Cerita Ngadiyono Dua Kali Jadi Korban Erupsi Gunung Semeru

Senin, 5 Desember 2022 00:03 Reporter : Darmadi Sasongko
Cerita Ngadiyono Dua Kali Jadi Korban Erupsi Gunung Semeru Erupsi Gunung Semeru. ©2022 AFP/Agus Harianto

Merdeka.com - Ngadiyono mengaku kaget bukan kepalang saat melihat Awan Panas Guguran (APG) membumbung tinggi di langit pada Minggu (4/12). Kepulan awan itu tidak biasa seperti yang sering dilihatnya setiap pagi dari Bumi Semeru Damai (BSD).

Ngadiyono merupakan warga Desa Curah Kobokan, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang yang baru saja menempati hunian di Bumi Semeru Damai (BSD). Kendati sudah menempati rumah baru, pikirannya langsung teringat kampung lamanya yang sudah hancur tepat setahun lalu.

Ngadiyono cemas dan menyimpan kekhawatiran dengan hewan ternaknya yang masih tinggal di kampung lamanya. Hatinya semakin tidak menentu setelah mendapat kabar kalau kampung lamanya itu juga diterjang banjir lahar panas dari material erupsi Semeru.

Ngadiyono mengaku sehari-hari bolak balik dari tempat tinggal barunya di BSD ke Curah Kobokan untuk bekerja di tambang pasir, selain mengurus hewan ternak. Saat hujan deras turun mengguyur BSD., Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdo’a untuk keselamatan ternaknya. Sekitar 3 jam hatinya gelisah.

Begitu hujan mulai mereda, Ngadiyono pun langsung bergegas melihat kondisi ternaknya di kampung lamanya itu. Ia berangkat bersama adik dan beberapa warga lain.

Kondisi perjalanan pun sudah dinyatakan tidak aman. Ia dicegah oleh petugas yang berjaga di perbatasan Dusun Kamar Kajang dan Kajar Kuning.

Kata Petugas BPBD kondisi Kajar Kuning dan Curah Kobokan tidak aman, kondisinya udah habis diterjang lava panas.

“Sempat dicegah sama yang jaga, katanya di atas kampungnya sudah parah,” ujarnya.

Lalu, Ngadiyono tetap nekat untuk memasuki wilayah zona merah itu dengan alasan menyelamatkan hewan ternaknya.

“Ya saya izin, bilang buat ngecek dan menyelamatkan ternak,” ujarnya.

2 dari 2 halaman

Ngadiyono mendampingi adiknya berhasil sampai di rumah lama milik adiknya di Kajar Kuning. Saat itu melihat kondisi Dusun Kajar Kuning, terutama di jembatan Kali Lanang sudah tertutup material erupsi.

Bau belerang yang menyengat ditambah tanah yang masih berasap panas terlihat dari kejauhan. Namun, kondisi ini tidak membuat Ngadiyono pasrah.

Ngadiyono pun harus menelan rasa kecewanya sesampai di rumah tinggal lamanya. Sebagian bangunan sudah tertutup material erupsi termasuk kandang kambing miliknya.

“Pas sampai di rumah, kondisinya sudah tertutup lumpur panas. Ya mau gimana lagi saya ikhlaskan saja,” ujarnya.

Ngadiyono mengaku balik arah sambil berjalan lemas meratapi nasib rumah dan 3 ternaknya yang sudah tak bisa diselamatkan lagi. Ia kembali ke tempat hunian dengan penuh harap mempunyai pekerjaan baru yang dapat menopang hidupnya.

Ngadiyono kembali menjadi korban Erupsi Gunung Semeru. Ia telah sekuat upaya untuk bangkit, tetapi bencana itu kembali datang memberinya ujian.

Ngadiyono berharap Pemerintah dapat memberikan alternatif pekerjaan guna menyambung hidup. Apalagi lokasi tambang, yang menjadi mata pencahariannya saat ini yang tertutup abu vulkanik. Nasib, Kajar Kuning dan Curah Kobokan kini seperti Kampung Renteng di Desa Sumberwuluh yang tertelan lava panas. [ded]

Baca juga:
Pemkab Lumajang Tetapkan Masa Tanggap Darurat Bencana Erupsi Semeru Selama 14 Hari
Gunung Semeru Erupsi, Jalur Lumajang-Malang via Curah Kobokan Ditutup Total
Status Gunung Semeru Naik Level Awas, Gubernur Khofifah Minta Warga Evakuasi Diri
PVMBG: Luncuran Awan Panas Gunung Semeru Capai 13 Kilometer Lebih
Gunung Semeru Erupsi, AirNav Keluarkan Peringatan untuk 3 Bandara

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini