wanita pemberani ini juga datang dari anggota TNI wanita, Dia adalah Letkol Kesjas TNI AU, Dra. Yuni Sukmawati. Mantan orang nomor satu di lingkungan Wanita Angkatan Udara (Wara) itu pernah menjabat sebagai Komandan Sepadik Kadik Skuadron Pendidikan 105 Wara Lanud Adi Sutjipto 2009-2010. Dia mengungkapkan pengalamannya kepada merdeka.com saat melumpuhkan dua orang preman suruhan anak buahnya di TNI AU.

Anak buahnya itu juga didikannya di dojo Jiu Jitsu Kai di lingkungan TNI AU. Yuni menguasai ilmu beladiri itu hingga meraih sabuk Dan V. Dia menekuni bela diri itu sejak masih berseragam putih abu-abu di Surabaya.

"Waktu di Surabaya dulu, anak buah saya tiba-tiba nyuruh orang lain, preman. Dua orang mau mencelakai saya. Saya dikeroyok dua orang kanan dan kiri saya, menghentikan saya," kata Yuni.

Yuni hanya merasa yakin dengan ilmu beladiri Jiu Jitsu Kai dia tekuni sejak 1986 itu. Hanya dengan dua jurus, dia dengan mudah melumpuhkan kedua preman. Kedua lelaki itu langsung lari ketakutan.

"Saat itu saya menjadi pelatih Jiu Jitsu Kai di Lanud Sidoarjo, Surabaya sekitar tahun 2002. Saya telusuri usai anak buah saya itu mencoba-coba ilmu saya. Saya tahu karena selama keseharian berlatih dengan saya, dia terlihat tidak menyukai dengan sistem bela diri dan metode melatih saya di Lanud Sidoarjo, Surabaya dulu," ujar Yuni.

Yuni juga kerap didapuk menjadi juri dan wasit di gelaran pertandingan bela diri dalam ajang Kejurnas dan Sea Games. Meski begitu, anak buahnya tidak langsung meminta maaf karena sang preman sudah mengakui dia disuruh mengerjai Yuni. Seiring berjalannya waktu, anak buahnya pun akhirnya meminta maaf kepada Yuni.

"Baru pindah ke Yogya, tahun 2006 dia menghadap ke saya. Minta maaf. Saya tidak mempersoalkan tapi saya berpesan, kepada siapapun jangan seperti itu ke orang lain," ujar ibu dari Felicia Nafirstya Deyzitta itu. [has]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini