Cari sumbangan, pihak SDN 2 Singaraja manfaatkan siswa disabilitas

Kamis, 26 Maret 2015 19:11 Reporter : Gede Nadi Jaya
Cari sumbangan, pihak SDN 2 Singaraja manfaatkan siswa disabilitas murid sd di bali minta sumbang ke turis. ©2015 merdeka.com/gede nadi jaya

Merdeka.com - Cara unik dilakukan SDN 2 Bengkala kecamatan Kubutambahan di Buleleng, Bali dalam meraup dana sumbangan sekolah. Pihak sekolah memanfaatkan sejumlah siswa penyandang disabilitas untuk meminta sumbangan kesejumlah turis asing yang berkunjung.

Umumnya turis asing ini datang ke sekolah untuk tujuan study penelitian. Lantaran hanya di SD ini yang mampu menyatukan program belajar mengajar antara yang normal dengan siswa yang cacat fisik terutama tuli bisu.

Di sekolah ini baru ada 4 siswa bisu yang masuk program sekolah ini, dan mereka memperoleh uang saku sebagai bekal sekolah sebesar Rp 2 ribu per siswanya setiap hari dari pihak yayasan.

Namun sayang, untuk mengupayakan bekal tersebut pihak sekolah harus 'menodong' setiap tamu lokal maupun mancanegara yang datang ke SDN 2, dengan memungut sumbangan secara sukarela namun wajib, tanpa terkecuali.

"Untuk mengupayakannya, kami minta sumbangan setiap tamu yang datang ke sini secara sukarela dan wajib, untuk ngasih ke siswa kolok (disabilitas) itu," kata Kepala SDN 2 Bengkala Nyoman Wijana, Kamis (26/3) di sekolahnya.

Pernyataan ini, seakan memberikan pemahaman, bahwa keberadaan siswa penyandang disabilitas ini, dijadikan objek sekolah, untuk dapat memperoleh pendapatan. Padahal sekolah itu, sudah mendapatkan dana BOS dan Beasiswa pendidikan.

"Perhatian pemerintah sudah ada, dengan memberikan beasiswa per tahunnya yang itu keluar. Ya, di luar itu kan kami perlu dana setiap harinya untuk siswa, terpaksa langkahnya dengan meminta sumbangan itu," jelas Wijana.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng Wayan Lugraheni menilai, tindakan sekolah dengan wajib memungut sumbangan kepada setiap tamu yang datang, merupakan hal yang salah, serta dianggap tidak ikhlas menyelenggarakan pendidikan kepada siswa tersebut.

"Itu tidak boleh seperti itu, jangan sampai nanti ada penilaian sekolah malah memanfaatkan keberadaan siswa kolok di sana untuk dijadikan objek, jelas-jelas ini salah" jelasnya.

Lugraheni pun berjanji, akan segera mengecek kondisi tersebut ke lokasi, agar kejadian ini tidak sampai berlanjut, dan merugikan dunia pendidikan. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini