Bupati Anas tutup jabatan dengan berbagai event hingga 20 Oktober

Sabtu, 17 Oktober 2015 01:00 Reporter : Moch. Andriansyah
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Jelang masa akhir jabatan, Bupati Banyuwangi, Jawa Timur, Abdullah Azwar Anas menggeber sejumlah agenda besar, yaitu Banyuwangi International Run, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Festival Kebo-keboan hingga Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Kemiren. Anas yang kembali maju di Pilkada Banyuwangi, 9 Desember mendatang akan meletakkan jabatannya pada 20 Oktober 2015.

Pada hari Sabtu pagi (17/10), sekitar pukul 06.00 WIB besok, Anas akan melepas 1000 peserta Banyuwangi International Run dengan total hadiah Rp 100 juta. Kategori lari yang dilombakan adalah lomba lari 5 kilometer dan 10 kilometer.

Dikatakan Anas, Banyuwangi International Run merupakan event yang digagas pihaknya bersama Gerakan Berlari untuk Berbagi (BUB). Tahun ini, tema yang diangkat adalah Run and Enjoy the Culture.

"Tema ini menggambarkan sebuah ajakan untuk berlari dan menikmati kebudayaan sekaligus keindahan Banyuwangi. Sejumlah pelari nasional dan international dari Kenya akan berlomba dan melintasi jalanan serta menyusuri Pantai Boom yang menjadi kebanggaan warga Banyuwangi," kata Anas pada acara Gala Dinner di Pendopo Kabupaten, Jumat malam (16/10).

Di hari yang sama, acara disambung dengan event BEC 2015, yang digelar pada pukul 12.00 WIB, dengan mengambil tema: the Usingnese Royal Wedding Using. Using sendiri, atau Osing, merupakan suku asli Banyuwangi, sedangkan tradisi pengantin yang akan diparadekan adalah Sembur Kemuning, Mupus Braen Blambangan dan Sekar Kedaton Wetan.

Para 'Kemanten Using' ini akan ditampilkan dalam bentuk desain fesyen berkarakter oleh para desainer muda Banyuwangi. Setiap desain kostum yang ditampilkan oleh anak-anak muda Banyuwangi ini merupakan hasil interpretasi mereka setelah mempelajari sejarah di Bumi Blambangan.

"Inilah yang saya sebut dengan konsolidasi budaya lewat suatu event. Setiap peserta parade, otomatis dituntut membaca ulang histori tema yang akan dibawakan sebelum menerjemahkan ke kostumya. Dengan membaca kembali sejarah, mereka akan mengerti bagaimana tradisi dan budaya asli daerahnya, yang secara tak langsung akan menumbuhkan kebanggaan pada budayanya," ungkap Anas.

Setelah dua agenda ini, pada18 Oktober akan digelar Tradisi Kebo-keboan (kerbau) di Desa Aliyan, Rogojampi dan Festival Anak Yatim. Kebo-keboan (kerbau) adalah sebuah ritual masyarakat lokal. Ritual ini adalah bentuk tradisi permohonan kepada Tuhan agar sawah masyarakat subur dan panen berlangsung sukses.

Sementara Fetival Anak Yatim adalah cara Pemkab Banyuwangi menyenangkan anak yatim. Di hari itu akan diserahkan sejumlah beasiswa khusus bagi anak yatim dan mereka yang kurang mampu. Di acara yang digelar di halaman Pendopo Kabupaten Banyuwangi ini, akan disediakan pula mainan anak dan makanan gratis bagi para anak yatim dan piatu.

Di acara pamungkas, sekaligus penutup jabatan Bupati Anas, pada 20 Oktober malam, Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Kemiren, lokasi yang menjadi basis warga Osing. Di acara ini, para wisatawan bisa mencicipi kopi citarasa Banyuwangi.

Tak hanya itu, di acara Ngopi Sepuluh Ewu itu, seluruh latar rumah di Desa Kemiren akan disulap menjadi ruang tamu yang menyuguhkan kopi khas Tanah Osing dan jajanan tradisional Banyuwangi.

Menariknya, warna dari ribuan cangkir yang disuguhkan adalah seragam. Cara penyajiannya juga seragam karena diyakini bisa menghasilkan rasa kopi terbaik. Dan seperti nama acaranya: Festival Ngopi Sepuluh Ewu, jumlah cangkir yang disediakan juga sejumlah 10 ribu (sepuluh ewu). "Semuanya gratis. Ini akan jadi malam yang romantis, karena di depan tiap rumah akan dipasang obor sebagai penerangan," sambung Anas.

Acara ini juga dihadiri, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Pengusaha Nasional Sandiaga Uno, dan beberapa pelaku industri kreatif bakal ikut menyemarakkan beragam ajang di Banyuwangi itu. "Apa yang kami sajikan dalam berbagai event seperti karnaval etnik, festival kopi, international run, maupun tontonan tradisi budaya adalah untuk memperpanjang siklus destinasi agar para wisatawan makin punya beragam pilihan di Banyuwangi," pungkas A [ren]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini