BPOM: Imunogenitas Vaksin Sinovac 99 Persen Sampai Tiga bulan

Kamis, 14 Januari 2021 19:53 Reporter : Ahda Bayhaqi
BPOM: Imunogenitas Vaksin Sinovac 99 Persen Sampai Tiga bulan Hari pertama vaksinasi Covid-19 untuk tenaga kesehatan. ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito menjawab isu efikasi vaksin Covid-19 Sinovac yang dianggap rendah. Menurut Penny, sebaiknya tidak hanya dilihat dari efikasi, tetapi juga imunogenitas dari vaksin tersebut.

Penny mengatakan, berdasarkan uji klinik ketiga di Bandung, vaksin Sinovac memiliki imunogenitas yang sangat tinggi. Sampai tiga bulan mampu bertahan sampai 99 persen. Imunogenitas itu adalah kemampuan untuk memicu respons imun dalam tubuh.

"Uji klinik fase tiga di Bandung menunjukkan bahwa imunogenitas dari vaksin Sinovac itu tinggi, sangat valid meyakinkan, bahkan sampai tiga bulan masih 99 persen," jelas Penny dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, Kamis (14/1).

Jika terjadi penurunan, kata Penny, tidak begitu banyak. Misal dari 99,7 persen turun sampai 99,3 persen.

"Turunnya cuma sedikit jadi konsisten. 99 orang masih mempunyai tingkat titer antibodi di atas 4 kali, averagenya 23 kali," jelas Penny.

Meski demikian, Penny mengakui belum ada pengamatan enam bulan dalam uji klinis fase ketiga. Namun jika melihat data uji klinis fase pertama dan kedua di Cina dalam waktu enam bulan tingkat imunogenitas masih berada di angka 80 persen.

"Kalau berdasar fase satu, dua di Cina masih 80 persen, jadi masih bagus masih tinggi," kata Penny.

Dilansir dari Wikipedia, Imunogenisitas adalah kemampuan suatu substansi (seperti antigen atau epitope) dalam memicu respons imun dari tubuh manusia atau hewan lainnya. Dalam kata lain, imunogenisitas adalah kemampuan untuk memicu respons imun humoral dan/atau dimediasi sel.

Terdapat perbedaan antara imunogenisitas yang diinginkan dan tak diinginkan:

Imunogenisitas yang diinginkan biasanya dihasilkan oleh vaksin, ketika penyuntikan suatu antigen (dari vaksin) memicu respons imun terhadap patogen (virus, bakteri) untuk melindungi organisme. Pengembangan vaksin adalah proses yang rumit, dan imunogenisitas merupakan unsur utama dalam kemujaraban suatu vaksin.

Imunogenisitas yang tidak diinginkan merupakan respons imun dari suatu organisme terhadap antigen untuk terapi (seperti protein rekombinan atau antibodi monoklonal). Akibatnya, dikeluarkan antibodi anti-obat yang menghilangkan efek terapi atau malah memicu dampak negatif. [rhm]

Ingat #PesanIbu

Jangan lupa Selalu Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak Mari Bersama Cegah Penyebaran Virus Corona

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini