Bumikan 'Bijak Bermedia Sosial' buat Lawan Hoaks dan Ujaran Kebencian

Kamis, 20 Juni 2019 15:26 Reporter : Didi Syafirdi
Bumikan 'Bijak Bermedia Sosial' buat Lawan Hoaks dan Ujaran Kebencian Berita hoax. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Pendekatan multi dimensi dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai masalah di media sosial (medsos), terutama soal hoaks, ujaran kebencian, fitnah dan lain-lain. Hal-hal ini menjadi problem fundamental yang bisa mengancam keutuhan NKRI.

"Kami meyakini bahwa untuk mengatasi problem fundamental ini tak ada cara sederhana, dibutuhkan multipronged approach," ujar Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho dalam keterangannya, Kamis (20/6).

Septiaji menilai peradaban digital telah mengubah pola masyarakat dalam mengkonsumsi informasi, namun belum disertai dengan perubahan perilaku masyarakat untuk bijak bermedia sosial. Juga budaya verifikasi informasi masih belum mengakar untuk membedakan apakah informasi itu benar atau tidak.

Masalah mendasar itu diperparah oleh fanatisme politik yang berlebihan, sehingga hoaks dan kebencian semakin menggerus rasa kemanusiaan. Ini terbukti dengan meningkatnya jumlah penyebaran hoaks dari sekitar 20-an setiap bulan pada 2015, menjadi 100 per bulan di 2019 ini.

"Polarisasi akibat fanatisme politik berpotensi mengancam persatuan bangsa. Polarisasi semakin melebar di tengah kemampuannya literasi masyarakat yang belum mencukupi. Bahkan pendidikan tinggi pun tak menjamin dirinya kebal dari informasi hoaks," jelas Septiaji.

Menurutnya, Mafindo terus berupaya melawan masalah ini dengan fokus di tiga hal. Pertama upaya cek fakta untuk mengklarifikasi isu yang berpotensi meresahkan masyarakat. Ini dilakukan di grup diskusi Facebook dan hasilnya dipublikasikan di Turnbackhoax.id dan Cekfakta.com.

Kedua, meningkatkan imunitas ketahanan informasi masyarakat, dengan terjun mengedukasi masyarakat dari berbagai kalangan. Berkolaborasi dengan lembaga dan organisasi lain, upaya ini sangat penting untuk memperkuat tingkat literasi digital masyarakat.

"Ketiga, untuk melawan polarisasi kami mendorong gerakan silaturahmi. Mempertemukan para tokoh masyarakat, tokoh agama, elite politik, tokoh pemuda, melakukan rembug warga dengan topik bijak bermedia sosial. Ini sangat penting untuk merangkul sebanyak mungkin tokoh untuk bersama menjadi agen melawan hoaks dan kedustaan," papar Septiaji.

Ketika memegang perangkat digital, lanjutnya, netizen wajib mengetahui cara membedakan informasi benar dan hoaks. Dan paham informasi mana yang masuk dalam kategori ujaran kebencian yang melanggar norma budaya dan hukum.

"Netizen perlu sering mengecek situs Antihoax seperti Turnbackhoax.id, Cekfakta.com, Stophoax.id dan kanal-kanal cekfakta pada media mainstream," pungkas Septiaji. [did]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini