Cerita Para Pencari Suaka yang Tak Lagi Terbuka

Rabu, 4 September 2019 16:15 Reporter : Yan Muhardiansyah
Cerita Para Pencari Suaka yang Tak Lagi Terbuka Suasana penampungan pencari suaka di Top Inn Hotel Medan. ©2019 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Suasana penampungan pengungsi sekaligus pencari suaka di Top Inn Hotel, Jalan Flamboyan Raya, Tanjung Selamat, Medan, tak banyak berubah dibanding dua tahun lalu. Namun, perubahan paling terasa dari sikap penghuninya yang kini dingin pada awak media.

Untuk melakukan peliputan di sana juga tak semudah sebelumnya. "Sekarang nggak bisa macam dulu. Orang Indonesia nggak bisa sembarangan masuk lagi. Begitu perintah IOM dan Imigrasi kepada kami. Kalau mau wawancara harus ada izin," kata Br Sembiring, Manager Hotel Top Inn, Rabu (4/9).

Setelah mendapat izin lisan dari Kepala Rudenim Medan, Victor Manurung, pihak hotel baru mengizinkan wartawan masuk. Di kompleks hotel itu terlihat sejumlah anak bermain di halaman. Seorang di antaranya sedang menyapu.

Sementara sejumlah ibu langsung masuk ke dalam tempat tinggalnya begitu melihat kedatangan orang asing. Sebagian lagi tak peduli.

Br Sembiring merekomendasikan nama Yunus untuk diwawancarai. Saat ditemui, pemuda itu tampak kebingungan. "Ada izin, dari Imigrasi? Dari IOM?" tanyanya dingin.

Setelah diberi penjelasan bahwa izin sudah diberikan pihak Rudenim, Yunus mengaku belum mandi. Dia berbalik badan masuk ke tempat tinggalnya, lalu menutup pintu. Pintu itu tak kunjung terbuka seperti sebelumnya.

Tak lama berselang, pria dewasa Rohingya lainnya tampak ke luar. Dia mengajak masuk anak perempuannya yang tengah bermain ayunan. Saat diajak wawancara, dia menolak keras.

Hanya seorang perempuan tua dari Pakistan yang tampak antusias saat diajak untuk wawancara. Dia kemudian langsung masuk ke tempat tinggalnya. Tak lama berselang, terdengar suara keras dari dalam.

Perempuan tua itu kemudian keluar sambil menyatukan kedua tangannya mengisyaratkan minta maaf. "Tidak bisa Bahasa, tidak bisa Inggris," ucapnya terbata-bata.

Sambutan dingin para pengungsi ini berbeda jauh dari kondisi beberapa tahun lalu. Saat bertemu kami dua tahun lalu mereka tampak senang diwawancarai.

Saat ditanya mengenai sikap para pengungsi, Br Sembiring mengakui perubahan itu. Menurutnya, para pencari suaka sudah takut tampil di media.

"Mereka bahkan curiga, tampil di media justru membuat mereka lama diberangkatkan ke negara ketiga," jelas Br Sembiring.

Perempuan ini juga bercerita, pada Idul Adha lalu, sejumlah pengungsi Rohingya sempat menolak daging kurban yang diberikan sebuah lembaga. Alasan penolakanya, mereka takut terpublikasi sehingga akan menghambat keberangkatannya ke negara ketiga.

"Mungkin sikap itu karena mereka sudah terlalu lama di sini dan belum diberangkatkan," jelas Br Sembiring.

Sikap berbeda ditunjukkan para pengungsi ini saat demo dekat kantor perwakilan UNHCR, di Jalan Listrik, Medan, baru-baru ini. Saat itu mereka lepas menyampaikan uneg-unegnya. Intinya, mereka berharap segera dikirim ke negara ketiga. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Pencari Suaka
  2. UNHCR
  3. Imigran
  4. Medan
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini