Cerita di Balik Presiden Soeharto Pilih Tinggal di Jl Cendana Bukan Istana

Senin, 14 Oktober 2019 06:48 Reporter : Tim Merdeka
Cerita di Balik Presiden Soeharto Pilih Tinggal di Jl Cendana Bukan Istana Presiden Soeharto di Asean Summit. ©soeharto.co

Merdeka.com - Presiden Kedua Republik Indonesia Soeharto, memilih tinggal di Jl Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat. Sampai sekarang istilah Cendana identik dengan Soeharto dan keluarga. Lalu kenapa Soeharto memilih tinggal di sana daripada istana?

Banyak rumor yang menyebut karena alasan kejawen, tapi sebenarnya tidak menurut Soeharto. Pertimbangannya karena faktor keluarga.

"Saya mengambil keputusan ini bukan karena tidak mau, melainkan demi kepentingan dan kebaikan keluarga. Untuk kepentingan anak-anak, agar tidak terpisahkan dari masyarakat, saya memilih tinggal di luar istana," kata Soeharto dalam Biografinya yang berjudul Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya yang ditulis Ramadhan KH dan G Dwipayana.

Menurut Soeharto, jika tinggal di istana akan sangat sulit untuk keluarganya bisa bergaul dengan masyarakat. Di Cendana, walaupun dijaga ketat, masih lebih longgar ketimbang orang harus masuk Istana.

1 dari 3 halaman

Pindah ke Cendana Sejak 1968

Soeharto dan keluarga pindah ke Jalan Cendana sejak tahun 1968. Saat itu dia baru dilantik sebagai Presiden kedua Republik Indonesia tanggal 27 Maret 1968.

Sebelumnya, Soeharto tinggal di Jl Agus Salim, Jakarta Pusat. Namun para pengawal kepresidenan menilai rumah itu tak aman, karena ada gedung tinggi di belakangnya. Dikhawatirkan ada penembak atau ancaman lain pada keluarga Soeharto.

"Yang mengurus soal keamanan menganggap lebih baik pindah. Keamanan diri kami sangat dijaga, maklumlah," kata mantan Panglima Kostrad itu.

Situasi saat itu memang belum sepenuhnya aman. Gesekan antara Pendukung Orde Lama dan Orde Baru masih terjadi dan menimbulkan korban jiwa.

2 dari 3 halaman

Rumah Dipasangi Ranjau Anti-Tank

Mantan Pengawal Soeharto, Kapten Eddie Nalapraya bercerita pernah memasang ranjau anti-tank di jalan menuju rumah Soeharto. Jika ada pasukan penyerang, Eddie pun siap meledakkan ranjau tersebut.

Rumah Pak Harto di Jl Agus Salim sebenarnya sudah dikawal satu kompi pasukan Zeni. Kira-kira sekitar 80 orang pasukan. Namun Eddie merasa itu masih kurang. Dia menugaskan satu peleton (kira-kira 20 orang pasukan) ditambah beberapa panser untuk mengawal Mayjen Soeharto.

Setiap malam Eddie ikut berjaga di rumah Pak Harto. Dia tak mau kecolongan.

"Saya lakukan itu untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan," kata Eddie dalam biografinya, Jenderal Tanpa Angkatan.

Dia menambahkan, Pasukan Tjakrabirawa dan kekuatan-kekuatan lain yang berseberangan dengan Angkatan Darat juga masih ada. Jika misal ada penculikan lagi, pasti Pak Harto jadi salah satu target utama.

3 dari 3 halaman

Istana Bukan Milik Presiden Saja

Soeharto menyebut Istana juga bukan hanya milik presiden. Karena itu dia ingin membuat banyak acara sehingga masyarakat juga bisa masuk ke dalam istana.

"Mengenai Istana, saya pikir, Istana Presiden bukan untuk presiden saja. Gedung itu adalah Istana Negara, Istana Kepala Negara, milik rakyat," kata Soeharto.

Catatan Redaksi:

Selama Bulan Oktober ini kami persembahkan tulisan tematik Bulan Para Presiden. Merdeka.com akan mengangkat kisah-kisah menarik dan cerita di balik sosok para presiden RI. Mulai dari Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY hingga Jokowi. Termasuk cerita mereka dengan para menterinya. [ian]

Baca juga:
Penerjun Pertama TNI AU Imanuel Nuhan Meninggal Dunia
Kisah Dokter Desa dengan Dasi Pinjaman Jadi Menteri Kesehatan
Cerita Hafidh, Anak Penjual Mainan Peraih Nilai 100 di Semua Mata Pelajaran UN
Ini Akhir Dramatis Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya
Ini pidato Bung Tomo yang membakar semangat rakyat Surabaya 10 November 1945
Kisah heroik pemuda Korea bertempur membela kemerdekaan Indonesia

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini