Cerita Pengungsi Rohingya di Medan Kesulitan Bayar Uang Berobat Anak

Rabu, 10 Agustus 2022 13:43 Reporter : Uga Andriansyah
Cerita Pengungsi Rohingya di Medan Kesulitan Bayar Uang Berobat Anak Ilustrasi pengungsi Rohingya. ©2022 Merdeka.com/Istimewa

Merdeka.com - Seorang pengungsi etnis Muslim Rohingya di Kota Medan, Abdullah (bukan nama sebenarnya), mengaku telantar lantaran tidak mampu bayar uang perobatan untuk anaknya yang dirawat di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU).

RS USU merupakan rumah sakit yang telah bekerja sama dengan Organisasi Migrasi Internasional (IOM). IOM memiliki peran kunci dalam berkontribusi para migran termasuk pengungsi akibat konflik di negara asal.

Abdullah mengatakan peristiwa pahit yang dialaminya berawal saat anaknya yang masih berumur 1,4 tahun mengalami diare, Senin (8/8) kemarin. Dia membawa anaknya ke RS USU sekitar pukul 16.30 WIB.

"Anak saya itu diare dan awalnya itu demam. Dia bolak-balik buang air besar sehingga dia lemas. Akhirnya saya bawa ke rumah sakit," katanya kepada merdeka.com, Rabu (10/8).

Lanjut Abdullah, setibanya di RSU USU anaknya masuk ke ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD). Saat itu salah satu dokter menyarankan agar anak Abdullah harus diinfus lantaran sudah dalam kondisi lemas. Namun, anak Abdullah tidak jadi diinfus lantaran tak dapat persetujuan dari IOM terkait pembiayaannya.

Abdullah pun memilih untuk rawat jalan lantaran tidak memiliki uang. Saat itu dokter memberikan sejumlah obat.

"Dokter bilang, baik saya kasih obat dahulu dan tidak usah diinfus. Kalau nanti tidak ada perkembangan bawa lagi ke sini," kata Abdullah menirukan perkataan dokter di RS USU.

Selanjutnya, Abdullah membawa anaknya pulang ke kamp pengungsian. Namun, pada malam hari kondisi anak Abdullah kian menurun.

"Dari jam 23.00 WIB anak saya buang air besar berkali-kali. Dari jam 23.00 WIB sampai pagi itu ada 17 kali buang air besar. Esoknya Saya langsung bawa ke rumah sakit USU. Karena saya tidak punya uang saya cari pinjaman ke teman-teman dan bawa ke rumah sakit," ungkapnya.

Kemudian, pada Selasa (9/8) pagi Abdullah dan anaknya tiba di RS USU. Saat itu juga salah seorang dokter spesialis anak menyarankan bocah itu dirawat inap. Namun, lagi-lagi dokter umum yang telah bekerja sama dengan IOM menolaknya. Hal itu lantaran IOM tidak mengeluarkan persetujuan terkait pembiayaan pengobatan tersebut.

"Di IGD dokter umum tidak mau opname, tapi dokter spesialis anak bilang harus dirawat inap. Tapi dokter umum yang dari IOM tidak mau karena tidak ada persejutuan. Saya bilang enggak apa-apa. Saya mau bayar, karena ini anak saya, bukan anak IOM," ucap Abdullah.

Akhirnya, anak Abdullah dirawat inap di RS USU meskipun harus menanggung biayanya sendiri. Usai kondisi anak Abdullah berangsur membaik, dia memilih untuk pulang ke kamp pengungsian, Rabu (10/8). Seluruh biaya perobatannya telah dibayarnya menggunakan uang pinjaman dari teman sesama pengungsi.

"Hari ini saya bayar Rp1,040.000 selain obat. Itu obat saya beli dari luar," pungkas Abdullah yang telah berada di Indonesia selama tujuh tahun.

Sementara itu, National Media and Communications Officer untuk IOM Indonesia, Ariani Hasanah Soejoeti, mengatakan telah memberitahu kejadian ini kepada dokter RS USJ yang menangani pasien dari pengungsi.

"Saya sudah teruskan ke dokter IOM. Nanti saya update kalau beliau sudah respons," katanya, Selasa (9/8).

Namun hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan lebih lanjut dari IOM. IOM pun dinilai tak peduli terkait adanya pengungsi Rohingya yang telantar lantaran tidak memiliki uang untuk berobat.

Baca juga:
Bangladesh Minta Bantuan China untuk Pulangkan Pengungsi Rohingya ke Myanmar
Data Fakta Jumlah Pengungsi Akibat Konflik di Seluruh Dunia
Lagi, Pengungsi Rohingya Kabur dari Penampungan di Riau

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. KILAS
  3. Regional
  4. Pengungsi Rohingya
  5. Medan
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini