Cerita Pelantikan Presiden: Habibie, Satu-satunya yang Dilantik di Istana

Jumat, 18 Oktober 2019 09:33 Reporter : Wisnoe Moerti
Cerita Pelantikan Presiden: Habibie, Satu-satunya yang Dilantik di Istana pelantikan Habibie di Istana. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Hari itu, satu hari sebelum Soeharto mundur sebagai Presiden Indonesia. Pada 20 Mei 1998, Wakil Presiden Habibie bertemu Soeharto. Keduanya membicarakan isu penting. Soeharto akan mundur sebagai Presiden RI.

Pertanyaan dilontarkan Habibie. "Pak Harto, kedudukan saya sebagai Wakil Presiden bagaimana?" tanya Habibie. Seperti dikutip dari buku Detik-Detik Yang Menentukan.

Soeharto tak memberi jawaban yang tak pernah terpikirkan oleh Habibie. "Habibie akan melanjutkan tugas sebagai Presiden."

Setelah itu sempat dibicarakan mengenai surat pengunduran diri 14 menteri. Hanya singkat yang disampaikan Soeharto. Lalu Soeharto mengulurkan tangan. Menjabat tangan Habibie. Dia memberi pesan agar Habibie menjalankan tugas dengan baik. "Akan saya usahakan," singkat Habibie saat itu.

1 dari 2 halaman

Dilantik di Istana

Keesokan harinya, saatnya tiba bagi Habibie. Kamis, 21 Mei 1998. Langit Jakarta masih gelap, sisa-sisa kerusuhan. Di Istana Negara, menggelar acara penting yang menjadi catatan sejarah perjalanan bangsa.

Habibie berjalan di belakang Soeharto. Mengenakan jas dan peci hitam. Wajah Soeharto tampak dingin. Habibie lantas berdiri di belakang Soeharto. Sebuah kertas putih digenggamnya. Soeharto membacakan isi surat pengunduran diri sebagai Presiden Republik Indonesia. Berlangsung singkat.

"Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia," ujar Soeharto.

Dia lantas menyebut nama Habibie menjadi penggantinya sebagai Presiden Republik Indonesia. "Maka Wakil Presiden Republik Indonesia, Professor Doktor Ir. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden mandataris MPR 1998-2003," lanjut Soeharto.

Selesai Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden RI, protokol istana menyerahkan sebuah map cokelat kepada Habibie. Berlogo Burung Garuda. Tongkat estafet kepemimpinan negeri siap diserahkan. Mantan Menristek itu diminta membacakan sumpah dan kewajiban sebagai Presiden Indonesia. Soeharto menyaksikan langsung pelantikan Habibie.

Semuanya berlangsung cepat dan lancar. Setelah Habibie mengucap sumpah jabatan, Soeharto menjabat tangan semua yang hadir. Termasuk menjabat tangan Habibie. Tanpa senyuman. Lalu Soeharto berjalan di belakang Habibie. Dia meninggalkan ruangan.

2 dari 2 halaman

Tetap Sah

Pelantikan Habibie tidak dilakukan di Gedung DPR/MPR. Karena saat itu Gedung DPR/MPR diduduki mahasiswa. Pelantikan Habibie yang digelar di Istana sempat menjadi perdebatan. Dianggap inkonstitusional karena hanya dilakukan dihadapan Mahkamah Agung dan beberapa pejabat MPR dan DPR. Mereka dianggap bukan mewakili kelembagaan.

Dilihat dari sisi hukum materiil, pelantikan Habibie sebagai presiden tetap sah dan konstitusional. Namun jika dilihat hukum formal dianggap tidak konstitusional. Sebab pelimpahan kekuasaan dari Soeharto kepada Habibie harus melalui acara resmi yang konstitusional. Apalagi Presiden sebagai mandataris MPR.

Namun yang perlu dicatat, saat itu di gedung DPR/MPR tidak mungkin dilakukan sidang. Karena diduduki mahasiswa. Hal ini dijadikan alasan yang kuat untuk menilai pelantikan Habibie tetap sah secara hukum.

[noe]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini