Celoteh soal kecurangan PON, Menpora dinilai tak paham olahraga

Kamis, 22 September 2016 09:02 Reporter : Andrian Salam Wiyono
Celoteh soal kecurangan PON, Menpora dinilai tak paham olahraga Kemeriahan pon jabar. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tersindir dengan pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi melalui akun Twitter terkait pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 di Jawa Barat. Mereka merasa Imam tidak mengerti bagaimana jalannya sebuah kegiatan olahraga.

Dalam akun twitter @imam_nahrawi pada Selasa (20/9) lalu, Imam berkicau, "#PON2016 punya tagline bagus ; Berjaya di Tanah Legenda. Kejarlah kejayaan dg jalan yg benar. Jangan 'Curang di Tanah Legenda". Namun, selang beberapa saat Imam pernyataannya itu dan menyampaikan permohonan maaf melalui Twitternya.

Wakil Ketua KONI Pusat Soewarno mempertanyakan kecurangan dimaksud Imam. Pihaknya meyakini sekali tidak ada kecurangan dalam pelaksanaan PON XIX/2016.

"Kecurangan di mana? Tidak memahami, yang dimaksud kecurangan itu di mana," kata Soewarno, Kamis (22/9). Soewarno juga meyakini kecurangan dituduhkan Menpora ini hampir tidak mungkin terjadi.

Terkait pemilihan wasit, menurut dia, hal ini sama sekali tidak melibatkan kubu tuan rumah, dalam hal ini kontingen Jawa Barat. Sebab, PB PON hanya fasilitator lantaran sebagai penyelenggara.

"Wasit itu ditentukan oleh PP (pengurus pusat) cabang olahraga. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan PB PON," tegasnya.

Sebagai contoh, dia menyebut, pengadil pada cabang olahraga dansa diupayakan seadil mungkin dengan menghadirkan 13 juri sekaligus. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi subjektivitas penilaian.

"Dansa memang faktor subyektivitasnya tinggi. Tapi kami meminimalisir agar tidak ada penyimpangan. Wasit sekali memimpin 13," ucapnya.

Dia menduga, kecurangan dituduhkan Menpora muncul akibat adanya sejumlah kericuhan. "Itu bukan kecurangan, tapi sedikit kericuhan," katanya dengan nada kesal.

Adapun, lanjut dia, friksi terjadi pada sejumlah pertandingan merupakan hal biasa. "Bukan asing lagi, biasa terjadi," ucapnya.

Sehingga, dia meminta semua pihak agar memahami atmosfer yang terjadi di lapangan saat digelarnya pertandingan. "Kita harapkan semua pihak harus mengetahui suasana kebatinan di setiap pertandingan," tandasnya. [ang]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini