Hari Perempuan Internasional

Cerita bidan di pelosok Bekasi, gotong ibu melahirkan naik getek

Senin, 9 Maret 2015 05:15 Reporter : Mustiana Lestari
Cerita bidan di pelosok Bekasi, gotong ibu melahirkan naik getek ilustrasi. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Cerita perjuangan penjual jasa di pelosok selalu mengundang haru dan takjub. Kali ini cerita itu datang dari Nurawanah (29), seorang bidan PPT (Pegawai Tidak Tetap) di Muaragembong, Bekasi. Sudah sejal tahun 2009, Nurawanah melayani ibu yang hendak melahirkan di sana.

Suka dan duka dia lalui. Apalagi sebagai bidan yang bertugas di pelosok bukanlah hal yang mudah bagi wanita tinggi semampai ini.

"Paling sedih nolong lahiran pasiennya darah tinggi. Sudah jauh tempatnya, hujan, saya harus nyeberang kali dan membawa ibu itu digotong ke getek (perahu kecil) melewati sungai dan teman-teman saya tidak ada, enggak ada yang mau karena jauh," kata dia kepada merdeka.com, Minggu (8/3).

Namun dia tidak mau putus asa, bagi dia keselamatan ibu dan anak penting bagi dia. Apalagi dia sudah menempuh waktu selama satu jam untuk ke sana. Dia memutuskan untuk merujuk si ibu ke RSUD.

"Dari rumah, dia ke RSUD itu 3 jam. Saya nyari kendaraan susah saya sudah stres takut meninggal di tempat, proses merujuk pun lama. Di sana HB ibunya tinggal 6, nyaris meninggal dan sampai transfusi 20 kantong darah," kata dia berkaca-kaca.

Dia sempat lega, karena ibu tersebut bisa selamat. Tapi cobaan malah datang dari keluarga si ibu. "Keluarganya ada yang tidak mengerti. Mereka marah-marah ke saya karena saya rujuk jadi biayanya mahal. Tapi kalau yang mengerti mereka berterima kasih. Gara-gara itu saya kepikiran enggak mau jadi bidan lagi, stres," ucap dia.

Tapi menyelamatkan ibu melahirkan sepertinya sudah menjadi panggilan baginya. Dia tidak menyerah meski harus melayani pasien malam-malam dengan jarak tempuh yang menantang. "Penduduknya tinggalnya jauh-jauh harus masuk ke empang, kali, sampai hutan pesisir gitu," cerita dia.

Sudah jauh-jauh tak jarang balasan yang diterimanya tidak setimpal. "Pendapatan bidan di desa gaji pokok Rp 1,4 juta paling nolong lahiran juga ada yang utang, ada enggak bayar. Ya sudahlah. Ada yang anaknya 2 tahun elum juga bayar lahiran," tuturnya sedih.

Kini dia hanya inginkan perhatian dari pemerintah. Tidak banyak harapannya hanya status pegawai negeri untuknya. Dengan itu dia harapkan kehidupannya lebih sejahtera.

"Pengennya jangan dikontrak diangkat jadi PNS kerja jadi semangat lagi karena sudah menanggung resiko, kita banyak resiko tapi kita wallahu alam saja," katanya menutup perbincangan.

Kemarin Nurwanah bersama ratusan bidan PPT lain mengharapkan pemerintah mau mengangkat mereka menjadi PNS tahun ini. "Tema yang kami angkat selamatkan ibu melahirkan,sejahterakan bidan PTT yang banyak bekerja di pelosok," jelas Ketua Forum bidan PTT Lilik Dian Ekasari kepada merdeka.com di lokasi, Jakarta, Minggu (8/3).

Dalam perhelatan ini hadir sejumlah tokoh perempuan dan menteri dari kabinet kerja presiden Jokowi, yaitu Siti Nurbaya, Susi Pudjiastuti, Puan Maharani, Nila Moeloek, khofifah Indar Parawansa, Retno Marsudi. Sementara ibu negara Iriana Joko Widodo dikabarkan berhalangan hadir. Dalam kesempatan itu, presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri memberikan pidato singkat dengan tema 'tahun penentuan bagi perempuan Indonesia'. [ren]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini