Cerita Mudik Yuni, Lewati Penyekatan Sampai ke Kampung Halaman

Sabtu, 15 Mei 2021 05:02 Reporter : Bachtiarudin Alam
Cerita Mudik Yuni, Lewati Penyekatan Sampai ke Kampung Halaman Pemudik Lawan Arus. ©2021 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Pemerintah telah mengeluarkan keputusan untuk larangan mudik di tengah pandemi Covid-19. Dan realitanya masih banyak perantau yang bersikukuh untuk tetap pulang ke kampung halaman.

Bukan tanpa alasan, banyak faktor yang menjadi penyebab masyarakat tetap ingin mudik untuk merayakan lebaran bersama keluarga. Seperti halnya Yuni. Dia seorang pekerja di Jakarta yang berhasil mudik ke Bandung bersama beberapa rekan kerjanya.

"Sebenarnya kalau dari umum (aturan larangan mudik) itu bagus sih mengurangi terjadinya Covid-kan. Cuman gimana ya, namanya perantau tuh dia kaya wajib pulang, gimana pun caranya harus pulang," katanya ketika dihubungi merdeka.com, Jumat (14/5).

Keinginan Yuni untuk pulang kampung merayakan lebaran bersama keluarga pun dimulai pada Senin (10/5). Dimana kala itu pemberlakuan larangan mudik mulai diterapkan, ditandai dengan berdirinya beberapa pos penyekatan oleh pihak kepolisian.

Bertolak dari Jakarta sekitar pukul 22.00 WIB malam, Yuni bersama dua orang temannya yang sama menuju Bandung berangkat menggunakan mobil. Hanya berbekal surat keterangan tes swab antigen bebas Covid-19, mereka memacu kendaraannya masuk ke Tol Cikampek.

Mulai dari Tol Cawang, mereka tidak mengalami hambatan arus lalu lintas. Akan tetapi, ketika di Tol Perbatasan menuju Karawang-Cikarang, kemacetan panjang sudah mulai terlihat dan penumpukan kendaraan yang sangat panjang.

Yuni dan dua rekannya masih tidak percaya dengan adanya penyekatan larangan mudik. Namun semakin dekat ke perpecahan menuju Bandung, barulah terlihat banyaknya para personel yang berjaga dan mengecek kendaraan satu per satu.

"Ternyata pas di perbatasan Tol Cikarang Karawang, yang lurus ke Bandung banyak polisi sampai banyak polisi yang bawa tembakan, pakaian hitam-hitam gitu kaya Brimob. Pokoknya di sana macet banget mobil gede pada klakson gitu," terangnya.

"Dan satu lagi jembatan layang di tutup, ke arah Bandung yang ada di Tol Cikampek itu ditutup jadi semua lewat bawah semua biar di cek enggak ada yang lolos. Jadi macet banget, nah ternyata di depan baru terlihat lah pengecekan, ternyata beneran," tambah Yuni.

Semakin dekat mobil ke titik penyekatan, terdapat papan peringatan berwarna hijau bertuliskan 'Persiapkan Dokumen Anda'. Namun pada saat itu, Yuni tak mengetahui dokumen apa yang harus disiapkan. Lantas ketika masuk di lajur ketiga, seorang polisi menghampiri dan meminta kaca mobil dibuka.

"Ditanyalah sama polisi mau kemana pak bu? Saya jawab mau ke Bandung. Boleh lihat dokumennya, nah lalu kita sama-sama bingung satu mobil. Langsung nanya dokumen apa ya pak, kita cuman mau ke Bandung. Ditanya deh dokumennya, tugasnya, kalau enggak lengkap dokumennya suruh diputarbalik ke Jakarta," ujar Yuni sambil praktikan ucapan si polisi.

Walau sempat keukeuh agar bisa lolos penyekatan, tapi akhirnya polisi memaksa Yuni putar balik ke exit Tol Cikarang. Lantas diputarlah mobil ke arah keluar tol, ternyata banyak sekali pemudik yang berdiam di pinggiran jalan karena tak lolos penyekatan.

Yuni melihat banyak mobil pemudik yang kembali masuk ke gerbang Tol Cikampek ke arah Bandung maupun Karawang dan berhasil masuk kembali, bahkan lolos dari penyekatan. Walaupun begitu mereka tidak mau ambil resiko dan tetap mematuhi untuk putar balik ke Jakarta.

"Jadi emang ada tol yang masuk lagi ke Bandung, nah ada pengecekan lagi di situ, tapi di situ tidak terlalu ketat. Jadi truk atau mobil yang enggak lolos di pengecekan pertama di situ bisa lolos, tapi saya enggak tahu cuman lihat aja soalnya saya enggak nyoba, takut," tuturnya.

Tidak kapok diputarbalik, Yuni dan dua rekannya kembali mencoba berangkat ke Bandung esok harinya. Kali ini seluruh dokumen telah disiapkan, termasuk izin perjalanan dinas dari tempatnya bekerja untuk sekalian bertugas ke Bandung.

Pada hari keberangkatan yang kedua, belajar dari pengalaman Yuni mengubah jadwalnya yang semula malam saat ini berangkat pagi sekitar pukul 10.00 WIB, tak lupa dokumen dinas dan surat antigen.

Termasuk pakaian kemeja dan jas kerja, serta bawaan yang lebih diminimalisir, hampers yang sebelumnya dibawa pun ditinggalkan olehnya. Hal itu dilakukan Yuni supaya tak terlihat sebagai pemudik.

"Berangkat lah besoknya, sekitar pukul 13.00 WIB siang sudah sampai dititik semalam disuruh putar balik. Nah tapi anehnya pas berangkat siang itu enggak diperiksa sama polisi. Sama sekali enggak diperiksa, enggak ramai kaya semalem. Jadi kalau pas siang itu polisi kaya cek random gitu jatuhnya ngacak," bebernya.

"Eh, ternyata kebalik malah malam dari Magrib itu dia lebih ketat. Jadi pak polisi kayanya udah tahu yang mudik itu pada berangkat malam jadi pengecekannya itu diperketat pas malam," sambung Yuni.

Setelah berhasil melewati pos penyekatan di Tol Cikampek, nasib baik kembali kepada Yuni dan kawan-kawan. Setibanya di Exit Tol Moh. Toha, Bandung, mereka sempat diberhentikan oleh aparat. Namun entah kenapa, polisi tersebut hanya menyuruh ke pinggir tanpa dilakukan pemeriksaan, sehingga mereka kembali melanjutkan perjalanan.

"Polisi sama, sempat juga memberhentikan disuruh ke pinggir. Tapi saya bingung, karena mungkin sudah sore kali ya, jadi sempat disuruh ke pinggir. Karena parkirannya terlalu jauh dari titik penyekatan nah si polisinya enggak ngampirin gitu, eh di diemin aja udah. Ya udah kita jalan lagi deh terus sampai rumah," terangnya.

Setibanya di rumah, Yuni sangat senang bisa berkumpul bersama keluarganya. Bahkan dia mengetahui kalau sang ibu sempat menangis ketika mendengar pada saat keberangkatan pertama tak lolos dari penyekatan dan disuruh putar balik.

"Bahkan sempat bilang ke orang tua, di hari pertama pas engga lolos itu, orang tua sedih nangis, mamah takut engga bisa pulang," ungkapnya.

Yuni merupakan satu dari 1,5 juta warga DKI yang bertolak mudik ke kampung halaman pada Lebaran 2021. Sebagaimana yang telah dilaporkan Kapolda Metro Jaya Irjen Mohammad Fadil Imran, dari 1,2 juta penduduk terus meningkat sampai 1,5 juta penduduk.

"Menindaklanjuti ucapan Kapolda bahwa sudah ada 1,2 sampai 1,5 juta penduduk Jakarta yang mudik, angka di jalan tol menunjukkan di atas angka 360ribu kendaraan yang sudah keluar dari jkt dari tanggal 1 sampai dengan 10 Mei 2020," katanya.

"Belum ditambah para pemudik sepeda motor yang tadi malam sudah malam keempat mencoba menembus pos penyekatan. Belum ditambah penumpang udara dan kapal laut, sehingga total kisaran 1.5 juta," tutup Fadil. [fik]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini